Setahun berlalu, kebiasaan itu kemana? - MENGGAPAI ASA

Setahun berlalu, kebiasaan itu kemana?

Setahun lalu, saya termasuk orang yang percaya bahwa hidup bisa berubah lewat langkah-langkah kecil. Tidak perlu revolusi besar, cukup kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten. Istilahnya keren, atomic habits.

Waktu itu, semuanya terdengar masuk akal. Bangun lebih pagi 15 menit. Membaca lima halaman buku sebelum tidur. Menulis jurnal singkat untuk merapikan isi kepala. Tidak berat, tidak ribet, dan terasa sangat mungkin dijalani.

Namun hari ini, hampir setahun kemudian, saya mendapati diri saya bertanya dengan jujur, kebiasaan-kebiasaan itu masih jalan, atau justru berhenti diam-diam di tengah rutinitas?

Refleksi setahun menjalani atomic habits: ada kebiasaan yang bertahan, ada yang gugur. Bukan soal sempurna, tapi berani jujur dan mulai lagi. - Tiyarman Gulo

Fase Awal

Di awal perjalanan, atomic habits terasa seperti sahabat baru. Setiap pagi bangun lebih awal memberi rasa menang kecil. Setiap halaman buku yang dibaca menumbuhkan perasaan produktif. Checklist harian yang tercentang memberi kepuasan sederhana.

Saya merasa sedang menjadi versi diri yang lebih baik. Ada harapan bahwa jika ini terus dijaga, hidup perlahan akan berubah arah. Motivasi saat itu bukan masalah. Justru rasanya rugi kalau melewatkan satu hari tanpa melakukan kebiasaan tersebut.

Masalahnya, hidup tidak pernah berhenti di fase ideal. Pekerjaan datang silih berganti. Tanggung jawab bertambah. Hari-hari tidak selalu ramah.

Bangun pagi mulai terasa berat setelah beberapa malam tidur larut. Buku yang dulu rajin dibaca perlahan berpindah tempat, lalu berdebu. Jurnal yang sempat rutin terisi, mulai kosong berminggu-minggu.

Awalnya saya menyepelekan satu hari bolong. Lalu dua hari. Lalu seminggu. Sampai akhirnya saya sadar, kebiasaan kecil itu tidak benar-benar hilang, ia hanya kalah suara oleh rutinitas.

Kebiasaan yang Bertahan

Menariknya, tidak semua atomic habits benar-benar gugur. Ada yang bertahan, meski bentuknya berubah. Membaca buku tidak lagi setiap malam, tapi masih sesekali dilakukan saat akhir pekan. Menulis jurnal tidak rutin, tapi tetap menjadi tempat pelarian saat kepala terasa penuh.

Kebiasaan-kebiasaan ini tidak seindah rencana awal. Namun justru di situlah saya belajar bahwa konsistensi tidak selalu tentang disiplin kaku, melainkan kemampuan beradaptasi.

Ada juga kebiasaan yang benar-benar berhenti. Bukan karena malas semata, tetapi karena tidak cocok dengan fase hidup saat ini. Target terlalu ambisius, waktu tidak realistis, atau sekadar bukan prioritas lagi.

Dulu, kegagalan seperti ini terasa menyebalkan. Sekarang, saya mencoba melihatnya dengan lebih dewasa. Tidak semua kebiasaan harus dipertahankan selamanya. Ada yang memang hanya singgah untuk memberi pelajaran.

Konsistensi Bukan Soal Sempurna

Setahun mencoba atomic habits mengajarkan saya satu hal penting, konsistensi bukan soal tidak pernah gagal, melainkan soal berani kembali mencoba.

Kita sering terlalu keras pada diri sendiri. Merasa gagal hanya karena tidak mampu menjaga kebiasaan setiap hari. Padahal, hidup bukan kompetisi siapa paling rapi menjalankan rutinitas.

Perubahan dari kebiasaan kecil sering kali tidak spektakuler. Tidak langsung mengubah hidup. Dampaknya halus, pikiran lebih tenang, tubuh sedikit lebih sadar, keputusan terasa lebih pelan tapi matang.

Hari ini, saya tidak lagi memaksakan diri untuk sempurna. Jika kebiasaan itu berhenti, saya tidak menunggu momen besar untuk memulainya lagi. Tidak harus awal tahun. Tidak harus hari Senin.

Kadang cukup satu langkah kecil, membaca satu halaman, menulis satu paragraf, atau bangun lima menit lebih awal. Atomic habits, pada akhirnya, bukan tentang menjadi manusia baru, tetapi tentang berdamai dengan proses menjadi manusia.

Jadi, Jalan Tidak?

Jika hari ini saya ditanya, menagih setahun atomic habits, jalan tidak? Jawabannya bukan hitam putih.

Ada yang jalan, ada yang tersendat, ada yang berhenti. Namun selama masih ada kesadaran untuk kembali mencoba, mungkin itu sudah lebih dari cukup.

Bagaimana dengan Anda? Kebiasaan apa yang masih bertahan hingga hari ini? Kebiasaan mana yang gugur di tengah jalan, dan apa pelajaran terpenting yang Anda dapatkan?.(*)

Posting Komentar untuk "Setahun berlalu, kebiasaan itu kemana?"