Jurus mendag hadapi Trump 2.0 hingga eskalasi perang dagang AS-China

menggapaiasa.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkap sejumlah strategi dagang untuk meredam dampak dinamika geopolitik global yang kian proteksionis, mulai dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump periode kedua atau dikenal Trump 2.0 hingga eskalasi perang dagang AS dan China.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, perubahan arah kebijakan perdagangan global berpotensi mengganggu rantai pasok dunia dan hubungan dagang antarnegara.

Menurutnya, dinamika geopolitik dunia saat ini membuat hampir seluruh negara di dunia mengubah strategi dan kebijakan perdagangannya menjadi lebih proteksionis.

Namun, Budi mengatakan, Kemendag menyiapkan kebijakan strategis, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di kisaran 5–6% per tahun.

“Menghadapi situasi tersebut, terutama dengan tantangan ‘Trump 2.0’ serta eskalasi perang dagang AS—China, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, responsif, dan adaptif, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor,” kata Budi kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).

Secara terperinci, Kemendag mengandalkan penguatan konsumsi domestik dengan memperluas kolaborasi ritel modern dan UMKM. Menurutnya, strategi ini dilakukan agar ritel modern tidak hanya menjadi saluran distribusi, melainkan juga motor pemberdayaan ekonomi lokal.

“Upaya ini dapat diwujudkan melalui skema kemitraan wajib minimal 30% produk UMKM di ritel modern,” ujarnya.

Pemerintah juga mendorong pelaku usaha membangun ekosistem omnichannel yang mengintegrasikan belanja daring dan luring seiring perubahan perilaku konsumen.

Sementara di pasar ekspor, Kemendag akan memacu UMKM agar mampu menembus pasar global melalui peningkatan kualitas dan daya saing produk.

Budi menilai peluang ekspor tidak hanya terbuka bagi perusahaan besar, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh UMKM yang mampu meningkatkan mutu, inovasi, dan nilai tambah.

“Di tengah tekanan dan dinamika geopolitik, produk UMKM yang sudah berstandar ekspor menjadi kekuatan tersendiri untuk masuk ke pasar ekspor nontradisional,” tambahnya.

Jaga Kinerja Perdagangan 2026

Adapun, untuk menjaga kinerja perdagangan sepanjang 2026, Kemendag akan memfokuskan pada tiga program utama. Pertama, pengamanan pasar dalam negeri melalui kebijakan ekspor-impor yang kondusif bagi dunia usaha, menarik investasi, serta melindungi industri nasional.

“Kebijakan ekspor dan impor juga diarahkan untuk mendorong peningkatan daya saing produk nasional dan memberikan perlindungan bagi industri dalam negeri,” sambungnya.

Kedua, perluasan pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan internasional. Hingga saat ini, Kemendag mencatat Indonesia telah mengimplementasikan 20 perjanjian dagang, memiliki 15 perjanjian yang telah ditandatangani atau diratifikasi, serta 11 perjanjian yang masih dalam proses perundingan.

Khusus pada 2025, ungkap Budi, Indonesia menuntaskan perundingan CEPA/FTA/PTA dengan mitra dagang utama seperti Eurasian Economic Union (IEAEU—FTA), Peru (IP—CEPA), Chile (IC—CEPA khusus bidang jasa), dan Canada (IC—CEPA).

Untuk mengoptimalkan implementasi sejumlah perjanjian dagang, Kemendag menyiapkan sosialisasi, forum bisnis, hingga pembentukan business council bersama negara mitra.

Selain itu, pemerintah akan mengotomatisasi pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA) preferensi melalui sistem INATRADE untuk memudahkan eksportir.

Ketiga, penguatan peran UMKM melalui program Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor untuk mendorong kontribusi ekspor UMKM terhadap ekspor nasional.

Hingga periode Januari—Desember, program ini telah mencatatkan transaksi sebesar US$134,87 juta dan melibatkan lebih dari 1.200 UMKM.

Posting Komentar untuk "Jurus mendag hadapi Trump 2.0 hingga eskalasi perang dagang AS-China"