Petambak di Pantura Jateng gagal panen akibat banjir, kami rugi ratusan juta

menggapaiasa.com, SEMARANG - Sejumlah petambak di Jateng harus merasakan kerugian yang tak sedikit akibat banjir yang terjadi di wilayahnya bersamaan dengan tingginya curah hujan.
Hal itu seperti dirasakan petambak Demak, Nasikhin. Ia bersama kelompok petambak Dadi Makmur Desa Wonoagung, Kecamatan Karangtengah mengalami kerugian sekitar Rp 200 juta sampai Rp 300 juta.
"Kelompok kami ada 13 orang merupakan petambak ikan, baik sentra pembibitan bandeng maupun ikan konsumsi seperti lele, udang, nila, dan bandeng. Kami rugi ratusan juta akibat banjir," katanya, kepada Tribun Jateng, pekan lalu.
Ia menyebut, kerugian petambak di desanya mencapai ratusan juta karena ikan-ikan tersebut sebenarnya sudah siap panen. Kerugian tersebut termasuk biaya perbaikan tambak yang rusak.
"Banjir sudah terjadi sejak Desember 2025 hingga akhir Januari. Banjir tidak hanya dari air sungai Sipon, tetapi dari air rob," jelasnya.
Nasikhin mengatakan, banjir yang merendam di desanya hampir tiap tahun terjadi. Namun, ia menilai, banjir tahun ini terasa lebih lama.
"Banjir tahun ini lebih parah. Tahun kemarin musim hujan tidak panjang. Sekarang rasanya lebih panjang," bebernya.
Ia berharap bisa mendapatkan bantuan dari pemkab atau pemprov berkait dengan kondisi yang dialami.
"Ya kami merugi, mau minta bantuan ke desa ya tidak bisa karena kepala desanya tersandung hukum," tukasnya.
Di Kabupaten Pati, Saeful pun hanya bisa gigit jari. Tambak ikannya seluas 1 hektare yang ditebar benih nila salin dan udang pada 1 bulan lalu kini hanyut akibat banjir.
"Hujan deras turun tiga hari nonstop, tiba-tiba air banjir dari kali Tayu masuk ke tambak," ujarnya, pekan lalu.
Menurut dia, banjir merendam tambaknya pada Sabtu (10/1) dan mulai surut Selasa (20/1). Banjir yang merendam tambaknya merupakan air kiriman dari aliran Sungai Tayu dan banjir rob dari pesisir Tunggulsari, Kecamatan Tayu.
"Saya merasakan banjir tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dengan ketinggian mencapai 1 meter lebih," ucapnya.
Banjir di kawasan Tanggulsari, Kecamatan Tayu merupakan kejadian tahunan. Hal itupun sudah diantisipasi petambak, seperti yang dilakukan Saeful dengan memasang jaring waring. "Sudah saya pagari waring keliling, tapi tambak masih tetap kebobolan," tuturnya.
Akibat banjir itu, ia mengalami Kerugian hingga belasan juta. Kerugian itu selepas kehilangan 80 ribu benih nila dan 50 ribu bibit udang.
Selain itu, dalam sebulan terakhir, ia juga telah mengeluarkan pakan seberat 90 kg. "Iya, rugi belasan juta, karena terhitung baru tebar benih," paparnya.
Saeful mengungkapkan, kerugian paling besar dialami petambak yang sudah memasuki masa panen. Hal itu dialami puluhan petambak di desanya, di mana terdapat 80an petambak dengan luasan tambak mencapai 150 hektare.
"Petambak yang siap panen tentu mengalami kerugian puluhan juta, karena lahan 1 hektare itu bisa menghasilkan 5-7 ton ikan, sedangkan 1 ton bisa menghasilkan Rp 23 juta. Tinggal kalikan saja, dan bikin pusing kalau sudah ada kejadian banjir," terangnya.
Saeful pun mengaku telah melaporkan kejadian itu ke Pemkab Pati. "Ya kami harap tidak ada banjir lagi," harapnya.
Miliaran
Adapun, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng mencatat ratusan petambak di provinsi ini terdampak banjir hingga merugi mencapai miliaran rupiah.
Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi menyebut, para petambak terdampak bencana itu sementara yang terdata berasal dari Pati, Pemalang, dan Demak.
"Iya data sementara yang kami himpun dari tiga daerah tersebut. Estimasi kerugian yang dilaporkan Rp 17 miliar, itu saja hanya dari Kabupaten Pati," jelasnya, pekan lalu.
Ia merinci, petambak yang terdampak banjir di Kabupaten Pati merupakan petambak ikan nila salin. Luasan tambak yang terdampak mencapai luasan 1.257 hektare yang tersebar di 19 Desa pada enam kecamatan. Ribuan hektare tambak tersebut dimiliki ratusan petambak.
Kemudian di Kabupaten Pemalang, data tambak yang terdampak banjir sementara dari wilayah Sidokare, Kecamatan Ampelgading.
Tambak terdampak itu merupakan tambak udang. Meski demikian, Endi masih melakukan pendataan berkait dengan luasannya.
"Begitupun di Demak, kami masih melakukan pendataan terhadap luasan dan jumlah petambak yang terdampak," bebernya.
Selepas melakukan pendataan, Endi menyatakan, pihaknya bakal memberikan bantuan benih. Skema bantuan lain nantinya bakal diusulkan ke Gubernur Jateng. "Untuk sementara bantuan yang akan kami salurkan benih dulu," paparnya. (Iwan Arifianto)
Komentar
Posting Komentar