pada tanggal
BERITA DAN INFORMASI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

PIKIRAN RAKYAT BENGKULU – Bagi para pelaku pasar modal yang mencermati layar perdagangan sebulan terakhir, pergerakan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) tak ubahnya sebuah fenomena langka. Saham emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi ini mencatatkan kenaikan fantastis sebelum akhirnya "dipaksa tidur" oleh regulator.
Hingga Jumat pagi, 28 November 2025, gembok suspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terpasang rapat di level harga Rp6.075. Angka ini menjadi monumen bisu dari reli harga yang terjadi sejak pertengahan Oktober lalu.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun tim redaksi, MORA mencatatkan performa yang mencengangkan—atau menakutkan bagi sebagian analis konservatif. Mari kita bedah datanya:
Lonjakan ini memicu BEI mengeluarkan surat "sakti" Peng-SPT-00358/BEI.WAS/11-2025 pada 14 November 2025, yang menghentikan sementara perdagangan MORA mulai sesi I tanggal 17 November 2025 dalam rangka Cooling Down.
Menjawab pertanyaan liar di kalangan investor ritel mengenai apa yang sebenarnya terjadi, manajemen MORA akhirnya memberikan klarifikasi resmi pada 25 November 2025. Dalam surat bernomor 078/MTI/CORSEC/EXT/XI/2025, Corporate Secretary MORA, Henry Rizard Rumopa, memberikan jawaban yang cukup menarik perhatian.
Saat ditanya mengenai penyebab volatilitas transaksi, Perseroan menyoroti mekanisme perdagangan.
"Kenaikan volume transaksi Perseroan terjadi terutama setelah Perseroan masuk dalam Kriteria 10 pada Papan Pemantauan Khusus (Full Call Auction)," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Ini adalah sebuah anomali menarik. Biasanya, mekanisme Full Call Auction (FCA) kerap dikeluhkan karena dianggap menurunkan likuiditas. Namun, dalam kasus MORA, masuknya saham ke dalam "Kriteria 10" justru menjadi bensin yang membakar volume dan harga hingga terbang tinggi.
Jika kita melihat data transaksi harian, terlihat pola akumulasi yang agresif menjelang suspensi:
Penting dicatat, manajemen menegaskan bahwa tidak ada informasi material atau fakta penting lainnya yang belum diungkapkan ke publik. Artinya, kenaikan harga ini murni didorong oleh mekanisme pasar (permintaan dan penawaran) atau aksi korporasi yang mungkin belum matang untuk diumumkan.
Bagi investor yang sudah memegang saham MORA di harga bawah, posisi saat ini tentu sangat menguntungkan (floating profit). Namun, bagi yang berniat masuk, risiko sedang berada di puncak tertinggi.
Mengingat saham ini berada dalam mekanisme FCA dan baru saja mengalami kenaikan ratusan persen tanpa didukung berita fundamental yang spesifik (seperti akuisisi atau dividen jumbo), pembukaan suspensi nanti berpotensi menghadirkan volatilitas ekstrem.
Skenario yang mungkin terjadi adalah aksi profit taking massal begitu perdagangan dibuka, atau justru berlanjutnya aksi "gorengan" jika market maker masih memiliki target harga di atas level psikologis Rp6.000.
Investor disarankan untuk memantau ketat kolom Order Book (pada sesi blind order FCA) dan rilis resmi BEI selanjutnya. Hingga Jumat (28/11), status MORA masih: Disuspensi.
Disclaimer: Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan Anda dengan segala risiko yang menyertainya. Penulis dan redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi ini.
Komentar
Posting Komentar