Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pemanasan global

6 perubahan alam Indonesia yang terjadi dalam dua dekade terakhir

Gambar
Selama dua dekade terakhir, alam Indonesia mengalami pergeseran besar yang pelan tapi pasti mengubah wajah Nusantara. Perubahan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan terakumulasi dari aktivitas manusia, tekanan ekonomi, dan krisis iklim global. Dampaknya kini hadir di sekitar kita, memengaruhi urusan pangan, kesehatan, hingga rasa aman. Lantas, perubahan apa saja yang sebenarnya sedang terjadi? Yuk, simak satu persatu perubahan tersebut dalam poin-poin berikut! 1. Penyusutan hutan tropis yang masif Sejak awal 2000-an, luas hutan Indonesia terus berkurang dalam skala besar. Berdasarkan data Global Forest Watch, sejak 2001 sampai 2023, Indonesia sudah kehilangan sekitar 30,8 juta hektare area tutupan pohon atau hampir 20% dari totalnya karena berbagai tekanan seperti pembukaan lahan, perkebunan kelapa sawit, dan infrastruktur. Hilangnya hutan primer ini bukan angka statis—ia berkontribusi langsung pada pelepasan karbon ke atmosfer, berkurangnya habitat satwa, serta meningkatnya risiko...

Ikuti 2023-2024, 2025 juga tahun terpanas dalam sejarah

Gambar
TAHUN 2025 tercatat sebagai satu dari tiga periode 12 bulanan terpanas yang pernah terjadi di Bumi sejauh ini. Analisis para peneliti dari World Weather Attribution (WWA) yang dirilis pada Selasa, 30 Desember 2025, menyebutkan rata-rata suhu global selama tiga tahun terakhir untuk pertama kalinya melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri. Masyarakat di berbagai belahan dunia menghadapi cuaca ekstrem berbahaya akibat pemanasan global sepanjang 2025. Suhu tetap tinggi meski terjadi La Nina, fenomena pendinginan alami di Samudra Pasifik yang biasanya menurunkan suhu global. Peneliti menyoroti pembakaran bahan bakar fosil—mencakup minyak, gas, dan batu bara—yang terus melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer. “Jika kita tidak menghentikan pembakaran bahan bakar fosil, segera mungkin dalam waktu dekat, akan sangat sulit mempertahankan ambang pemanasan itu,” kata Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim dari Imperial Colleg...

Proyeksi 2026: BMKG sebut iklim Indonesia cenderung normal sepanjang tahun

Gambar
menggapaiasa.com , JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan kondisi iklim di sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang 2026 berada pada kategori normal. Proyeksi tersebut tertuang dalam dokumen Climate Outlook 2026 yang disusun dengan berbasis pada analisis fisis atmosfer serta pemodelan kecerdasan buatan ( artificial intelligence /AI). Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan hingga November 2025, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menunjukkan fenomena La Niña lemah dengan indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) sebesar -0,77. Kondisi tersebut diperkirakan bertahan hingga Maret 2026 sebelum berangsur menuju fase netral pada Maret–April dan berlanjut hingga akhir tahun. Di Samudra Hindia, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat masih berada pada fase negatif dengan indeks bulanan -0,83. Namun demikian, BMKG memprediksi IOD akan berada dalam kondisi netral sepanjang 2026. Dari sisi curah hujan, BMKG me...

BMKG prediksi iklim 2026 bersahabat, akhir La Nina lemah

Gambar
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim Indonesia pada 2026 akan lebih bersahabat dibandingkan beberapa tahun terakhir. Prediksi ini berbasis perkembangan indikator iklim global, terutama di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan Samudera Pasifik masih menjalani fase La Nina lemah dan diperkirakan berlanjut hingga awal 2026. Baik El Nino maupun La Nina selalu berakhir pada akhir kuartal pertama tahun yang berjalan. “Kami mengekspektasikan episode La Nina lemah yang saat ini berlangsung akan selesai pada akhir kuartal pertama 2026,” ujar Ardhasena dalam Climate Outlook 2026 yang disiarkan secara daring pada Selasa, 23 Desember 2025. Setelah fase tersebut berakhir, BMKG memprediksi kondisi Samudera Pasifik akan kembali ke fase netral dan bertahan hingga akhir tahun. “Pada Maret, April, Mei kondisi di Laut Pasifik atau ENSO akan beralih ke fase netral dan terus netral hingga akhir 20...

Arktik memanas! Suhu Kutub Utara naik 2 kali lebih cepat, alarm bahaya bagi Bumi

Gambar
menggapaiasa.com - Kutub Utara sedang tidak baik-baik saja. Laporan terbaru dari Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengungkap fakta bahwa Arktik baru saja melewati tahun terpanasnya sepanjang sejarah. Lebih mengkhawatirkan lagi, kecepatan pemanasan di wilayah ini jauh melampaui bagian dunia lainnya. Sejak 2006, suhu di Arktik melonjak dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan krisis nyata yang tertangkap data satelit. Arktik sebagai "Detak Jantung" Planet Laporan tahunan Arctic Report Card yang dikutip dari CBS News , Selasa (23/12) mengungkap, para ahli menyebut kawasan ini sebagai indikator vital kesehatan Bumi. Perubahan drastis di sana adalah sinyal bahwa keseimbangan iklim dunia sedang terganggu. "Mengamati Arktik berarti mengukur denyut nadi planet ini,” tulis ringkasan laporan NOAA tersebut. Pemanasan ekstrem ini mengubah segalanya, mulai dari bentang alam hingga nasib masyarakat l...

Survei Yale: Lebih dari 80% masyarakat RI cemaskan dampak perubahan iklim

Gambar
Laporan “Climate Change and Energy in the Indonesian Mind” dari Universitas Yale, Amerika Serikat (AS) memperlihatkan ada 86% masyarakat Indonesia yang meyakini perubahan iklim sedang terjadi. Sebanyak 83% di antaranya merasa cemas terhadap dampaknya, termasuk 33% yang merasa sangat cemas.  Studi tersebut dilakukan oleh Yale Program on Climate Change Communication, dengan mewawancarai 2.000 orang dewasa (18 tahun ke atas) pada 15 Juni - 17 Juli 2025 lalu.  Pada awalnya, studi menemukan 53% masyarakat Indonesia yang disurvei hanya mengetahui sedikit soal perubahan iklim. Bahkan 21% responden lainnya belum pernah mendengar sama sekali.  Usai diberikan penjelasan singkat mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap pola cuaca, lebih dari 80% responden meyakini fenomena tersebut tengah terjadi. Kecemasan ini memunculkan dukungan terhadap upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Perubahan Iklim akan Membuat Anda Semakin Miskin Pengawasan Pasar Karbon Bakal Diatur dalam RUU Perubahan ...

Kondisi gletser Thwaites memburuk, jadi ancaman perubahan iklim

Gambar
menggapaiasa.com, JAKARTA — Gletser Thwaites di Antartika Barat dijuluki Doomsday Glacier karena kehilangan 50 miliar ton es setiap tahun yang memicu ancaman kenaikan permukaan laut global. Peneliti menemukan ratusan gempa kecil di Antartika antara 2010–2023 dalam studi yang diterbitkan di Geophysical Research Letters. Sebagian besar gempa terjadi di area Gletser Thwaites yang menghadap laut. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena, Doomsday Glacier berpotensi mempercepat kenaikan permukaan laut jika runtuh. Gletser ini juga menjadi pelindung bagi Pine Island dan Haynes, sehingga kerusakannya dapat melemahkan seluruh WAIS. Kondisi Thwaites kini sangat tidak stabil karena mundur dengan cepat dan esnya terus mencair. Es Thwaites Ice Shelf yang menahan aliran es juga makin menipis akibat suhu laut yang meningkat. Jika es ini runtuh, Thwaites akan kehilangan penopang utama dan aliran es ke laut akan meningkat pesat. Dampaknya dapat menaikkan kontribusi Thwaites terhadap kenaikan pe...

PGE perkuat transformasi energi bersih dan komitmen sosial di seluruh wilayah operasi

Gambar
SEPUTAR CIBUBUR   – Genap berusia 19 tahun, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE menegaskan posisinya sebagai motor penggerak transisi energi bersih dan penguat ekosistem panas bumi nasional. Dengan tema “Empowering The Green Acceleration”, PGE berkomitmen penuh pada inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan komunitas lokal. Langkah ini adalah bagian dari visi besar PGE: menyambut satu abad pengembangan panas bumi Indonesia di tahun 2026 dengan kontribusi yang lebih besar dan berdampak. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Edwil Suzandi dengan tegas menyatakan, PGE tidak hanya mencapai target operasional, tetapi menciptakan target baru dengan ambisi Beyond Electricity.  “Kami memimpin transformasi energi, memastikan panas bumi berekspansi dan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat. Peluncuran Groundbreaking Pilot Project Green Hydrogen di Ulubelu September lalu adalah bukti nyata bahwa kami mendobrak batas pemanfaatan panas bumi. Menatap ...

Dorong Kolaborasi dan Aksi Nyata Menuju Transisi Hijau Indonesia

Gambar
menggapaiasa.com Triple Planetary Crisis: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, menjadi tantangan global yang mendesak. Pemerintah di seluruh dunia semakin memperketat regulasi lingkungan untuk mendorong transisi hijau dan dekarbonisasi. Indonesia pun terus memperkuat komitmennya menurunkan intensitas emisi GRK hingga 93,5% sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan target Net Zero Emission pada 2060. Sebagai mitra pembangunan nasional, SCG menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya transisi hijau Indonesia melalui ESG Symposium 2025 Indonesia, yang digelar 2 Desember 2025 di Jakarta. Mengusung tema “Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow”, simposium ini menjadi ruang kolaboratif bagi pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga komunitas untuk mempercepat green growth, dekarbonisasi, dan ekonomi sirkular. “Perjalanan Indonesia menuju Net Zero 2060 membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Hal ini mem...

Industri Keju Dunia Menghadapi Tekanan Iklim, Namun Inovasi dan Pasar Global Tetap Melaju

Gambar
menggapaiasa.com - Industri keju global saat ini menghadapi situasi yang penuh kontras. Ketika banyak negara mengalami penurunan produksi susu akibat cuaca ekstrem, di saat yang sama permintaan dan inovasi dalam sektor keju justru menunjukkan perkembangan yang cukup kuat. Kondisi ini membuat masa depan industri keju bergerak dalam dua arah yaitu yang tantangan berat dan peluang besar. Dalam laporan yang disampaikan Food & Wine , gelombang panas yang melanda sejumlah negara terbukti berdampak langsung pada hasil produksi susu. Penelitian terhadap lebih dari 130.000 sapi di Israel menunjukkan bahwa hanya satu hari panas ekstrem saja mampu menurunkan produksi susu sekitar 10%. Dampaknya tidak berhenti di situ, penurunan ini bisa berlangsung selama beberapa hari, sehingga mengganggu pasokan bahan dasar pembuatan keju. Situasi serupa juga terlihat di Italia, di mana produksi susu tercatat turun hingga lebih dari 17% selama beberapa musim panas terakhir. Meski tekanan iklim semakin nya...

COP 30: 5 alasan konferensi iklim PBB gagal menepati janji sebagai ‘COP rakyat’

Gambar
Bersamaan dengan terbenamnya matahari di langit Amazon, janji akan hadirnya “COP rakyat” ikut tenggelam. Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim ke-30 atau COP 30, yang baru-baru ini diselenggarakan di kota Belém, Brasil, menghadirkan dinamika geopolitik seperti biasa. Namun, kali ini ada tambahan kejutan peristiwa banjir dan kebakaran. Di konferensi ini, ada ruang bagi aksi protes masyarakat adat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski begitu, negosiasi final, sekali lagi, tetap dikuasai kepentingan industri fosil dan taktik penundaan. Setelah sepuluh tahun (tak) ada aksi nyata sejak Paris agreement , Brasil menjanjikan COP 30 sebagai “COP implementasi”. Namun, hasilnya jauh dari itu, bahkan saat dunia mencatat pemanasan global hingga 1,6˚C tahun lalu. Berikut lima pengamatan utama kami dalam COP tahun ini: 1. Kelompok masyarakat adat hadir, tetapi tidak dilibatkan Karena berlangsung di wilayah Amazon, COP 30 dipromosikan sebagai konfe...

Indonesia Tegaskan Komitmen Iklim di COP30, Kelompok Masyarakat Sipil Titip Sejumlah Catatan

Gambar
menggapaiasa.com , BERLIN - Indonesia kembali menegaskan komitmen terhadap aksi iklim global pada Conference of Parties ke-30 (COP30) yang berlangsung di Belem hingga 21 November 2025. Pemerintah menyatakan kesiapannya mempercepat transisi energi dan mencapai target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.  Dalam pidatonya di Leader Summit COP30, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim Hashim Djojohadikusumo menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap Perjanjian Paris.  Pemerintah menargetkan penurunan emisi hingga 1,2 gigaton CO?e pada skenario rendah atau 1,5 gigaton CO?e pada skenario tinggi pada 2035, sebagaimana tertuang dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC). “Tidak ada yang boleh tertinggal dalam transformasi menuju masa depan hijau. Aksi iklim harus adil, inklusif, dan berpusat pada manusia,” kata Hashim, dalam Indonesiacop.id. Dia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto telah mengalokasikan 1,4 juta hektare hutan adat bagi masyara...

Perbandingan Dampak Kenaikan Suhu 1,5 dan 2 Derajat Celcius

Gambar
PENELITI Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI), Riko Wahyudi, mengatakan perbedaan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat dan 2 derajat Celsius dapat membawa konsekuensi besar terhadap ekosistem Bumi. Berdasarkan kajian para ilmuwan dan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), dampak pemanasan 2 derajat Celsius jauh lebih parah bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia. “Para ilmuwan sudah coba melakukan analisis bagaimana dampaknya bila kenaikan suhu itu 1,5 dan bagaimana ketika suhu itu 2 derajat Celcius,” kata Riko dalam diskusi yang digelar secara daring oleh JustCOP, Jumat, 7 November 2025. Ia menjelaskan berbagai studi menunjukkan peningkatan suhu global sebesar 2 derajat Celcius akan mengancam kelangsungan hidup banyak spesies di Bumi. “Bahkan kalau kenaikan suhu 2 derajat Celsius, dampaknya 8 persen spesies di Bumi ini punah. Mungkin ada beberapa spesies yang mungkin kita waktu kecil masih bisa melihatnya, nanti kalau k...

Desakan Ilmuwan ke Pemimpin Negara di COP30: Stop Ekspansi Biofuel

Gambar
MENJELANG babak utama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim COP30 pada 10-21 November 2025, lebih dari 100 anggota komunitas ilmiah global mendesak para pemimpin dunia membatasi ekspansi biofuel . Mereka yang menandatangani surat desakan tersebut datang dari Union of Concerned Scientists dan World Resources Institute. Surat ini muncul ketika Brasil sedang menggalang dukungan dari para pemimpin untuk melipatgandakan penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Janji yang diminta termasuk untuk menggandakan konsumsi biofuel sebagai komponen utama respons internasional terhadap krisis iklim. Belakangan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa biofuel yang diklaim ramah iklim, justru menghasilkan rata-rata 16 persen emisi lebih banyak dibanding bahan bakar fosil yang digantikannya. Bila diperbanyak, produksi biofuel diprediksi meningkatkan emisi gas rumah kaca global bersih hampir 34 MtCOe per tahun, setara penambahan 30 juta mobil diesel baru di jalan. Surat tersebut juga memperingatkan dampak...

Kenapa Tanaman Kopi dan Coklat Kian Terancam Perubahan Iklim?

Gambar
KAJIAN peneliti dari Colorado State University mengungkapkan besarnya ancaman perubahan iklim terhadap tanaman kopi , coklat, dan anggur. Teori soal pengaruh kenaikan suhu global dan peubahan pola curah hujan terhadap kondisi panen tanaman itu didapat dari penelitian di Eropa Barat, Amerika Selatan bagian utara, serta Afrika Barat. Mengutip ulasan Earth pada Kamis, 6 November 2025, para ilmuwan menggunakan model iklim besar dan metrik kesesuaian tanaman untuk memperkirakan kondisi pada 2036 dan 2045. Dalam studi tersebut, tanaman-tanaman itu dinyatakan mungkin tidak bisa selamat, sekalipun ada ide baru untuk mengurangi laju pemanasan global. Metode pendinginan yang diusulkan saat ini tidak dapat diandalkan untuk melindungi tanaman perkebunan tersebut. Studi yang dipimpin oleh Ariel L. Morrison dari Colorado State University berpusat pada variabilitas iklim dan risikonya bagi pertanian. Tim peneliti menguji metode injeksi aerosol stratosfer, yang melibatkan penyebaran partikel reflekt...

COP30 Dimulai, Ini Desakan Lembaga Sipil Soal Arah Pendanaan Iklim

Gambar
DARI kacamatan Greenpeace Indonesia, pemerintah masih harus melakukan beberapa perubahan mendasar agar masyarakat adat dan kelompok rentan ikut merasakan manfaat dari pendanaan iklim yang berkeadilan. Country Director Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menilai salah satu langkahnya adalah menghentikan industri ekstraktif dan deforestasi terencana. Leonard mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dalam Leaders’ Summit Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP30 di Belém, Brasil, 6–7 November 2025. “Ini bukan sekadar tentang suhu. Ini tentang kelangsungan hidup manusia, hutan dan masa depan,” kata Leonard, mengulangi ucapan Gutteres. Dalam forum itu, Guterres mengakui kegagalan negara-negara dunia menjaga komitmen pembatasan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius, serta menyerukan perubahan paradigma untuk menahan laju pemanasan Bumi. Dia juga mendesak negara maju memenuhi komitmen pendanaan iklim sebesar US$300 miliar per t...

RI Pimpin Aksi Iklim Global di COP30, Menteri LH Hanif Bawa Bukti Konkret Atasi Krisis Iklim

Gambar
menggapaiasa.com – Indonesia mengambil panggung utama dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) dengan menegaskan posisinya sebagai pemimpin aksi iklim global. Pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), hadir dengan membawa serangkaian bukti konkret yang menunjukkan komitmen serius dalam mengatasi krisis iklim. Dalam forum yang dijuluki “COP of Truth” ini, Indonesia tidak lagi berfokus pada janji, melainkan pada hasil yang telah dicapai. Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan momentum ini digunakan untuk membuktikan bahwa pembangunan hijau tidak hanya sebuah keharusan, tetapi juga sebuah keuntungan. “COP30 menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pembangunan hijau tidak hanya mungkin, tetapi juga menguntungkan. Indonesia membangun kepemimpinan dari aksi nyata, bukan sekadar janji,” ujar Menteri Hanif di Belém, Brasil. Di antara capaian yang dibanggakan adalah penurunan angka deforestasi hingga 75 pers...

Hashim: Indonesia Tegaskan Komitmen Aksi Iklim di COP30

Gambar
Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat aksi iklim dalam Leaders Summit di KTT Iklim COP30 di Belem, Brasil. "Indonesia datang ke Belem dengan pesan yang jelas: inisiatif yang kuat untuk meningkatkan komitmen iklim nasional kami dan kesiapan untuk bekerja sama dengan negara-negara demi aksi iklim yang nyata, inklusif, dan ambisius," ujar Hashim di Belem, Brasil, pada Kamis (6/11), seperti dikutip Antara . Hashim memimpin delegasi Indonesia di Leaders Summit yang mengawali rangkaian agenda COP30. "Sebagai Utusan Khusus Indonesia untuk Bidang Iklim dan Energi, saya mewakili Presiden Prabowo Subianto, yang tidak bisa hadir dalam konferensi yang terhormat ini," kata Hashim. Hashim mengatakan Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, seperti disampaikannya dalam Sidan...

Di COP30, Sekjen PBB Soroti Kegagalan Dunia Capai Batas 1,5 Derajat Celcius

Gambar
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyoroti kegagalan dunia dalam memastikan target pembatasan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celcius. Dalam pidatonya pada sesi pleno KTT Iklim COP30 di Belém, Brasil, Guterres menyebut kondisi ini sebagai kegagalan moral dan kelalaian yang mematikan. “Kenyataan pahitnya adalah kita telah gagal memastikan agar kenaikan suhu Bumi tetap di bawah 1,5 derajat Celcius,” ujar Guterres dalam pidatonya, Kamis (6/11). Ia menegaskan ilmu pengetahuan kini menunjukkan kenaikan suhu Bumi yang melampaui batas 1,5 derajat Celcius, meski bersifat sementara, tidak dapat dihindari dan akan mulai terjadi paling lambat pada awal 2030-an. Menurutnya, dunia membutuhkan perubahan paradigma untuk membatasi seberapa besar dan seberapa lama kenaikan suhu itu terjadi.  53 Negara Dukung Inisiatif TFFF di COP30, Beri Komitmen US$ 5,5 Miliar Brasil Sewa Kapal Pesiar untuk Tambah Akomodasi Delegasi COP30 di Kota Belem Tantangan Perundingan...

UNEP: Dunia Akan Lampaui Batas 1,5 Derajat dalam Satu Dekade

Gambar
PROGRAM Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan bahwa Bumi akan melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam sepuluh tahun ke depan. Temuan itu disampaikan dalam laporan Emissions Gap 2025 yang dirilis Selasa, 4 November, hanya beberapa hari sebelum KTT iklim COP30 dimulai di Brasil. Laporan tersebut menunjukkan bahwa suhu rata-rata global akan melampaui 1,5 derajat Celsius sebelum 2035. Untuk tetap berada di bawah ambang batas tersebut, dunia harus memangkas emisi gas rumah kaca tahunan sebesar 55 persen dari tingkat tahun 2019 pada 2035. Namun, UNEP menilai peluang untuk mencapai target itu sangat kecil mengingat aksi mitigasi yang masih jauh dari cukup. “Melihat besarnya pengurangan yang dibutuhkan, waktu yang sangat singkat untuk mewujudkannya, dan kondisi politik yang menantang, kenaikan suhu yang melebihi 1,5 derajat Celsius akan terjadi, sangat mungkin dalam dekade mendatang,” tulis perwakilan UNEP dalam lapora...