Produksi pangan terancam, La Nina bayangi panen raya 2026

menggapaiasa.com, JAKARTA — Potensi cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina lemah diperkirakan masih membayangi sektor pertanian pada awal 2026. Risiko ini bertepatan dengan periode krusial panen raya, sehingga memerlukan mitigasi serius agar tidak berdampak pada produksi dan harga pangan.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian memproyeksi cuaca ekstrem akibat La Nina lemah akan berlanjut hingga Januari—Maret 2026.
Curah hujan tinggi diperkirakan terjadi di Sumatra bagian barat, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, berisiko menimbulkan banjir, longsor, dan merusak tanaman pangan yang siap dipanen pada Februari—Maret 2026 jika tidak diantisipasi.
“Kalau tidak diantisipasi bisa menurunkan produksi sebab periode itu adalah panen raya yang jumlah produksinya itu bisa menyumbang lebih dari separuh dari total produksi pangan selama 1 tahun,” kata Eliza kepada Bisnis, Senin (29/12/2025).
Untuk itu, Eliza menuturkan, upaya seperti perbaikan dan pemeliharaan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman, hingga manajemen budidaya yang tepat menjadi krusial untuk menekan potensi kerusakan akibat cuaca ekstrem.
Namun demikian, Eliza menegaskan cuaca ekstrem tidak serta-merta akan menekan produksi jika dihadapi dengan koordinasi yang solid. Menurutnya, kolaborasi dari level petani, penyuluh, dinas pertanian daerah, Kemenko Pangan, Kementerian Pertanian, hingga akademisi sangat diperlukan.
“Kalau dapat diantisipasi dengan baik dan solidnya koordinasi dan kolaborasi, cuaca ekstrem tadi tidak akan signifikan menurunkan jumlah produksi,” tambahnya.
Di sisi lain, Eliza memandang, La Niña lemah juga berpotensi membawa dampak positif. Dia menilai, keberlimpahan air hujan dapat dimanfaatkan untuk mempercepat dan memperluas pola tanam, terutama komoditas pangan seperti padi, baik di lahan sawah irigasi maupun tadah hujan.
Meski stok nasional aman, Core menyampaikan distribusi tersendat bisa membuat harga melonjak dan menurunkan daya beli masyarakat
Selain faktor produksi, Eliza mengingatkan pentingnya mitigasi dari sisi permintaan dan distribusi, terutama menjelang Ramadan yang jatuh pada pertengahan Februari 2026, saat panen raya belum sepenuhnya berlangsung.
Pemerintah, sambung dia, perlu memastikan kelancaran distribusi dan transparansi rantai pasok agar tidak terjadi spekulasi harga.
“Biasanya menjelang Ramadan harga pangan naik, padahal bisa jadi stok nasional aman. Tapi karena distribusinya tidak lancar, akhirnya terjadi lonjakan harga yang sebetulnya bisa diantisipasi,” sambungnya.
Eliza menilai peningkatan produksi tidak akan berarti jika distribusi tersendat dan terjadi asimetri informasi pasar. Kondisi tersebut berpotensi menggerus daya beli masyarakat meskipun data stok nasional menunjukkan posisi aman.
Posting Komentar untuk "Produksi pangan terancam, La Nina bayangi panen raya 2026"
Posting Komentar