Tari sufi jadi tradisi sambut bulan Ramadan di Kriyan Jepara

menggapaiasa.com, JEPARA– Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara terdapat tradisi unik dalam menyambut datangnya Ramadan.
Setiap menjelang Ramadan, digelar tari sufi di halaman Masjid Al-Makmur, Kriyan.
Tarian sufi untuk menyambut Ramadan di pelataran Masjid Al Makmur, Kriyan, digelar setiap Jumat terakhir bulan Syaban atau Ruwah.
Penyelenggaraan tari sufi itu menyedot ribuan animo masyarakat.
Selain dari Kriyan, mereka juga datang dari berbagai desa di Kecamatan Kalinyamatan dan sekitarnya.
Para penari sufi itu merupakan santri Pondok Pesantren Nailun Najah, Kriyan.
Sebanyak 40 menari dalam tiga sesi sebagai tarian pembuka, hiburan, dan penutup.
Para penari mengenakan tenur atau busana khas tari sufi, berupa pakaian serbaputih mirip jubah.
Mereka mengenakan penutup kepala berupa sikke atau peci tinggi, yang melambangkan batu nisan sebagai simbol kematian ego sebelum kematian fisik.
Di halaman Masjid Al Makmur, para penari sufi berputar-putar sembari mengerakkan tangan kanan terbuka menengadah ke atas dan tangan kiri menghadap ke bawah.
Gerakan itu merupakan simbol bahwa menyambut rahmat Allah sepanjang Ramadan berlangsung, seraya membagikan rahmat dan keberkahan yang diterima kepada sesama manusia.
Mereka menari selama 10 hingga 15 menit, disaksikan ribuan warga yang hadir langsung di pelataran Masjid Al-Makmur.
Salah satu pengunjung, Maftuchah (29), mengaku tertarik dengan tari sufi yang memiliki gerakan khas dengan cara berputar-putar.
Dia bersama keluarga pun menyempatkan diri untuk melihat langsung penampilan tari sufi di pelataran Masjid Al Makmur Kriyan.
"Memang setiap tahun ini digelar sangat ramai. Meski waktunya sebentar, tapi warga pada datang sampai halaman masjid penuh sesak," kata Maftuchah.
Dia berharap, tari sufi bisa digelar rutin setiap tahun.
“Jika perlu digelar berulang kali pada momentum tertentu, seperti menyambut Ramadan atau tahun baru Islam,” katanya.
Syiar
Pengasuh Ponpes Nailun Najah Kriyan, Muhammad atau Gus Mad menuturkan, tari sufi ini digelar dalam rangka menyambut Ramadan.
Selain sebagai sarana hiburan, dia ingin tarian sufi ini menjadi tradisi yang bisa memberikan edukasi dan syiar kepada masyarakat agar menyambut Ramadan dengan bahagia dan penuh suka cita.
"Ini tarian kebahagiaan, kalam cinta kepada Sang Kekasih,” kata Gus Mad kepada Tribun Jateng.
“Tentu bulan Ramadan jangan dianggap sebagai beban, tetapi sebagai bulan istimewa yang disambut bahagia," sambungnya.
Gus Mad menyebut, pada dasarnya tidak ada rittual khusus yang dijalankan para penari sebelum tampil menari sufi.
Biasanya hanya dengan melaksanakan berwudu, tawasul yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, Syekh Jalaluddin Rumi, hingga para mursyid atau guru untuk memohon keberkahan dan ketenangan hati.
Dia menyebut bahwa tarian sufi juga bisa diartikan sebagai corong ekspresi yang melambangkan kerinduan dan cinta.
Tarian yang dilakukan dengan cara berputar berlawanan arah jarum jam menandakan perputaran alam semesta, serta zikir yang dilafalkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dia berharap, lewat tarian sufi ini bisa menjadi tradisi yang positif yang bisa diuri-uri setiap tahunnya.
"Tangan kanan yang menengadah ke atas simbol mengharap Rahmat, sementara tangan kiri menghadap ke bawah bermakna menyebarkan cinta, menebarkan kebaikan kepada sesama,” katanya.
“Jangan sampai ketika mendapat nikmat anugerah dari Allah, kita simpan sendiri, tidak menyebarkan ke tetangga dan sesama," imbuhnya.
Salah satu santri, Muhammad Maknun (21) menyatakan, sudah lima tahun ini menjadi penari sufi.
Menurut dia, tarian sufi bukan sekadar tarian biasa, melainkan jembatan spiritual bagi penari dalam membawa ketenangan dalam hidup.
"Lebih menambah spiritual dan merasa tenang karena tari sufi itu tujuannya untuk mengingat Sang Pencipta," ujar Maknun.
Dia mengaku tertarik menjadi penari sufi berawal dari kegiatannya selama nyantri di Ponpes Nailun Najah.
Pada awalnya dia tidak tahu apakah dia bisa menjadi bagian dari penari sufi yang profesional.
Namun, dengan latihan sungguh-sungguh dalam lima tahun terakhir, akhirnya dia bisa menari sufi dengan lembut dan merasakan ketenangan batin dalam menjalani hidup.
"Dengan menari bisa melatih fokus dan berzikir ketika menari," imbuhnya. (Saiful Ma'sum)
Komentar
Posting Komentar