Kisah pilu siswa SD akhiri hidup, sang ibu kaget dan permintaan buku-pena yang tak pernah terwujud

Kisah pilu siswa SD akhiri hidup, sang ibu kaget dan permintaan buku-pena yang tak pernah terwujud
Ringkasan Berita:
  • Seorang siswa SD berusia 10 tahun di NTT nekat mengakhiri hidupnya karena diduga depresi tidak mampu membeli buku dan pena.
  • Korban meninggalkan surat pesan terakhir untuk ibunya sebelum ditemukan tewas tergantung di pohon cengkeh dekat tempat tinggalnya.
  • Tragedi ini memicu kritik tajam dari Rocky Gerung yang menilai kebijakan pusat gagal menangani kemiskinan ekstrem di daerah terpencil.
 

menggapaiasa.com - Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka atas meninggalnya seorang siswa di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Siswa SD kelas IV berinisial YBR (10) nekat mengakhiri hidupnya, pada Kamis (29/1/2026) lalu.

Lebih pilunya lagi, diduga aksi ini didorong karena ia tidak mampu membeli buku dan pena.

Nenek YBR membenarkan cucunya meminta peralatan sekolah sebelum ditemukan tewas.

Namun, permintaan tersebut ternyata menjadi permintaan terakhir dan tidak akan pernah terwujud.

Sehari-hari nenek YBR bekerja sebagai penjual sayur.

Lantaran himpitan ekonomi, ia tidak selalu bisa memenuhi keinginan cucunya.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek," katanya, dikutip dari TribunNgada.com, Rabu (4/2/2026).

Mengeluh Pusing, Tidak Mau Berangkat Sekolah

Sementara itu, ibu YBR bernama Maria Goreti Te’a (47) tidak menyangka anaknya nekat mengakhiri hidup.

Sebelum ditemukan tewas, YBR sempat mengeluh pusing dan mengutarakan dirinya tidak mau masuk sekolah.

Akan tetapi, Maria terus mendorong anaknya untuk berangkat.

Maria bahkan sampai memesankan ojek demi YBR bisa pergi ke sekolah.

Siapa sangka, momen tersebut menjadi yang terakhir kebersamaan Maria dengan YBR.

YBR tidak berangkat sekolah dan pulang ke rumah.

Ia kemudian menulis di secarik kertas pesan sedih yang ditujukan kepada ibundanya.

YBR meminta agar Maria tidak sedih dan tidak mencarinya ketika sudah pergi selama-lamanya.

Bocah SD malang itu ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 WITA.

YBR ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh depan pondok tempat ia tinggal bersama sang nenek.

Maria baru mengetahui anaknya meninggal setelah diberitahu para tetangga.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir anak saya ada pergi sekolah,” ungkap Maria, dikutip dari TribunNgada.com.

Informasi tambahan, YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Sejak kecil, ia hidup dalam serba keterbatasan.

Di umurnya belum ada 2 tahun, ia harus terpaksa tinggal bersama sang nenek.

Mereka tidur pondok sederhana berdinding bambu, sedangkan Maria tinggal di rumah lainnya.

Sementara sang ayah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari YBR dikenal sebagai sosok pendiam dan penurut.

Penjelasan Polisi

Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort menjelaskan, jasad YBR pertama kali ditemukan oleh tetangganya.

Warga berinisial KD (59) melihat korban saat hendak mengurus hewan ternak.

Kejadian ini kemudian dilaporkan ke pemerintah desa dan kepolisian.

Usai kejadian, personil Polres Ngada melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memintai keterangan sejumlah saksi.

Atas peristiwa ini, Ipda Benediktus menyampaikan rasa dukanya.

Ia juga mengimbau agar orang tua lebih memperhatian anak-anaknya.

“Atas peristiwa ini, Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” ujar dia, dikutip dari TribunNgada.com.

Rocky Gerung: Keberhasilan yang Dibanggakan Prabowo Gugur

Menanggapi peristiwa tersebut, pengamat politik, Rocky Gerung menilai, kejadian ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan negara.

Di antaranya, kebijakan pemerintah pusat yang memangkas anggaran Transfer ke Daerah (TKD) secara signifikan.

Belum lagi anggaran pendidikan yang dipangkas untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Rocky, negara sejak awal mengetahui banyak daerah-daerah, termasuk NTT, tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menopang daerahnya sendiri.

Pendapatan daerah yang minim, keterbatasan akses terhadap sumber daya ekstraktif, serta tidak adanya sumber ekonomi berkelanjutan membuat daerah-daerah ini sangat bergantung pada bantuan pusat. 

Ketika hak daerah untuk menerima dukungan itu diputus atau dipersempit, maka konsekuensi sosial yang serius menjadi tak terelakkan.

"Jadi semua itu ada konsekuensi dari kebijakan di pusat. Kita mau lihat itu sebagai hasil negative impression terhadap prestasi-prestasi pemerintahan ini," katanya, dikutip Tribunnews dari YouTube Rocky Gerung Official, Selasa (3/2/2026).

Rocky menyebut, pemerintah boleh saja memamerkan capaian perumahan rakyat, yang bahkan sering kali baru sebatas proposal.

Atau membanggakan Proyek Strategis Nasional (PSN), hilirisasi, dan berbagai rencana besar lainnya.

Akan tetapi, semua itu kehilangan makna ketika di hulu persoalan justru diabaikan.

Yakni kepekaan terhadap kemiskinan warga negara serta ketidakmampuan rakyat untuk bertahan hidup.

Ia lantas menyinggung pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah kesempatan yang berapi-api.

Lalu, soal janji Presiden mengejar koruptor, hingga narasi tentang kebesaran bangsa dan hidup di negara paling berbahagia.

Menurutnya, hal itu gugur dengan kejadian-kejadian memilukan yang dialami warga negara.

"Dan itu yang sering harus diterangkan bahwa pidato yang berapi-api, semua janji untuk mengejar koruptor, semua isu tentang kebesaran bangsa, bahwa kita hidup di negara yang paling berbahagia, iya."

"Akhirnya semua isu itu akan dibatalkan oleh fakta-fakta kecil tadi, dengan akibat yang besar yaitu keretakan psikologi manusia," ungkap Rocky.

Rocky juga secara khusus menyoroti tragedi ini dari sisi psikologis.

Seorang anak berusia 10 tahun memutuskan mengakhiri hidupnya dan meninggalkan surat sederhana yang sarat makna, permintaan maaf dan pesan agar ibu tidak bersedih.

Bagi Rocky, ini menunjukkan betapa anak tersebut memahami kondisi psikologis ibunya, seorang perempuan dengan lima anak dan pengalaman tiga kali perceraian. 

Anak itu memahami jalan hidup ibunya, penderitaan yang ditanggungnya, dan beban yang ia rasakan.

"Dia memahami kondisi psikologi dari ibunya. Dia memahami jalan hidup yang sudah ditempuh oleh ibunya," beber Rocky.

Pada akhirnya, lanjut Rocky, tragedi ini menjadi pengingat keras, isu-isu besar negara bisa runtuh oleh fakta-fakta kecil yang diabaikan.

"Ya semua hal ini yang buat saya pedoman pertama untuk mengembalikan hak rakyat untuk menuntut keadilan," sambungnya.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunflores.com dengan judul Tragedi Gubuk Bambu: Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Ayahnya Merantau, Keluarga Terhimpit Ekonomi

(menggapaiasa.com/Endra/Nanda)(Tribunflores.com/Charles Abar)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN HARI INI. AYUB 1:1-22. TETAP BERSYUKUR DI TENGAH UJIAN

KJ NO.29. Di Muka Tuhan Yesus

Cara Akurat Menghitung Dosis Obat: Rumus dan Contoh Praktisnya