Ikuti 2023-2024, 2025 juga tahun terpanas dalam sejarah

TAHUN 2025 tercatat sebagai satu dari tiga periode 12 bulanan terpanas yang pernah terjadi di Bumi sejauh ini. Analisis para peneliti dari World Weather Attribution (WWA) yang dirilis pada Selasa, 30 Desember 2025, menyebutkan rata-rata suhu global selama tiga tahun terakhir untuk pertama kalinya melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri.
Masyarakat di berbagai belahan dunia menghadapi cuaca ekstrem berbahaya akibat pemanasan global sepanjang 2025. Suhu tetap tinggi meski terjadi La Nina, fenomena pendinginan alami di Samudra Pasifik yang biasanya menurunkan suhu global. Peneliti menyoroti pembakaran bahan bakar fosil—mencakup minyak, gas, dan batu bara—yang terus melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer.
“Jika kita tidak menghentikan pembakaran bahan bakar fosil, segera mungkin dalam waktu dekat, akan sangat sulit mempertahankan ambang pemanasan itu,” kata Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim dari Imperial College London, dikutip dari ulasan ABC News, pada hari yang sama dengan penerbitan riset tersebut.
Dalam riset tersebut, WWA mencatat peristiwa cuaca ekstrem menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar setiap tahunnya. Sepanjang 2025, ilmuwan mengidentifikasi 157 peristiwa cuaca ekstrem paling parah. Ada 22 insiden di antaranya yang dianalisis secara mendalam.
Kondisi panas tahun ini hampir sejajar dengan 2023, tahun terpanas kedua sepanjang sejarah, terutama pada November, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S). Sejak Januari hingga November 2025, suhu rata-rata global tercatat sebesar 1,48 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, sama dengan catatan 2023. Tahun terpanas, merujuk catatan C3S sejauh ini, masih dipegang 2024.
Gelombang panas menjadi peristiwa cuaca ekstrem paling mematikan di dunia pada 2025. Peneliti memperkirakan sejumlah momentum gelombang panas pada tahun ini 10 kali lebih parah dibanding satu dekade lalu. “Hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat ulah manusia,” kata Otto. “Dampaknya sangat besar.”
Studi WWA juga mengingatkan dunia bahwa cuaca ekstrem dapat mengancam kemampuan jutaan orang untuk beradaptasi, karena keterbatasan peringatan dini, waktu, dan sumber daya. Krisis iklim bisa semakin sulit ditangani meningat perundingan iklim COP30 yang digelar di Brasil pada November 2025 berakhir tanpa rencana konkret untuk beralih dari bahan bakar fosil. Meski ada tambahan komitmen pendanaan untuk adaptasi iklim, implementasinya kemungkinan akan memakan waktu.
Peneliti senior dari Columbia University Climate School, Andrew Kruczkiewicz, mengatakan berbagai wilayah kini mengalami bencana yang tidak biasa. Cuaca ekstrem menguat dan semakin kompleks. Kondisi ini menuntut urgensi peringatan dini yang lebih cepat, serta pendekatan baru dalam hal pemulihan pasca-bencana. “Dalam skala global, kemajuan memang terjadi, tapi kita harus berbuat lebih banyak,” ucapnya.
Komentar
Posting Komentar