Mensos Gus Ipul Pastikan Peristiwa Anak SD di NTT Bunuh Diri jadi Perhatian Pemerintah

menggapaiasa.com - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengungkap rasa prihatin atas insiden tragis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Terlebih, alasan bunuh diri itu karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10 ribu. Ia memastikan bahwa peristiwa itu akan menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah.
"Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah," kata Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2).
Tokoh yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU itu memastikan, pemerintah akan memperkuat pendampingan bagi warga kurang mampu. Hal itu diimbangi dengan pembaruan data keluarga miskin.
"Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," tegasnya.
Gus Ipul menegaskan, pembaruan data keluarga miskin sangat penting untuk terus diperbarui. Hal itu untuk menjangkau setiap program pemerintah agar diterima masyarakat penerima manfaat.
"Ini hal yang sangat penting, saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan," ucapnya.
Sebagaimana diketahui, duka mendalam menyelimuti warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, 10, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh.
Peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil.
Namun, keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak mampu memenuhi permintaan tersebut.
Ayah YBS diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.
Tragedi ini semakin memilukan setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat.
Surat tersebut ditujukan kepada ibunya, berisi pesan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Di bagian akhir surat, terdapat gambar sederhana menyerupai emoji wajah menangis.
Komentar
Posting Komentar