Thailand kembalikan 18 tentara Kamboja yang sempat ditawan, ranjau sepanjang 800 kilometer mulai dibersihkan

Thailand kembalikan 18 tentara Kamboja yang sempat ditawan, ranjau sepanjang 800 kilometer mulai dibersihkan

KABAR CIREBON - Bangkok dan Phnom Penh sepakat membersihkan ranjau di sepanjang 800 kilometer perbatasan Thailand-Kamboja, yang selama ini menjadi lahan sengketa dan memicu konflik berkepanjangan.

Dalam perjanjian gencatan senjata, militer Thailand mengembalikan 18 tentara Kamboja yang selama ini menjadi tawanan perang. Penyerahan tawanan perang itu difasilitasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Bentrokan senjata antara Thailand dan Kamboja sempat memanas dengan pengerahan jet tempur, roket peledak, hingga bom beracun. Konflik tersebut sudah memakan puluhan korban jiwa dan ratusan warga sipil terpaksa mengungsi.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Kamboja mengatakan para tentara yang ditawan telah tiba di tanah Kamboja pada pukul 10 pagi waktu setempat (03:00 GMT) pada hari Rabu.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Thailand mengkonfirmasi repatriasi tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu dilakukan "sebagai demonstrasi niat baik dan pembangunan kepercayaan," menurut sebuah pernyataan.

Penyerahan tersebut dikoordinasikan oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC), yang memuji kedua belah pihak karena telah mencapai gencatan senjata.

“Pembebasan dan repatriasi tawanan perang hari ini memungkinkan keluarga untuk bersatu kembali dan menandai langkah penting dalam menerjemahkan komitmen yang diuraikan dalam Pernyataan Bersama ke dalam tindakan,” kata Presiden ICRC Mirjana Spoljaric.

“Penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, yang mencakup repatriasi tawanan perang di akhir permusuhan aktif, sangat penting untuk membantu membangun kepercayaan antara pihak-pihak dan mendukung jalan menuju perdamaian abadi,” tambahnya.

ICRC mengatakan bahwa mereka juga telah mengunjungi para tawanan sebanyak empat kali sejak penahanan mereka pada bulan Juli untuk memastikan kondisi mereka sesuai dengan hukum internasional.

Bentrokan perbatasan antara Thailand dan Kamboja kembali berkobar awal bulan ini, menyusul kegagalan kesepakatan gencatan senjata yang dibantu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim untuk menghentikan babak konflik sebelumnya pada bulan Juli.

Bentrokan yang berlangsung selama 20 hari itu menewaskan sedikitnya 101 orang dan menyebabkan lebih dari setengah juta orang mengungsi di kedua belah pihak. Pertempuran tersebut meliputi serangan jet tempur, saling tembak roket, dan gempuran artileri.

Kamboja dan Thailand sebelumnya bentrok di perbatasan yang sama antara tahun 2008 dan 2011. Perbatasan yang dipersengketakan tersebut merupakan rumah bagi tiga kuil berusia 1.000 tahun yang dibangun oleh Kekaisaran Khmer.

Yang paling terkenal dari ketiganya – Preah Vihear – adalah Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi subjek kasus terkenal di Mahkamah Internasional pada tahun 1962 antara Thailand dan Kamboja.

Mahkamah Internasional memutuskan mendukung Kamboja pada tahun 1962 dan sekali lagi pada tahun 2013.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN HARI INI. AYUB 1:1-22. TETAP BERSYUKUR DI TENGAH UJIAN

KJ NO.29. Di Muka Tuhan Yesus

Cara Akurat Menghitung Dosis Obat: Rumus dan Contoh Praktisnya