Featured Post

Kesaksian komandan Satgas MTF TNI saat tugas Lebanon: Kami di bawah garis api perang Iran vs Israel

Kesaksian komandan Satgas MTF TNI saat tugas Lebanon: Kami di bawah garis api perang Iran vs Israel
Ringkasan Berita:
  • Kepulangan Pasukan Perdamaian: KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) tiba di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Minggu (1/2/2026), membawa 119 prajurit Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.
  • Komandan Satgas, Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, menceritakan pengalaman berada di tengah Perang 12 Hari Iran–Israel pada Juni 2025.
  • Rudal jelajah Iran melintas tepat di atas kapal, sementara sistem pertahanan Israel melakukan pencegatan di udara, membuat awak kapal berada di bawah garis api.

menggapaiasa.com, JAKARTA– Rintik hujan yang membasahi Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Tanjung Priok, seolah menyatu dengan suasana bangga kepulangan para penjaga perdamaian dunia, Minggu (1/2/2026) pagi.

Tepat pukul 09.00 WIB, di bawah langit Jakarta yang mendung, KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) perlahan merapat. 

Kapal perang jenis korvet ini membawa pulang 119 prajurit TNI yang baru saja menuntaskan misi 14 bulan sebagai Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.

Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, Komandan Satgas Maritime Task Force (MTF) TNI Konga XXVIII-P UNIFIL, membagikan kisah yang memacu adrenalin saat mereka berada di tengah Perang 12 Hari antara Iran dan Israel medio Juni 2025.

"Rudal-rudal jelajah Iran saat itu melintas tepat di atas kepala kami. Kami berada tepat di bawah line of fire atau garis api," kenang Letkol Anugerah.

Menurutnya, saat itu rudal Iran menempuh lintasan memutar melewati Lebanon dan Mediterania sebelum menuju Israel. 

Di saat bersamaan, langit di atas KRI SIM-367 menjadi saksi bisu aksi intercept atau pencegatan rudal oleh sistem pertahanan udara Israel.

Berada di tengah pusaran konflik dua negara besar tentu menguji mental personel. Letkol Anugerah mengakui ada sisi humanis yang tidak bisa dibohongi dari balik seragam gagah para prajuritnya.

"Perasaan kami saat itu bercampur aduk. Sebagai manusia biasa, tentu ada rasa khawatir, was-was, bahkan takut karena serangan itu tepat di atas kami. Tapi di sisi lain, kami juga excited (bersemangat)," ungkapnya.

Baginya, situasi mencekam itu adalah pembuktian dari latihan keras selama ini. 

"Kami dilatih bukan untuk damai saja, tapi untuk bertempur. Begitu situasi meningkat, adrenalin kami justru terpacu untuk melindungi kapal dan tetap konsisten melaporkan setiap serangan ke Markas Besar PBB," tambahnya.

Selama lebih dari setahun, pasukan PBB ini menghabiskan 65 persen waktu mereka di tengah laut Mediterania.

Selain menghalau senjata ilegal, mereka setiap hari mencatat 2 hingga 5 pelanggaran wilayah udara oleh militer Israel.

Kedatangan KRI SIM-367 ini sekaligus menandai berakhirnya era pengiriman Satgas Maritime Task Force (MTF) Indonesia ke Lebanon. 

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali yang menyambut dengan upacara militer menyatakan, pasukan ini adalah kontingen terakhir.

Setelah singgah di Jakarta, para prajurit akan segera bertolak menuju pangkalan utama di Surabaya. 

"Baru saja kita melaksanakan upacara penyambutan KRI Sultan Iskandar Muda 367 yang baru selesai melaksanakan misi perdamaian PBB di Lebanon sejak tahun 2022 hingga 2024 ini. Seluruh prajurit kembali dalam kondisi sehat dan material kapal dalam keadaan baik," ujar KASAL di hadapan awak media di atas kapal Korvet kelas Sigma itu.

Komentar