Setahun pernikahan: Seni berjalan di atas jungkat-jungkit kehidupan - MENGGAPAI ASA

Setahun pernikahan: Seni berjalan di atas jungkat-jungkit kehidupan

Setahun sudah biduk rumah tangga ini berlayar. Jika ditanya bagaimana rasanya, jawabannya sederhana namun mendalam: senang. 

Namun, di balik rasa senang itu, ada bentang perjalanan yang penuh dengan lika-liku. Saya sering merenung, ternyata hidup setelah menikah itu tak ubahnya sebuah jungkat-jungkit. Ada kalanya kita berada di atas menikmati tawa, dan ada kalanya kita berada di bawah memikul beban yang cukup berat. Namun di situlah letak seninya.

Perihal Satu Tahun Pernikahan

Dalam sebuah percakapan hangat dengan nyonya (istri), kami mencoba menoleh sejenak ke belakang. Satu tahun ini bukan hanya soal dekorasi pelaminan yang indah atau ucapan selamat dari kerabat. 

Satu tahun ini adalah tentang perjuangan nyata. Kami memulai semuanya dengan ujian yang cukup klasik namun krusial: ekonomi. Ya, ekonomi kami benar-benar diuji sejak awal hingga detik ini. 

Sebagai pasangan yang baru meniti jalan bersama, badai finansial adalah tamu yang sering datang tanpa diundang. Namun, anehnya, di tengah keterbatasan itu, kebahagiaan yang hadir justru terasa lebih luar biasa.

Momen Yang Begitu Mahal Harganya

Momen yang paling membekas dalam ingatan adalah saat kami berjuang melewati masa kehamilan. Itu adalah fase yang ajaib sekaligus menantang. 

Nyonya dengan ketangguhannya melewati hari-hari mengandung hingga proses persalinan yang luar biasa. Hebatnya, di tengah perut yang kian membesar dan ujian ekonomi yang membayangi, kami tetap memilih untuk menciptakan memori. Melakukan perjalanan ke luar kota, mencari celah untuk tetap tersenyum di tengah himpitan keadaan.

Puncaknya adalah sebuah perjalanan monumental yang tak akan pernah dilupakan oleh "Nyonya". Perjalanan dari Jombang ke Yogyakarta adalah momen berharga kala itu usia kehamilan baru beranjak 5 bulan. 

Gilanya lagi, saat buah hati kami baru menginjak usia satu bulan, kami sudah menempuh perjalanan jauh lintas pulau: Jawa ke Kalimantan, lalu disambung. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol bahwa kehadiran sang anak adalah energi baru, bukan penghalang untuk terus bergerak. Momen-momen di jalanan itulah yang menjadi monumen pengingat betapa kuatnya ikatan kami.

Ujian Fitnah itu pun Menyapa

Namun, dunia tidak hanya memberikan ujian berupa materi. Kami pun sempat diterpa angin kencang bernama fitnah. Ujian sosial seperti ini seringkali lebih tajam daripada kekurangan uang. 

Namun lagi-lagi, kami diingatkan untuk selalu kembali pada rasa syukur. Kami melihat ke arah apa yang kami miliki: sebuah kendaraan dapat mempermudah langkah kami, dan paling utama, seorang anak yang kehadirannya adalah anugerah "Masya Allah".

Lantas, apa pelajaran terbesar dari setahun perjalanan ini? Saya menyadari satu hal yang fundamental tentang hakikat manusia. Ternyata, manusia itu diciptakan dengan ketangguhan yang luar biasa. 

Apa pun bentuk ujiannya: baik itu ekonomi, kesehatan, maupun fitnah---manusia sebenarnya memiliki kapasitas untuk bertahan dan tetap kuat.

Pilihannya: Nyerah atau Terus Berjalan

Masalahnya seringkali bukan pada mampu atau tidak mampu, melainkan pada pilihan. Seringkali kita sendiri yang memilih untuk menyerah saat beban terasa berat, atau kita memilih untuk tetap tegak dan terus berjalan. Bersyukurnya, dalam setahun ini, kami memilih opsi kedua: bersama menentukan untuk terus berjalan.

Catatan diary ini kami bagikan bukan untuk memamerkan kebahagiaan, melainkan sebagai pengingat mungkin bagi siapa pun yang sedang berjuang di tahun-tahun awal pernikahan. Bahwa setahun pernikahan adalah hadiah terbaik yang harus disyukuri dengan penuh kesadaran. 

Mari menjalaninya dengan penuh harapan, karena di atas jungkat-jungkit ini, keseimbangan hanya bisa terjaga jika kita terus bergerak bersama. Salam hangat dari kami untuk semua pejuang keluarga.

Posting Komentar untuk "Setahun pernikahan: Seni berjalan di atas jungkat-jungkit kehidupan"