Featured Post

Cerita tukang jahit keliling bertahan di tengah modernisasi kota

JAKARTA, menggapaiasa.com Di tepi jalan Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, suara deru mesin jahit manual masih terdengar di antara lalu lalang kendaraan.

Di bawah payung sederhana berwarna merah dan biru, beberapa tukang jahit keliling bertahan menjalankan usahanya, menyatu dengan hiruk-pikuk pasar dan aktivitas warga sekitar.

Pantauan menggapaiasa.com, Selasa (30/12/2025), menunjukkan setidaknya tiga sepeda gerobak jahit berjajar di sisi pagar beton dan trotoar.

Mesin jahit yang tampak sudah berumur diletakkan di atas meja kayu sederhana.

Di sampingnya, meteran, gunting, benang, serta potongan kain tersimpan rapi dalam kotak kayu yang warnanya mulai memudar.

Tangan para tukang jahit bergerak cekatan mengarahkan kain, meski posisi kerja terbuka membuat mereka harus berbagi ruang dengan panas matahari, debu jalanan, dan kebisingan kendaraan.

Sesekali, pelanggan datang membawa celana kerja, seragam sekolah, hingga jaket yang perlu dipermak.

Seorang perempuan tampak duduk di atas sepeda motor, menunggu hasil jahitan sambil memegang pakaian berwarna hijau. Tak ada ruang tunggu, tak ada sekat.

Aktivitas jahit-menjahit berlangsung langsung menghadap jalan raya yang ramai.

Di tengah kondisi kerja yang serba terbatas itu, layanan tukang jahit keliling tetap menjadi pilihan bagi sebagian warga.

Cepat, bisa ditunggu, dan relatif terjangkau.

Bertahan sejak 2014

Salah satu tukang jahit keliling yang masih bertahan di Lenteng Agung adalah Edi (47). Pria asal Garut, Jawa Barat ini sudah menekuni profesi tukang jahit keliling sejak 2014.

“Sejak 2014 saya di sini,” ujar Pak Edi kepada menggapaiasa.comsaat ditemui di Jalan Raya Jagakarsa, Lenteng Agung, Selasa.

Awalnya, ia mangkal di depan pasar lama Lenteng Agung.

Namun, setelah pasar direvitalisasi, para tukang jahit tidak lagi diperbolehkan berjualan di area tersebut.

“Dulu mangkal di depan pasar. Tapi sekarang sudah tidak boleh karena pasar dibangun baru. Jadi pindah ke sini,” kata dia.

Edi mengaku bukan warga asli Jakarta. Ia merantau dari Garut demi mencari penghidupan.

Bertahun-tahun bekerja sebagai tukang jahit keliling membuatnya akrab dengan kerasnya persaingan di sektor informal perkotaan.

“Dulu di sini bisa sampai 20 orang. Sekarang tinggal sekitar enam orang saja. Banyak yang pulang kampung,” ujar Edi.

Saat ini, di lapak tempat Pak Edi bekerja, hanya tersisa tiga tukang jahit.

Sisanya memilih pulang karena penghasilan yang kian tidak menentu.

Permak jadi andalan

Mayoritas pekerjaan yang diterima Edi adalah permak pakaian.

Mulai dari mengecilkan celana, memendekkan lengan baju, hingga memperbaiki resleting yang rusak.

“Kalau bikin baju baru jarang. Kebanyakan permak,” kata Edi.

Tarif yang dipatok pun relatif terjangkau. Permak celana dipatok sekitar Rp 35.000, sementara baju sekitar Rp 20.000.

Harga tersebut bisa berubah tergantung tingkat kesulitan.

Meski begitu, Pak Edi mengakui penghasilannya kini jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Pelanggan masih ada, tapi orang yang mau jahit berkurang. Sementara tukang jahit makin banyak. Jadi rezekinya terbagi,” kata dia.

Tawar-menawar menjadi hal yang tak terpisahkan dari pekerjaannya. Terutama jika pelanggan ibu-ibu.

“Kalau ibu-ibu sudah nawar, ya biasanya saya turutin saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam sehari, penghasilan Edi tidak pernah pasti. Jika sedang sepi, ia hanya mendapat penghasilan pas-pasan.

“Minimal bisa dapat Rp 100.000 sehari. Itu sudah termasuk buat makan, rokok, sama kopi,” kata dia.

Dari penghasilan itu pula, Pak Edi harus menyisihkan uang untuk membayar sewa lapak.

“Iya, kontrak. Sewanya Rp 25.000 per hari,” ujar Edi.

Musim ramai dan pasang logo sekolah

Meski sebagian besar hari terasa berat, ada masa-masa tertentu yang menjadi harapan bagi tukang jahit keliling.

Salah satunya menjelang Lebaran.

“Kalau mau Lebaran itu rame. Seminggu sebelum Lebaran biasanya,” kata Pak Edi.

Menjelang hari raya, warga berbondong-bondong mempermak pakaian agar pas dikenakan.

Selain itu, awal tahun ajaran baru juga menjadi momen penting.

“Kalau tahun ajaran baru, biasanya pasang logo baju sekolah,” ujar dia.

Untuk jasa pasang logo, Pak Edi mematok tarif sekitar Rp 5.000 per logo.

Jika satu baju memiliki beberapa logo, tarifnya bisa mencapai Rp 10.000 atau lebih, tergantung jumlah dan tingkat kerumitan.

Namun, di balik momen ramai itu, ada kekhawatiran lain yang selalu menghantui, yakni penertiban.

Ancaman penertiban

Edi mengaku pernah mengalami razia oleh petugas. Dalam razia tersebut, gerobak jahit miliknya diangkut.

“Pernah. Gerobaknya diangkut,” katanya singkat.

Untuk menebus gerobak, ia harus membayar biaya yang tidak kecil.

“Tebusannya Rp 1.000.000,” ujar Pak Edi.

Hingga kini, gerobak tersebut belum ia tebus karena keterbatasan biaya.

Kondisi ini membuatnya semakin berhati-hati dalam memilih lokasi mangkal.

Meski menggunakan mesin jahit lama dan manual, Edi tetap bertahan. Ia belajar menjahit dari nol, tanpa pendidikan formal.

“Awalnya belajar dulu,” katanya.

Di kawasan Lenteng Agung dan sekitarnya, Edi memperkirakan ada sekitar 50 tukang jahit.

Sebagian besar beroperasi secara keliling, sementara sisanya mangkal di titik tertentu.

Pelanggan setia

Di antara pelanggan yang masih setia menggunakan jasa tukang jahit keliling adalah Siti (38), ibu rumah tangga asal Lenteng Agung.

Siti mengaku sudah lebih dari 10 tahun menjadi pelanggan Edi, sejak masih mangkal di dekat pasar lama.

“Dari dulu saya selalu ke Pak Edi kalau mau permak celana atau baju. Sudah cocok sama hasil jahitannya,” kata Siti.

Menurutnya, harga menjadi alasan utama memilih tukang jahit keliling.

“Kalau ke toko jahit sekarang mahal, bisa dua kali lipat. Di sini masih manusiawi,” ujar Siti.

Selain itu, fleksibilitas juga menjadi nilai tambah. Pakaian bisa ditunggu dan tidak perlu membuat janji terlebih dahulu.

“Kadang cuma potong celana sedikit, bisa langsung jadi,” ucap dia.

Siti berharap keberadaan tukang jahit keliling tidak terus digusur.

“Mereka cari makan juga, dan kami terbantu,” kata dia.

Solusi praktis bagi pekerja

Hal senada disampaikan Rudi (29), karyawan swasta yang sudah tiga tahun terakhir menjadi pelanggan tukang jahit keliling di Lenteng Agung.

“Saya tahu dari teman kantor. Katanya murah dan cepat,” ujar Rudi.

Baginya, tukang jahit keliling menjadi solusi praktis di tengah kesibukan kerja.

“Pulang kerja sudah capek. Kalau ke ruko jahit ribet. Di sini tinggal datang, ukur, jadi,” kata Rudi.

Rudi mengaku jarang menawar harga karena memahami kondisi tukang jahit.

“Harganya sudah murah. Enggak tega kalau ditawar terlalu rendah,” ujar Rudi.

Tidak selalu jadi pilihan

Meski demikian, tidak semua kebutuhan jahit diserahkan ke tukang jahit keliling.

Dewi (34), karyawan swasta asal Jakarta Selatan, mengaku terkadang lebih memilih penjahit yang memiliki toko tetap.

“Kalau cuma permak atau potong celana, saya ke tukang jahit keliling. Tapi kalau bikin baju dari awal, saya ke toko,” kata Dewi.

Menurutnya, sebagian besar tukang jahit keliling memang fokus pada permak, bukan pembuatan pakaian dari nol.

“Kalau mau bikin baju dari awal, kebanyakan tidak terima,” ujar dia.

Menjahit pakaian dari awal membutuhkan ruang, waktu, dan peralatan lebih lengkap.

“Di toko jahit bisa konsultasi model, ukurannya lebih detail, hasilnya lebih rapi,” kata Dewi.

Meskipun begitu, ia menilai tukang jahit keliling tetap penting.

“Dua-duanya saling melengkapi,” ujar Dewi.

Bertahan di tengah kepungan ekonomi modern

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rahkmat Hidayat, menilai keberadaan tukang jahit keliling menunjukkan masih bertahannya sektor informal perkotaan di tengah modernisasi.

“Tukang jahit keliling, tukang sol sepatu, tukang cukur pinggir jalan adalah contoh sektor informal perkotaan,” ujar Rahkmat saat dihubungi.

Menurutnya, sektor ini tidak tercatat secara resmi, bermodal kecil, mudah dibuka, namun juga mudah tutup.

“Di tengah kepungan mal, pusat perbelanjaan, dan e-commerce, sektor informal ini masih bertahan karena ada kebutuhan masyarakat,” kata dia.

Rahkmat menyebut kondisi ini sebagai bentuk kontestasi ekonomi di ruang kota, antara ekonomi formal, ekonomi digital, dan ekonomi informal.

“Sektor informal semakin terpinggirkan, tapi tetap dibutuhkan,” ujar Rakhmat.

Ia menilai tukang jahit keliling masih relevan, terutama pada momen tertentu seperti Lebaran dan tahun ajaran baru.

“Kalau tidak relevan, mereka akan hilang. Tapi faktanya masih bertahan,” kata Rahkmat.

Komentar