Featured Post

Suami Meninggal Mendadak, Siti Aisyah Berjuang di Kios Bambu demi 5 Anaknya

DOMPU, menggapaiasa.com - Suara alu terdengar samar dari halaman rumah Siti Aisyah, warga Dusun Selaparang Timur, Desa Matua, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Perempuan berusia 39 tahun itu rupanya tengah sibuk mengolah bumbu dapur, dan menyuwir ikan tongkol untuk makan siang.

Ditemani tiga buah hatinya yang masih kecil, Siti -sapaan akrab ibu lima anak ini, tampak terkejut saat ditemui menggapaiasa.com, Minggu (30/11/2025).

Di rumah berukuran sekitar 4x6 itu, Siti berjuang sebagai ibu sekaligus tulang punggung bagi keluarganya.

Suaminya, Agusalim meninggal dunia pada 13 Januari 2025, akibat serangan jantung saat sibuk mengangkut sampah dari rumah-rumah warga desa.

Semenjak kepergian mendiang suaminya, keseharian Siti pun berubah dari seorang ibu rumah tangga saja, menjadi tulang punggung bagi kelima anaknya.

Tak berani bermimpi

Musibah yang menimpa keluarganya, membuatnya tak lagi berani bermimpi, apalagi menaruh cita-cita besar bagi anak-anaknya.

Anak-anak bisa tetap makan setiap hari, bagi dia sudah lebih dari cukup, meski terkadang dengan menu seadanya.

"Saya tidak ingin punya cita-cita banyak, terpenting sekarang anak-anak bisa tetap makan setiap hari," cetus Siti.

Rumah yang ditempatinya sekarang adalah hasil jerih payahnya bersama sang suami semasa hidup.

Terdapat satu kamar tidur dan satu ruang tamu, selebihnya bangunan dapur dari tempelan papan kayu.

Tak ada televisi atau perabotan berharga, di ruang tamu hanya berdiri satu kulkas bekas yang dibelinya dari warga sekitar seharga Rp 300 ribu.

Sementara pada dinding ruangan itu terpajang beberapa bingkai berisi foto sang suami dan anak-anaknya.

Di rumah ini, Siti kini tinggal bersama empat orang putrinya. Ada Suci putri kedua yang kini duduk di bangku kelas I Madrasah Aliyah.

Lalu, Aisyah, putri ketiganya duduk di bangku kelas I SMP, kemudian Gina putri keempat yang baru menginjak bangku Kelas V SD. Putri terakhirnya bernama Madina, Desember tahun ini telah genap berusia dua tahun.

Sementara Tina, putri pertamanya telah menikah, dan saat ini menetap bersama suami di rumah mertuanya.

Membiayai kebutuhan hidup buah hatinya semasa sang suami hidup dan bekerja sebagai petugas sampah di Kantor Desa Matua, menurutnya tidak terasa sulit.

Namun takdir berkata lain, Siti kini harus berjuang seorang diri untuk mencari nafkah demi membiayai semua kebutuhan anak-anaknya.

"Waktu masih ada bapaknya, bebannya tidak begitu berat. Sekarang sulit, saya sendirian cari makan setiap hari, biar sakit saya tetap paksakan untuk jualan," ungkap dia.

Kebutuhan makan dan minum anak-anak serta biaya sekolahnya, mengharuskan Siti tetap kuat untuk mencari nafkah, meski terkadang harus melawan rasa sakit.

Saat ini hari-harinya dilakoni dengan membuka kios untuk menjual bensin eceran dan beberapa renteng kopi serta makanan ringan.

Kios sempit berukuran 1x2 meter itu dibangun di atas lahan pinjaman milik warga, lokasinya berjarak sekitar 40 meter dari rumahnya.

Kios dari pagar bambu ini berdiri atas belas kasih warga sekitar yang iba melihat perjalanan hidupnya.

Meski tak banyak pajangan makanan, kios ini menjadi tumpuan satu-satunya untuk membiayai semua kebutuhan keluarganya.

"Modal awalnya itu saya sisihkan dari sisa gaji almarhum suami saya di kantor desa, ada juga bantuan dari warga," ujar dia.

Pendapatan harian dari jualan bensin eceran ini, menurut dia tidak menentu. Per hari biasanya dia bisa pulang dengan keuntungan bersih sekitar Rp 50 ribu- Rp100 ribu.

Pendapatan hariannya itu sebagian disisihkan untuk biaya tak terduga, sementara sisanya dipakai untuk keperluan makan dan sekolah anak-anak.

"Kalau ada lebih hasilnya saya tabung juga buat jaga-jaga, siapa tahu anak-anak sakit, jadi ada buat kita berobat," sambung dia.

Meski hidup dengan keadaan serba terbatas, Siti masih tetap bersyukur karena anak-anak cukup mengerti dengan keadaannya.

Mereka tak pernah menutut banyak, walaupun untuk sekadar jajan seperti anak-anak lain seusianya.

Beberapa putrinya bahkan mulai tumbuh mandiri, mereka terkadang diminta bantuan warga sekitar untuk membersihkan rumah, sehingga bisa pulang dengan upah.

"Terkadang mereka juga pergi bungkus kerupuk, hasilnya ada buat mereka jajan dan tambah belanja sekolah," sambung dia.

Siti Aisyah, termasuk salah keluarga penerima manfaat bantuan sosial dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Dia menerima bantuan PKH senilai Rp 300 ribu, sementara untuk bantuan sembako diterima Rp 600 ribu per satu kali dalam tiga bulan.

Menurut dia, bantuan sosial yang diterima itu cukup meringankan beban keluarganya, pun tak sedikit juga warga yang iba turut membantunya untuk menambah modal usaha.

"Alhamdulillah, ada saja jalan rizkinya anak-anak ini, kandang saya juga dibantu beberapa warga buat nambah modal jualan," kata dia.

Komentar