Pantai Bintan kembali tercemar limbah minyak hitam

KAWASAN pesisir pantai Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kembali dicemari minyak hitam. Limbah itu diduga dibuang oleh kapal tanker yang melintas di perairan laut internasional, kemudian dibawa angin ke pesisir Bintan.
Pencemaran itu awalnya ditemukan oleh turis yang sedang menikmati keindahan Bintan menggunakan windsurfing, Rabu, 28 Januari 2026. Ia merupakan tamu yang sedang menginap di Pantai Mutiara Beach Resor.
Pengelola Mutiara Resort, Mark, mengatakan, turis tersebut kemudian menemukan tumpukan minyak. "Kami sebagai pengelola Pantai Mutiara langsung memeriksa, ternyata minyak hitam sudah menyebar ke seluruh pantai, pantai tidak bisa digunakan lagi," kata Mark, Pengelola Mutiara Beach Resort, Sabtu 31 Januari 2026.
Pilihan Editor: Asin-Manis Garam dari Desa Wisata BulelengMinyak hitam tersebut berbentuk cairan hitam yang dibungkus dan diikat dalam karung plastik. Mark juga menyaksikan kepiting dengan tubuh yang berlumur minyak hitam. "Baunya juga menyengat dan membuat kepala sakit," kata dia. Akibatnya tamu resort yang sedang berlibur di pantai Mutiara memilih untuk chek out kamar.
Pembersihan Pantai Libatkan Masyarakat
Setelah mendapatkan laporan itu, Mark melaporkan ke grup WhatsApp masyarakat Pesisir Timur Bintan. Pengelola dan masyarakat setempat bergerak untuk saling bantu persiapan pembersihan mulai dari mencari gerobak, masker, sarung tangan dan alat untuk pembersihan lainnya.
"Kami akhirnya gerak mengumpulkan minyak itu, ini limbah harus ditangani dengan hati-hati karena berbahaya, ini juga berdasarkan pengalaman kami menangani hal yang sama pada 2020," katanya.
Pilihan Editor: Cerita Ekosistem Hutan yang Terganggu di Bukit LawangSetelah itu aparat TNI AL, KPLP Tanjung Uban juga datang ke lokasi untuk membuat barrier pagar laut agar limbah tidak masuk lagi. Kata Mark, minyak baru datang tidak ada lagi, tetapi tetap harus di antisipasi dengan barrier itu.
Pembersihan berlangsung hingga Jumat, 30 Januari 2026. Padahal, kata Mark, akhir pekan paling banyak tamu datang ke Resort Mutiara. "Stresnya di situ, kami tidak mau tamu datang membatalkan pesanannya, makanya kami usahakan pantai cepat bersih, memang kerja keraslah," katanya.
Saat ini, Sabtu 31 Januari 2026 sudah terdapat 200 karung beras minyak hitam yang dikumpulkan, setiap karung 2 kilogram. Jadi ada total sekitar 4 ton yang kami kumpulkan. "Dan ini belum selesai, hari ini masih lanjut pembersihan, di sinilah tantangan kami di kawasan resor Bintan," kata Mark.
Ia mengaku sengaja mempublikasikan hal ini agar ada pemerintah dan instansi terkait mengetahui pariwisata Bintan tidak baik-baik saja. "Kalau tidak ada komplain nanti dibilang aman-aman saja," katanya.
Sejak kasus 2020, ia berharap tidak ada lagi minyak hitam yang datang, tetapi ternyata berulang. "Ini perlu kesadaran politik, saya rasa pelakunya bisa ditangkap, kita punya alat pengawasan satelit alat canggih," kata Mark.
Merusak Citra Pariwisata
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bintan, Arief Sumarsono mengatakan sudah mengetahui peristiwa tersebut. Ia menegaskan, kejadian berulang ini membuat citra pariwisata Bintan buruk. "Padahal pariwisata menjadi sektor yang paling besar menyumbang pendapatan ke pemerintah daerah," kata Arief.
Ia berharap penanganan masalah ini tidak dilaksanakan oleh satu instansi tetapi lintas instansi. Menurutnya pemerintah harus berjibaku tidak saling lempar untuk menciptakan solusi konkret. "Dalam waktu dekat kita adakan RDP (rapat dengar pendapat) di DPRD Kabupaten Bintan, membahas ini, ksmi tidak ingin lagi terus terulang," katanya.
Pilihan Editor: 36 Jam di Brugge, Kota Kosmopolitan dari Abad Pertengahan
Komentar
Posting Komentar