Cek fakta: Benarkah sawit tergolong pohon? - MENGGAPAI ASA

Cek fakta: Benarkah sawit tergolong pohon?

Video pernyataan Prabowo soal sawit kembali viral pascabanjir Sumatra. Apakah sawit bisa gantikan fungsi hutan?

Ucapan Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut terhadap ancaman deforestasi akibat perkebunan sawit kembali viral di media sosialpascabanjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Desember ini. Benarkah sawit tergolong pohon dan bisa menggantikan fungsi hutan?

Dalam video tersebut Prabowo berkata “namanya kelapa sawit, ya pohon. Ada daunnya.” Pada momen yang sama, dia juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu takut terhadap deforestasi yang diakibatkan penanaman kelapa sawit. “Saya kira kedepannya kita harus tambah menanam kelapa sawit,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada 30 Desember 2024 lalu.

Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri kebenaran klaim Prabowo tersebut.

Klaim: “Namanya kelapa sawit, ya pohon. Ada daunnya.”

Cek Fakta DW: Benar, sawit adalah pohon.

Karakteristik sawit

Perdebatan mengenai klasifikasi kelapa sawit sebagai pohon masih bergulir di kalangan akademisi dan peneliti keanekaragaman hayati. Dalam wawancara dengan DW Indonesia, Joko Witono Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan evolusi BRIN mengungkap bahwa kelapa sawit bisa disebut sebagai pohon.

Namun, kelapa sawit memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari jenis pohon lain yang mampu menyerap air. “Sawit termasuk jenis tumbuhan yang rakus air. Dia banyak sekali menyerap air,” kata Joko Witono.

Di samping itu, sawit akan jadi lebih berbahaya bagi lingkungan sekitar bila ditanam di sekitar daerah aliran sungai. “Ketika akar dari sawit sudah maksimal menangkap air, kondisi tanah sudah jenuh, maka air akan terlimpas.

Sehingga bahaya bila sawit ditanam di daerah aliran sungai,” tutur Joko. Dia menyatakan bencana yang kini terjadi di Sumatera Utara dan Aceh juga diakibatkan oleh masifnya penanaman sawit yang tidak mempertimbangkan kawasan lahan tanam dengan sungguh-sungguh.

Ekspansi sawit signifikan

Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut bahwa sejak 2015-2024 ada sekitar 2.689 hektar lahan yang dideforestasi menjadi lahan sawit di kawasan Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. “Dalam lima tahun terakhir bencana hidrometeorologi di kawasan tersebut meningkat drastis,” papar Uli Artha Siagian, Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Eksekutif Nasional WALHI. “Ada perubahan bentang hutan menjadi perkebunan sawit yang cukup masif di tiga provinsi tersebut,” lanjutnya.

Temuan WALHI juga menyebut bahwa di Batang Toru, Sumatera Utara, ada lima perusahaan sawit yang beroperasi. Ketika musim kemarau, lahan di sekitar perkebunan sawit akan dilanda kekeringan. Bila musim hujan datang, sawit tidak mampu menyerap air. “Nah itu yang kemudian menyebabkan banjir di beberapa wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” jelasnya.

Uli juga menyatakan bahwa tidak ada biodiversitas yang bisa tumbuh di sekitar tanaman sawit. “Yang bisa hidup hanya ular,” tuturnya. Hal ini lantas menjadi pembeda yang sangat signifikan antara kebun sawit dan hutan. “Di ekosistem hutan ada berbagai jenis pohon kehutanan yang bisa mengatur kadar air dan penyerapan karbon. Di sana terdapat banyak biodiversitas, satwa, fauna yang sangat beragam,” sambungnya.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Riset: Kebun sawit tidak akan mampu menggantikan fungsi hutan

Meski sawit tergolong pohon, menanam banyak sawit, Bustar Maitar selaku pendiri Econusa, menyatakan bahwa perkebunan sawit tetap tidak bisa dikatakan sebagai hutan. “Tidak bisa dikatakan hutan sawit karena kalau hutan kan tanamannya beragam, kalau kebun jenisnya seragam. Perkebunan kelapa sawit tidak bisa dikatakan sebagai hutan dan tidak bisa mengganti fungsi hutan,” tegasnya Bustar.

Bustar menyatakan bahwa ketika hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit, “sudah pasti tindakan tersebut merusak biodiversitas karena sebelum perkebunan dibangun, hutan dibabat. Ketika pohon dibabat, otomatis biodiversitasnya hilang.”

Ketika Prabowo menyatakan bahwa dirinya merasa perlu penanaman lebih banyak perkebunan sawit, Uli menyatakan pernyataan tersebut tidak tepat. “Yang paling berbahaya adalah Presiden Prabowo tengah membangun kebodohan publik dengan menyamakan antara sawit monokultur dengan hutan yang biodiversitasnya sangat beragam dan ekosistemnya jauh berbeda dengan fungsi-fungsi yang jauh lebih penting bagi penyangga kehidupan kita ketimbang perkebunan monokultur sawit,” pungkas Uli.

Editor: Muhammad Hanafi

ind:content_author: Joan Aurelia Rumengan

Posting Komentar untuk "Cek fakta: Benarkah sawit tergolong pohon?"