Luapan sungai kembali rendam persawahan, petani minta normalisasi Kali Asin

menggapaiasa.com - Hamparan hijau sawah di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, berubah menjadi lautan air dalam beberapa hari terakhir. Genangan yang tak kunjung surut itu membuat para petani diliputi kecemasan, karena tanaman padi yang baru memasuki fase awal pertumbuhan kini berada di ambang kegagalan.
Banjir merendam ratusan hektar sawah akibat luapan Kali Asin. Ketinggian air di sejumlah titik mencapai lebih dari 30 sentimeter, setara betis orang dewasa.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi padi yang baru berusia sekitar satu bulan dan belum cukup kuat untuk bertahan dalam genangan air terlalu lama.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Widasari, H Surahman, mengatakan bahwa waktu menjadi faktor penentu bagi keselamatan tanaman. Jika air tidak segera surut dalam dua hingga tiga hari, padi dipastikan akan membusuk dan mati.
“Kalau lebih dari tiga hari terendam, tanaman pasti rusak. Itu artinya petani gagal tanam dan rugi besar,” ujar Surahman saat ditemui, Jumat 2 Januari 2026.
Ia menjelaskan, tinggi tanaman padi rata-rata masih berkisar antara 20 hingga 25 sentimeter. Dengan kondisi tersebut, seluruh batang dan daun kini tertutup air. Situasi ini membuat proses fotosintesis terganggu dan meningkatkan risiko pembusukan akar. “Sekarang ini semuanya terendam. Setiap jam itu jadi penentu,” katanya.
Menurut Surahman, kenaikan debit air Kali Asin mulai dirasakan sejak Rabu, 31 Desember 2025. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Indramayu, ditambah kiriman air dari daerah hulu, menyebabkan permukaan sungai terus meningkat. Puncaknya terjadi pada Kamis siang ketika air mulai meluap ke area persawahan.
“Kamis siang air mulai masuk ke sawah. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda surut,” tuturnya.
Ia menilai, banjir yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem. Pendangkalan sungai dan buruknya sistem saluran pembuang disebut menjadi persoalan lama yang belum tertangani secara serius.
Kali Asin, yang seharusnya menjadi jalur utama pembuangan air, dinilai sudah tidak lagi mampu menampung debit besar.
“Masalahnya bukan baru sekarang. Pendangkalan sungai sudah lama. Kami dari KTNA sebenarnya sudah sering mengingatkan pentingnya normalisasi saluran pembuang,” ungkap Surahman.
Para petani, lanjut dia, kerap menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika infrastruktur pengairan tidak berfungsi optimal.
Setiap musim hujan, ancaman banjir selalu menghantui, sementara saat kemarau mereka justru kekurangan air. Kondisi ini membuat ketahanan ekonomi petani semakin rapuh.
Sejumlah petani mengaku hanya bisa pasrah menunggu air surut. Modal tanam yang telah dikeluarkan, mulai dari benih, pupuk, hingga biaya olah lahan, kini terancam hilang.
Jika gagal tanam terjadi, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menanam ulang, sementara waktu tanam ideal sudah semakin sempit.
“Kami hanya berharap air cepat turun. Kalau gagal tanam, kami harus mulai dari awal lagi. Itu berat bagi petani kecil,” kata Surahman.
Para petani pun mendesak Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk segera turun tangan. Selain penanganan darurat agar air cepat surut, mereka meminta adanya langkah konkret berupa normalisasi Kali Asin dan perbaikan saluran pembuang agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Jangan hanya penanganan sementara. Normalisasi sungai harus segera dilakukan supaya ke depan tidak selalu seperti ini,” tegasnya.
Di tengah genangan air yang masih bertahan, kegelisahan petani Widasari belum mereda. Awal tahun yang seharusnya menjadi masa harapan justru dibayangi ancaman gagal panen.
Bagi mereka, surutnya air dalam waktu dekat bukan sekadar soal alam, melainkan penentu keberlangsungan hidup keluarga petani di pedesaan.***
Komentar
Posting Komentar