Mengenal 5 tradisi budaya Emirat sebelum ke Dubai

DI tengah gemerlap gedung pencakar langit dan kemajuan modern, Dubai terus mempertahankan kekayaan budaya Emirat yang menjadi warisan berabad-abad. Sebagai gerbang utama budaya Uni Emirat Arab, tidak hanya berbagai situs sejarah dan pengalaman budaya yang menarik bagi wisatawan tapi juga tradisi dan budaya emirat.
Dilansir dari keterangan tertulis Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai (DET), semakin banyak wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan yang mendalam, tidak hanya sekadar melihat atraksi ikonik. Bagi wisatawan yang ingin bepergian ke Dubai, berikut ini lima tradisi Emirat yang wajib diketahui agar dapat terhubung secara autentik dengan budaya setempat.
1. Gahwa (Kopi Arab)
Sambutan pertama dalam budaya Emirat sering kali dimulai dengan secangkir gahwa, kopi Arab yang disajikan bersama kurma. Tuan rumah menuangkan kopi hanya setengah cangkir kecil (finjan) dan langsung mengisi ulang setelah habis. Gestur ini mencerminkan perhatian dan penghormatan terhadap tamu. Etika penyajiannya pun unik, tamu cukup menggoyangkan finjan kosong sebagai tanda cukup, tanpa perlu meminta tambahan. Tradisi ini telah bertahan berabad-abad, menjadikan secangkir kopi sederhana sebagai ungkapan kehangatan dan kemurahan hati masyarakat Emirat.
2. Sapaan Hidung-ke-Hidung (Khishum)
Selain berjabat tangan yang umum, pria Emirat secara tradisional menyapa satu sama lain dengan menyentuhkan hidung, dikenal sebagai khishum. Kebiasaan ini melambangkan rasa saling percaya, kehormatan, dan kekeluargaan, terutama pada acara penting atau perayaan. Bagi wisatawan, gestur ini mungkin terlihat asing, namun dengan cara ini menjadi pengingat bahwa hubungan sosial di Emirat dibangun atas dasar rasa hormat dan kedekatan yang kuat.
3. Keramahan Tanpa Batas dan Majlis
Keramahan merupakan nilai inti yang diwariskan turun-temurun di masyarakat Emirat. Diundang ke majlis ruang pertemuan tradisional dianggap kehormatan besar, mencerminkan kepercayaan dan keterbukaan. Untuk pengalaman langsung, wisatawan dapat mengunjungi Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum Centre for Cultural Understanding (SMCCU) di Dubai, yang menyelenggarakan sesi budaya dengan moto “Open Doors, Open Minds”. Di sana, dialog terbuka tentang tradisi, keyakinan, dan kehidupan sehari-hari disambut dengan hangat.
4. Abaya dan Kandura
Pakaian nasional Emirat melambangkan kesopanan, warisan, dan kebanggaan. Pria mengenakan kandura pakaian panjang berwarna putih sementara wanita memakai abaya disertai shayla (kerudung). Meski wisatawan tidak wajib mengenakannya, memahami maknanya memberikan apresiasi lebih dalam terhadap identitas Emirat. Menariknya, selama musim panas, wanita sering memilih abaya berwarna terang agar tidak menyerap panas, menunjukkan adaptasi praktis dalam tradisi budaya.
5. Wewangian dan Bakhoor
Wewangian bukan sekadar aksesori, melainkan bagian penting dari keramahan Emirat. Tamu sering disambut dengan bakhoor serpihan kayu aromatik yang dibakar di rumah atau pertemuan bisnis. Ritual ini menyampaikan pesan penghormatan, dan aroma yang tertinggal menjadi pengingat kedermawanan tuan rumah. Tradisi ini menggarisbawahi nilai menyambut orang lain dengan tulus dan penuh perhatian.
Dengan menghormati tradisi-tradisi ini, wisatawan dapat menikmati Dubai tidak hanya sebagai destinasi mewah, tetapi juga sebagai tempat yang kaya akan nilai budaya autentik. Dari secangkir gahwa hangat hingga aroma bakhoor, pengalaman ini membangun koneksi mendalam dengan masyarakat lokal.
Posting Komentar untuk "Mengenal 5 tradisi budaya Emirat sebelum ke Dubai"
Posting Komentar