Kosakata Bahasa Gorontalo mulai tersisih, ini pengakuan anak muda dan orang tua - MENGGAPAI ASA

Kosakata Bahasa Gorontalo mulai tersisih, ini pengakuan anak muda dan orang tua

Kosakata Bahasa Gorontalo mulai tersisih, ini pengakuan anak muda dan orang tua
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah generasi muda Gorontalo mengaku jarang menggunakan bahasa daerah di tempat umum
  • Beberapa istilah dalam bahasa Gorontalo bahkan sudah mulai tidak terdengar
  • Menurut warga, konten kreator asal Gorontalo paling banyak memakai istilah bahasa gaul ketimbang bahasa daerah
 

menggapaiasa.com– Sejumlah anak muda mengakui jarang menggunakan kosakata bahasa Gorontalo di tempat umum.

Di tengah arus digitalisasi serta dominasi bahasa Indonesia dan bahasa gaul, sejumlah kosakata Gorontalo yang dahulu akrab dalam percakapan sehari-hari kini nyaris tak lagi digunakan.

Sejumlah anak muda mengaku malu berbahasa daerah Gorontalo di tempat umum.

“Sekarang kalau kami anak muda bicara, kebanyakan pakai bahasa Indonesia atau campur-campur,” ungkap Anti Hulathali, warga Bone Bolango, saat ditemui  yang ditemui menggapaiasa.comdi kawasan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabtu (20/12/2025).

Anti menambahkan, dirinya hanya menggunakan bahasa Gorontalo ketika berbincang dengan orang tua, namun tidak lagi saat berinteraksi dengan sesama anak muda.

“Ada sedikit gengsi, apalagi teman saya kadang mengejek. Tidak tahu apakah ini pengaruh zaman,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku sering menegur adiknya yang lancar berbahasa Gorontalo ketika berbicara di tempat umum.

“Adik saya itu lancar bahasa Gorontalo. Kadang di mall dia sering berbahasa Gorontalo, dan karena banyak orang melihat, saya langsung menegurnya,” beber Anti.

Sementara itu, Rasya Ramadan, menyebut banyak kosakata Gorontalo yang ia pahami artinya, tetapi sulit diucapkan.

“Kadang artinya saya tahu, tapi kalau mengucapkan cukup sulit,” tegasnya.

Rasya menambahkan, orang tuanya tidak pernah melarang penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa gaul di rumah. Hal ini membuatnya semakin jarang menggunakan bahasa daerah.

“Tidak ada larangan dari keluarga, jadi sekarang saya sudah tidak fasih lagi,” katanya.

Beberapa kata dalam bahasa Gorontalo kini semakin jarang terdengar, di antaranya:

Oduolo: terima kasih

Mohile turungi: minta tolong/tolong saya

Hulondalo: orang Gorontalo

Batanga: tubuh atau badan

Kosakata tersebut kini lebih sering digantikan dengan padanan bahasa Indonesia.

Pengaruh Media Sosial

Sion Guu, warga Gorontalo, menilai media sosial dan tontonan digital turut mempercepat pergeseran bahasa daerah.

“Rata-rata konten kreator menggunakan bahasa gaul, padahal mereka orang Gorontalo,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah sekolah dan komunitas budaya di Gorontalo mulai berupaya menghidupkan kembali bahasa daerah melalui kegiatan ekstrakurikuler, diskusi budaya, hingga konten edukasi di media sosial.

Kabupaten Bone Bolango bahkan telah memasukkan mata pelajaran bahasa Gorontalo ke dalam kurikulum sekolah.

Contoh Kosakata Sehari-hari

Berikut beberapa kosakata bahasa Gorontalo yang biasa digunakan dalam percakapan:

Pronomina & Ungkapan

Yi’o / Tiyo (kamu)

Wa’u / Watiya (saya)

Timongoliyo (mereka)

Tita (siapa)

Toutonu (di mana)

Mona’o toutonu (pergi ke mana)

Diya mota (pergi ke sana, basa-basi bertemu di jalan)

Jamongola (tidak apa-apa)

Lona’o de’u tonu (ada pergi ke mana)

Diya’a tiyo (tidak ada dia)

Tempat

Patali (pasar)

Bele (rumah)

Tihi (masjid)

Pangimba (kebun/sawah)

Sikolah (sekolah)

Selain istilah-istilah di atas, masih banyak lagi kosakata yang sangat jarang digunakan anak muda dalam percakapan sehari-hari. Namun, hal ini perlu penelitian lebih dalam untuk mengetahui sejauh mana bahasa Gorontalo tersisih di era sekarang.

 

(menggapaiasa.com/Jefry Potabuga)

Posting Komentar untuk "Kosakata Bahasa Gorontalo mulai tersisih, ini pengakuan anak muda dan orang tua"