Israel bunuh anak tiga tahun di Gaza

menggapaiasa.com.CO.ID,GAZA – Israel kembali menembaki dari laut tenda-tenda di pengungsian al-Mawasi di pantai Gaza. Seorang anak Palestina syahid akibat serangan tersebut.

Merujuk kantor berita WAFA, korban penembakan adalah seorang anak laki-laki berusia tiga tahun bernama Iyad Ahmed Naeem al-Raba'i. Dia syahid ketika kapal perang Israel menembaki tenda-tenda yang menampung pengungsi di al-Mawasi.

Terletak di sepanjang pantai Gaza dekat kota selatan Khan Younis, al-Mawasi adalah rumah bagi kamp pengungsian luas yang menampung puluhan ribu warga Palestina.

Israel menggambarkan daerah tersebut sebagai “zona aman kemanusiaan”, namun telah menjadi lokasi banyak serangan fatal terhadap warga Palestina selama dua tahun perang.

Satu orang juga syahid dan beberapa lainnya terluka menyusul serangan Israel di wilayah penempatan militer di timur Jabalia, di Jalur Gaza utara, menurut sumber di Rumah Sakit al-Shifa.

Ledakan terlihat saat Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan kamp pengungsi Ghaith di daerah Al-Mawasi sebelah barat Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (31/1/2026). Setidaknya 12 orang syahid dalam serangan udara Israel di Gaza. - (EPA/HAITHAM IMAD)

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Israel telah membunuh lebih dari 500 warga Palestina di seluruh Gaza dan melukai 1.400 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Ini adalah pola pembunuhan yang terus berlanjut di wilayah yang berulang kali digambarkan Israel sebagai “zona aman”. Hal serupa juga terjadi dalam beberapa hari terakhir ketika puncak pembicaraan mengenai pembukaan kembali penyeberangan Rafah. Militer Israel melakukan serangan besar-besaran di Jalur Gaza yang menewaskan 31 warga Palestina – termasuk wanita dan anak-anak.

Hari ini di sekitar Kompleks Medis Nasser, suara tembakan senapan mesin dan artileri berat terdengar jelas di sepanjang bagian timur Gaza yang dikenal sebagai “garis kuning”. Serangan Israel yang terjadi setiap hari menimbulkan kepanikan dan stres bagi warga di sini, terutama di kawasan yang seharusnya menjadi zona aman. 

Rafah dibuka...

 

Sementara, perbatasan Rafah yang memisahkan Jalur Gaza dan Mesir mulai dibuka kembali pada Senin. Kendati demikian, hanya sedikit saja warga Gaza yang boleh melintas, bahkan jika mereka sangat memerlukan perawatan di luar.

Aljazirah melaporkan terdapat 450 pasien dalam kondisi kritis dan membutuhkan perawatan segera di luar Jalur Gaza, kata Dr Mohammed Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit al-Shifa di utara Kota Gaza.

“Kami diberitahu bahwa hari ini hanya lima pasien yang diizinkan keluar bersama dua orang pendampingnya melalui penyeberangan Rafah,” kata Abu Salmiya kepada Aljazirah.

“Kami menginginkan mekanisme yang jelas bagi keluarnya pasien dan korban luka dari Gaza untuk mendapatkan perawatan.”

Otoritas kesehatan mengatakan setidaknya 1.268 orang telah meninggal di Gaza saat menunggu transfer medis setelah Rafah ditutup oleh Israel pada tahun 2024. Mereka memperingatkan bahwa jumlah pengungsi akan segera meningkat kecuali lebih banyak warga Palestina yang diizinkan keluar segera.

Ambulans menunggu di Perlintasan Perbatasan Rafah sisi Mesir, antara Mesir dan Jalur Gaza, di Rafah, Kegubernuran Sinai Utara, Mesir, 1 Februari 2026. - (EPA/Stringer)

Dr Mohammed Abu Salmiya mengatakan ada 20.000 pasien di wilayah Palestina, termasuk 4.500 anak-anak, yang sangat membutuhkan evakuasi medis.

Meskipun Israel setuju untuk mengizinkan 50 pasien keluar dari Gaza untuk mendapatkan layanan kesehatan setiap hari, saat ini pihak berwenang hanya mengizinkan lima orang masuk ke Mesir, katanya.

"Kami masih kehilangan nyawa setiap hari. Mengizinkan hanya 50 pasien keluar dari Gaza setiap hari tidaklah tepat. Dinamika ini sangat mengerikan dan kami akan kehilangan lebih banyak nyawa," kata Abu Salmiya.

Alasan mengapa evakuasi massal diperlukan adalah karena militer Israel “menghancurkan sepenuhnya” sistem kesehatan Gaza, kata Abu Salmiya.

"Rumah sakit kekurangan pasokan dan personel medis. Israel terus menolak masuknya pasokan, ambulans, dan dokter sukarelawan. Kami tidak dapat merawat pasien di sini dan mencegah mereka keluar adalah hukuman mati yang dikeluarkan terhadap mereka. Ini adalah pembunuhan berencana yang dirancang oleh pasukan pendudukan Israel."

Warga Palestina memeriksa bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Sabtu (31/1/2026). Setidaknya 12 orang syahid dalam serangan udara Israel di Gaza. - (Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Aljazirah berbicara dengan ibu dari seorang gadis muda Palestina yang terluka parah selama perang Israel di Gaza dan sangat menanti-nanti evakuasi medis melalui penyeberangan Rafah untuk mendapatkan perawatan.

Shimaa Abu Rida mengatakan putrinya, Jumana al-Najjar, terluka pada 10 Agustus tahun lalu ketika dia menderita luka berlubang di perutnya akibat serpihan menyusul serangan Israel.

Akibatnya hati, ginjal, dan ususnya rusak parah. Keluarga tersebut menerima panggilan telepon dari Organisasi Kesehatan Dunia yang mengatakan untuk bersiap-siap melakukan perjalanan.

“Kami berdoa kepada Allah agar dia dirawat dan kehidupannya kembali normal,” kata Abu Rida sambil masih menunggu evakuasi medis putrinya.

 

Ratusan Ambulans telah mengantri di sisi perbatasan Rafah, Mesir, bersiap menerima pengungsi medis dari Gaza.

Mengutip Kementerian Kesehatan Mesir, AlQahera News melaporkan 150 rumah sakit dan 300 ambulans telah disiapkan untuk menerima pasien Palestina. Dikatakan 12.000 dokter dan 30 tim pengerahan cepat telah dialokasikan untuk menangani korban sakit dan terluka.

“Penyeberangan Rafah adalah jalur penyelamat,” kata Mohammed Nassir, seorang warga Palestina yang kakinya diamputasi setelah terluka akibat serangan Israel di awal perang. “Saya perlu menjalani operasi yang tidak tersedia di Gaza tetapi bisa dilakukan di luar negeri.”

Sedangkan 50 warga Palestina yang hendak kembali ke Jalur Gaza berada di sisi penyeberangan Mesir hingga berita ini diturunkan. 

Ke-50 warga Palestina yang kembali tersebut telah diperiksa oleh otoritas Israel. Hal lain yang terjadi saat ini adalah panggilan telepon mulai menjangkau warga Palestina yang sedang menjalani rujukan medis dan dijadwalkan untuk dievakuasi.

Truk bahan bakar menunggu di dekat perbatasan Rafah, antara Mesir dan Jalur Gaza, di Rafah, Kegubernuran Sinai Utara, Mesir, 1 Februari 2026. - (EPA-EFE/Stringer)

Sejauh ini ada empat orang yang menerima panggilan dari Organisasi Kesehatan Dunia. Mereka sekarang berada di rumah sakit Bulan Sabit Merah Palestina di Khan Younis dan menunggu.

Pembukaan kembali Rafah merupakan langkah penting karena perjanjian yang ditengahi AS tahun lalu memasuki fase kedua. Tahap kedua dari perjanjian gencatan senjata menyerukan pembentukan komite Palestina baru untuk memerintah Gaza, mengerahkan pasukan keamanan internasional, melucuti senjata Hamas, dan mengambil langkah-langkah untuk mulai membangun kembali Gaza.

Sebelum Israel melancarkan perang di Gaza, Rafah merupakan jalur penyeberangan utama orang-orang yang keluar masuk wilayah Palestina. Meskipun Gaza memiliki empat jalur penyeberangan lainnya, jalur-jalur tersebut digunakan bersama oleh Israel, yang terus menerapkan pembatasan ketat terhadap pengiriman bantuan penting.

Khawatir Israel akan menggunakan jalur tersebut untuk mendorong warga Palestina keluar dari wilayah tersebut, Mesir telah berulang kali mengatakan bahwa jalur tersebut harus terbuka baik untuk masuk maupun keluar dari Gaza. Secara historis, Israel dan Mesir telah memeriksa warga Palestina yang mengajukan permohonan untuk menyeberang.

Posting Komentar untuk "Israel bunuh anak tiga tahun di Gaza"