Petani Kelapa Sawit Was-was dengan Kebijakan Trump yang Bisa Naikkan Biaya Produksi

menggapaiasa.com.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan Presiden AS, Donald Trump, tentang pemberlakukan tarif balasan impor sebanyak 32% pada produk-produk Indonesia dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi untuk minyak kelapa sawit sampai dengan 20 persen.

Ini dijelaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung. Gulat mengatakan bahwa peningkatan produksi yang direncanakan bisa berimbas pada penghasilan para petani menjadi lebih rendah.

"Menurut perkiraan kami, biaya produksi bisa meningkat hingga 20%. Ini berarti bahwa pendapatan para petani akan menurun. Saat ini, biaya untuk memproduksi 1 kilogram kelapa sawit berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Harga pasarnya saat ini adalah sekitar Rp 2.800 per kilogram, sehingga memberikan keuntungan bersih bagi petani sebesar Rp 800 per kilogram. Namun jika terjadi kenaikan biaya produksi tersebut, maka margin keuntungannya menjadi lebih rendah yaitu hanya mencapai Rp 600," ungkap Gulat dalam wawancara dengan menggapaiasa.com pada hari Senin (7/4).

Gulat menerangkan alasannya mengapa hasil kelapa sawit terpengaruh. Ini disebabkan karena bahan mentah untuk tanaman kelapa sawit, seperti pupuk dan pestisida, sebagian besar diimpor dari negara lain.

Apabila biaya pupuk dan pestisida kelapa sawit meningkat, maka para petani secara tidak langsung akan menerapkan langkah-langkah hemat dalam merawat tanamannya. Bila hal ini menyebabkan penurunan tingkat perawatan, dapat diproyeksikan bahwa ada potensi untuk mengecilnya hasil produksi hingga sekitar 7 persen.

"Jika melihat kondisi saat ini, ini adalah perkebunan kelapa sawit milik petani bukan? Perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh masyarakat ini mencakup sekitar 42% dari total area perkebunan kelapa sawit di Indonesia atau setara dengan 6,8 juta hektare. Hal ini tentunya memberikan dampak signifikan pada skala nasional," ungkapnya.

Sebaliknya, Gulat mengatakan bahwa penurunan nilai rupiah terhadap dolar juga bisa membawa manfaat untuk para pemain industri kelapa sawit, terutama mereka yang beroperasi di sektor pasca panen.

"Sebuah sisinya, dengan meningkatnya nilai tukar dolar karena harga CPO dihitung dalam dollar Amerika Serikat, tentunya harganya juga akan naik. Oleh karena itu, terdapat pro dan kontra. Namun secara keseluruhan, kebanyakan kenaikan dolar ini sering kali dirasakan oleh sektor pasca panen," jelasnya.

Posting Komentar untuk "Petani Kelapa Sawit Was-was dengan Kebijakan Trump yang Bisa Naikkan Biaya Produksi"