- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir menilai pentingnya organisasi bisa memastikan penggunaan kecerdasan buatan alias AI bisa memberikan nilai nyata sekaligus dikelola secara bertanggung jawab. "Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai industri, Veda Praxis membantu organisasi memastikan bahwa penggunaan AI memberikan nilai nyata sekaligus dikelola secara bertanggung jawab," kata Syahraki dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 15 Februari 2026.
Veda Praxis adalah konsultan manajemen terdepan di Asia Tenggara dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang digital, GRC, dan cybersecurity. Dalam mengembangkan solusi, Veda Praxis mengintegrasikan berbagai perspektif yang didapatkan melalui kolaborasi dan partisipasi aktif di industri.
Syahraki mengatakan pendampingan oleh timnya difokuskan pada pembentukan kerangka tata kelola yang jelas, penerjemahan prinsip AI ke dalam kebijakan dan proses operasional, serta penilaian kesiapan organisasi agar adopsi AI selaras dengan tujuan bisnis, profil risiko, dan ketentuan regulasi.
Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan tonggak penting dalam pengelolaan kecerdasan artifisial (AI) dengan meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk Artificial Intelligence Management System (AIMS) bersama Veda Praxis.
BCA menjadi organisasi pertama di Indonesia, bank pertama di Asia Tenggara, sekaligus bank konvensional pertama dan salah satu dari 100 organisasi pertama di dunia yang berhasil mendapatkan sertifikasi manajemen AI tersebut.
ISO/IEC 42001:2023 merupakan standar global yang mengatur sistem manajemen AI, mencakup aspek tata kelola, manajemen risiko, transparansi, serta akuntabilitas penggunaan AI. Di sektor perbankan, standar ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, pencegahan fraud, hingga layanan nasabah.
Sertifikasi tersebut diserahkan pada Jumat, 6 Februari 2026, di Menara BCA. Seremoni penyerahan dihadiri oleh Direktur BCA Lianawaty Suwono, Senior EVP Group Strategic Information Technology BCA David Formula, EVP Enterprise IT Architecture, Data Management, Service Quality Group BCA Lily Wongso, serta CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir.
Pada kesempatan yang sama, BCA juga meraih sertifikasi ISO 27701:2019 untuk Privacy Information Management System, sebuah standar internasional terkait pengelolaan privasi dan perlindungan data. Kedua sertifikasi ini tidak hanya mencerminkan pemenuhan kepatuhan terhadap standar global, tetapi juga usaha BCA dalam menjaga keamanan dan kepercayaan nasabah di tengah percepatan transformasi digital.
“Kepercayaan nasabah menjadi fondasi utama bagi keberhasilan yang telah diraih oleh BCA sejauh ini. Sertifikasi ISO privasi data dan kelola AI ini menjadi bukti komitmen kami dalam menjaga kepercayaan dan keamanan data nasabah, sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab,” ujar Direktur BCA Lianawaty Suwono.
Dalam proses sertifikasi ISO 42001, Veda Praxis bekerja bersama BCA untuk memastikan kerangka tata kelola AI terintegrasi secara utuh dengan tata kelola perusahaan dan sistem manajemen risiko yang telah berjalan. Pendekatan yang diterapkan harapannya bisa untuk memperkuat struktur dan kejelasan akuntabilitas, sekaligus menempatkan pemanfaatan AI sebagai bagian dari proses bisnis dan pengambilan keputusan, bukan semata pemenuhan persyaratan administratif.
Pencapaian ini merupakan tonggak penting bagi industri jasa keuangan. Ketika AI semakin memengaruhi pengambilan keputusan dan layanan publik, tata kelola AI menjadi isu strategis, bukan lagi sekadar isu teknis. "Semoga sertifikasi ini dapat menjadi katalis bagi penguatan praktik penggunaan AI yang bertanggung jawab dan beretika, baik di tingkat industri, nasional, maupun kawasan Asia Tenggara. Kami bangga dapat mendampingi BCA dalam langkah penting ini,” ujar Syahraki Syahrir.
Pencapaian BCA dalam meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 menandai langkah penting bagi penguatan tata kelola AI di kawasan. Di tengah percepatan adopsi AI, tonggak ini menunjukkan bagaimana organisasi dapat mengambil peran kepemimpinan dengan menempatkan tata kelola, akuntabilitas, dan kepercayaan publik sebagai fondasi inovasi. Lebih dari capaian institusional, langkah ini memberi arah bagi Indonesia dan kawasan ASEAN dalam membangun praktik tata kelola AI yang bertanggung jawab.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar