Featured Post

Khotbah Minggu, 22 Februari 2026

  • Khotbah Minggu, 22 Februari 2026
  • Warna Liturgi : Ungu
  • Minggu Pra Paskah I



KETAATAN DAN KESETIAAN: KUNCI KEHIDUPAN
LUKAS 4: 1-13

    Shalom, Saudara-saudara yang terkasih dan mencintai Tuhan, apakah kita sudah mengucapkan syukur pagi ini? Sebagai umat Kristiani, kita diundang untuk senantiasa mengucap syukur, bukan? Itu semua berkat kasih dan pemeliharaan Allah yang selalu adaMeskipun kita menyadari bahwa perjalanan iman kadang tidaklah mudah. Terkadang kita menghadapi ujiangodaan, bahkan merasakan kelemahan. Oleh karena itu, mari kita sambut minggu Prapaskah I ini dengan merenungkan firman Tuhan dalam satu tema: “Ketaatan dan Kesetiaan: Kunci Kehidupan. ” Menurut KBBItaat berarti mematuhi perintah, sedangkan setia adalah sikap hati yang konsisten dan tidak berubah dalam komitmen.

    Saudara yang terhormat, mari kita bayangkan seorang karyawan yang cerdas dan memiliki penampilan yang menarik. Pemilik perusahaan memberikan instruksi sederhana: hadir tepat waktu, bersikap jujur, menjaga kepercayaanserta ramah dan rendah hati agar bisa bekerja sama dengan kolega lainnyaNamunjika karyawan itu tidak mematuhi aturan dan tidak setia dengan tanggung jawabnya serta menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi, apa yang mungkin terjadi kemudianApakah pemilik perusahaan akan memujinya dan memberikan kenaikan gaji, atau justru menegurnya dan perlahan memutuskan hubungan kerjaIni menunjukkan bahwa ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mengakibatkan seseorang kehilangan segalanyatermasuk: kepercayaan, kedamaian, masa depanbahkan kehidupanBukankah Alkitab dengan jelas menunjukkan hal ini kepada kita? Saat bangsa Israel memilih untuk tidak patuh dan tidak setia kepada Allah, mereka sebenarnya menempuh jalan yang mengarah pada kehancuran dan kematian. Ini menegaskan bahwa ketidaktaatan dan ketidaksetiaan bukan sekadar kesalahan langkahmelainkan jalan menuju kematian.

Saudara yang terkasih, 

Lukas 4: 1-13 mengisahkan bahwa setelah dibaptis dan mendapatkan pengurapan dari Roh Kudus, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun. Di sana, Yesus menjalani puasa selama empat puluh hari, dan dalam kondisi tersebut, iblis datang untuk menguji-Nya. Ujian tersebut terdiri dari tiga bagian. Yang pertama, godaan terhadap kebutuhan fisikSelama masa puasa, Yesus tidak mengonsumsi makanan apa pun. Selain itu, Ia berada di gurun yang sunyi, tandusdan tidak ada makanan yang tersediaIblis sangat memahami apa yang sangat dibutuhkan oleh tubuh Yesus saat ituyaitu makanan. Karena tidak ada roti di lokasi itu, iblis mengajak Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Namun Yesus menyadari tipuan iblis. Ia menolak permintaan tersebut dan menanggapi dengan firman “Manusia tidak hidup hanya berdasarkan roti. ” Dengan kata lain, kebutuhan spiritual jauh lebih penting dibandingkan kebutuhan fisik, dan ketaatan kepada Tuhan lebih utama daripada memenuhi hawa nafsu.

Kedua, godaan terhadap kekuasaan dan kehormatanSetelah gagal menjerumuskan Yesus melalui kebutuhan fisik, iblis beralih ke ambisi untuk meraih kuasa dan kehormatanUntuk melancarkan rencananya, ia membawa Yesus ke sebuah tempat tinggi dan menunjukkan kepadanya semua kerajaan di dunia. Kemudian iblis berkata, “Semua kuasa dan keindahan itu akan kuberikan kepadamu” Untuk lebih meyakinkan, ia menambahkan“Semuanya itu sudah diserahkan kepadaku dan aku memberikan kepada siapa saja yang aku mau.” Puncaknya, iblis meminta Yesus untuk menyembahnya sebagai syarat untuk mendapatkan semua itu. Namun Yesus menempatkan iblis pada posisinya yang tepat dan dengan tegas Ia menjawab, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! 

Ketiga, bisikan untuk menguji Tuhan. Setelah dua kali Yesus menolak dan menempatkan iblis di tempatnya yang kalah dengan ayat-ayat, iblis mencoba pendekatan lainIa membawa Yesus ke Yerusalem (pusat spiritual Israel) dan meletakkannya di puncak Bait Allah (simbol kehadiran Tuhan) dan menekan Yesus untuk menggunakan kuasanya sebagai Anak Allah. Agar godaan ini terdengar lebih meyakinkan, iblis bahkan mengutip firman, "Jatuhkanlah dirimu dari sini, karena tertulis bahwa malaikat-malaikat-Nya akan menjaga Engkau dan mereka akan menahan Engkau di tangan mereka, supaya kaki-Mu tidak terantuk pada batu. " Namun, Yesus tetap berpegang pada firman dan menjawab sambil menolak ujian iblis, "Jangan kau uji, Tuhan, Allahmu! " Setelah gagal untuk ketiga kalinya, iblis pun mundur dan menunggu kesempatan selanjutnya untuk melancarkan cara-cara mereka.

Saudara-saudara yang terkasih dan mencintai Tuhan,
Yesus berhadapan dengan godaan dari iblis (atau juga disebut ujian karena tujuannya untuk menggagalkan-Nya) sebagai bagian dari jalannya untuk melaksanakan misi dan panggilan-Nya. Ia meraih kemenangan bukan karena situasinya mudah, melainkan karena Ia memilih untuk taat dan setia. Setiap instruksi serta tawaran dari iblis, yang mungkin terlihat menggodasemuanya ditolak dengan tegas melalui firman Tuhan. Bukankah ini menunjukkan bahwa meskipun dalam situasi yang paling sulit, firman Tuhan tetap menjadi alat paling efektif untuk menghadapi pencobaan? Kemenangan Yesus atas godaan iblis menegaskan bahwa ketaatan terhadap firman dan kesetiaan terhadap visi ilahi adalah kunci kehidupan.

Saudara yang terkasih

Yesus Kristus telah menunjukkan contoh yang idealDengan kepatuhan dan kesetiaan-Nya, Dia berhasil mengatasi segala godaan dan memberikan kehidupan kepada setiap orang yang percaya. Begitu pula dengan kita, ketaatan terhadap firman Tuhan dan kesetiaan pada panggilan-Nya adalah rahasia untuk menjalani kehidupan yang utuh. Hidup yang dipenuhi dengan kedamaiankekuatan, dan pemeliharaan dari Tuhan. Tidakkah dengan cara demikian kita diperkuat untuk tetap berdiri teguh dan mengatasi setiap godaan? Amin.


Nas Pembimbing         : Mazmur 100: 4

Berita Anugerah          : Yesaya 1: 18

Nas Persembahan        : Amsal 19: 17

Nyanyian :

1.      Nyanyian Pembukaan     : PKJ 7

2.      Nyanyian Pujian             : PKJ 37

3.      Nyanyian Peneguhan      : PKJ 4

4.      Nyanyian Responsoria    : KJ 396

5.      Nyanyian Persembahan   : PKJ 128

6.      Nyanyian Penutup           : KJ 363 

        Sumber Sinode GKSBS                                             

         Renungan Pagi GKSBS


  









Komentar