Merawat tenun Sumba agar tetap lestari

PEREMPUAN Asli Sumba Diana Kalera Lena mengingat kalimat yang selalu terngiang baginya soal tenun. "Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 12 Februari 2026.

Wanita asal Nusa Tenggara Timur ini menyampaikan pandangannya itu saat berbicara pada siniar di mini studio BCA Expoversary 2026 awal Februari 2026.

Menurut Diana, menenun bukan sekedar keterampilan, melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia. Hal ini juga terjadi pada dirinya. “Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun saya sudah membantu ibu saya, dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” ujar Diana.

Lekatnya keterikatan tradisi menenun dengan kehidupan dan identitas perempuan di Sumba tidak lepas dari perhatian PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Kelompok penenun di Sumba mendapatkan pelatihan wastra warna dengan menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut.

Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari 4 komunitas, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25 - 45 tahun. Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan laki - laki sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam.

Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya. Ia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.

Menurut Diana, keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur. “Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam ini,” katanya.

Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami. Melalui pelatihan wastra warna alam Bakti BCA, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur. Para penenun diperkenalkan pada bahan-bahan alami serta tahapan pengolahan hingga penerapannya pada benang dan kain, sehingga mampu menguasai proses produksi secara lebih utuh.

Ilmu yang diperoleh dari program ini membantu para penenun menghasilkan karya bernilai tambah yang menjadi sumber penghasilan. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat nilai budaya wastra Sumba, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.

Diana berharap, ke depannya kain tenun Sumba bisa memiliki nilai ekonomi, setelah sebelumnya hanya identik sebagai cenderamata dan perlengkapan upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Dia juga berharap komunitas penenun di Sumba bisa menarik perhatian dunia terhadap adanya warisan budaya leluhur yang sampai kini terus terjaga. "Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentunya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” kata Diana.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan timnya berupaya mempermudah akses produk-produk yang dihasilkan komunitas agar semakin dikenal banyak orang, dan meluas pasarnya. Menurut Hera, para penenun Sumba sebagai tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia harus mendapatkan dukungan. Harapannya keahlian penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern. "Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari ekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” ujar Hera.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN HARI INI. AYUB 1:1-22. TETAP BERSYUKUR DI TENGAH UJIAN

KJ NO.29. Di Muka Tuhan Yesus

Cara Akurat Menghitung Dosis Obat: Rumus dan Contoh Praktisnya