Pakar agrometeorologi IPB University: Banjir Sumatra 2025 jadi pembelajaran penting pemanfaatan sains iklim

PIKIRAN RAKYAT - Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada November 2025 menjadi pembelajaran penting mengenai urgensi pemanfaatan sains iklim dalam penanganan bencana hidrometeorologi.
Pakar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University Dr I Putu Santikayasa, mengatakan, sains iklim berperan penting dalam seluruh siklus pengurangan risiko bencana.
Sains iklim berperan mulai dari prabencana, saat bencana, hingga pascabencana. Pada fase prabencana, analisis data historis dan indeks ekstrem dapat digunakan untuk memetakan zona rawan dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Saat bencana, informasi iklim mendukung pengembangan impact-based forecasting agar respons darurat dapat dilakukan secara cepat dan efisien. Sementara pada fase pascabencana, proyeksi iklim jangka panjang dibutuhkan untuk mendukung pemulihan, rekonstruksi, dan adaptasi masyarakat.
“Sistem peringatan memberi kita waktu untuk bersiap, dan infrastruktur adaptif memberi kita kapasitas untuk bertahan,” katanya dalam siaran pers, Senin 29 Desember 2025.
Dia menegaskan bahwa pemanfaatan sains iklim merupakan kunci dalam meningkatkan ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Hal ini pula yang seharusnya menjadi pembelajaran dalam kasus bencana Sumatra. “Kejadian ini menunjukkan bahwa informasi dan analisis iklim memiliki peran strategis dalam mengurangi risiko, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana,” ungkapnya.
Menurut dia, berdasarkan penuturan warga sekitar, peringatan soal longsor yang tertahan di atas bukit sebenarnya telah beredar dari mulut ke mulut sebelum bencana membesar.
Selain itu, BMKG juga telah memperingatkan soal potensi curah hujan yang tinggi di wilayah Sumatra. Fakta ini banyak terekam dalam pemberitaan dan jejak digital.
Dia menuturkan, pada 25 November 2025, lebih dari 50 orang terjebak di tengah hutan selama dua hari dua malam akibat banjir dan longsor.
Salah satu potongan kesaksian warga dari wilayah hulu menyampaikan, “Hati-hatilah kalian sudah longsor ini dari atas. Tanah longsoran sudah tertahan kayu-kayu.”
"Artinya, peringatan soal longsor yang tertahan di atas bukit sebenarnya telah beredar dari mulut ke mulut sebelum bencana membesar," ungkapnya.
Kemudian, berdasarkan peringatan BMKG, kondisi iklim saat kejadian tidak sepenuhnya berada pada situasi normal. “Ada kondisi iklim ekstrem saat banjir Sumatra,” ujarnya.
Menurut dia, variabilitas iklim di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai fenomena, antara lain monsun Asia dan Australia, El Niño–Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), siklon tropis, serta Madden–Julian Oscillation (MJO).
Berdasarkan analisis yang dipaparkannya, pada dasarian terakhir November 2025, IOD berada pada fase negatif lemah dan ENSO menunjukkan kondisi La Niña lemah yang cenderung menuju netral.
Meski demikian, ia menilai faktor yang sangat berpengaruh adalah kemunculan bibit siklon tropis di Selat Malaka yang memicu hujan ekstrem dan memperparah banjir di Sumatra.
“BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mencatat curah hujan di Sumatra bagian utara mencapai lebih dari 300 milimeter. Bahkan, pada 26 November terjadi hujan harian hingga sekitar 438 milimeter, yang setara dengan curah hujan satu bulan dalam satu hari,” katanya.
Kondisi tersebut memperbesar potensi banjir bandang dan longsor yang berdampak luas. Oleh karena itu, dia menegaskan ke depan, penting bagi semua pemangku kebijakan untuk lebih aware dan memanfaatkan sains iklim agar bisa meminimalisasi korban saat terjadi bencana hidrometeorologi. (*)
Posting Komentar untuk "Pakar agrometeorologi IPB University: Banjir Sumatra 2025 jadi pembelajaran penting pemanfaatan sains iklim"
Posting Komentar