Featured Post

Beramai-ramai jalan kaki sembari bernyanyi, Paguyuban Irjaki Wonosobo rangkul lansia bersosialisasi

Beramai-ramai jalan kaki sembari bernyanyi, Paguyuban Irjaki Wonosobo rangkul lansia bersosialisasi

menggapaiasa.com, WONOSOBO - Di tengah kekhawatiran banyak orang tentang masa usia senja dan kesehatan menurun, Komunitas Irjaki memilih cara lain berjalan kaki, tertawa, dan membangun keguyuban.

Irjaki merupakan kependekan dari Irama Jalan Kaki.  

Berawal dari rasa sepi selepas pensiun, Budi Santoso tak menyangka langkah kecilnya di Alun-alun Wonosobo akan menjelma menjadi paguyuban beranggotakan ratusan orang.

Dari sekadar duduk dan berbincang dengan 10 teman, kini Komunitas Irjaki telah menghimpun 300 anggota lintas latar belakang.

“Awalnya saya bekerja di Pemda Banjarnegara, lalu pensiun. Di situasi ini, saya ngga punya teman. Saat itu duduk di alun-alun, ada teman berbincang 10 orang, terus malah berkembang jadi 20 orang,” ujar Budi mengenang awal mula terbentuknya Irjaki.

Hingga akhirnya pada 15 Desember 2019, paguyuban Irama Jalan Kaki (Irjaki) ini terbentuk.

“Maksud dari nama komunitas yaitu kita jalan sambil bernyanyi. Alhamdulillah bisa terus berjalan sampai sekarang,” katanya.

Dari pantauan Tribun Jateng di lapangan, Jumat (13/02/2026), ratusan orang yang didominasi usia lanjut berkumpul di Alun-alun Wonosobo. Laki-laki dan perempuan membentuk lingkaran.

Ada yang membuka acara, ada pula yang memimpin doa. Suasana pagi itu cerah. Dua gunung ikon Wonosobo, Sindoro dan Sumbing, tampak jelas tanpa tertutup hujan yang biasanya turun. 

Musik diputar dari sebuah speaker yang dibawa menggunakan sepeda tua bertuliskan Irama Jalan Kaki (Irjaki). Di boncengan sepeda, terpasang alat speaker dan bendera Irjaki. Kegiatan pagi itu adalah Jumat Berkah.

Dua keranjang besar berisi nasi megono dan tempe kemul khas Wonosobo disiapkan. 

Makanan tersebut dinikmati anggota dan dibagikan kepada masyarakat umum di kawasan alun-alun usai berjalan kaki. Suasana kerukunan begitu terasa.

Musik yang diputar semakin menghangatkan hubungan antaranggota. Mayoritas anggota Irjaki adalah pensiunan yang ingin tetap aktif di masa tua.

Namun paguyuban ini terbuka bagi siapa saja, termasuk anak muda.

“Anggotanya berbagai macam kalangan ada pengusaha, pedagang, mayoritas pensiunan yang mencari kegiatan di masa tua. Kebanyakan memang orang yang sudah tua,” jelas Budi.

Tujuan utamanya paguyuban ini sederhana, yakni menjaga kesehatan.

“Kita perbanyak jalan kaki untuk mengantisipasi adanya penyakit saat tua jadi jalan untuk jaga kesehatan,” ujarnya.

Rutinitas dimulai pukul setengah delapan pagi hingga sekitar pukul sembilan. Setelah berjalan kaki, kegiatan dilanjutkan dengan bernyanyi bersama.

“Setiap pagi kita jalan dulu, nanti dilanjutkan dengan nyanyi, baru bubar. Kalau Rabu kita senam,” kata Budi.

Budi menyebut, bahkan saat bulan puasa, aktivitas ini akan tetap berjalan.

“Puasa tetap jalan tapi tanpa makan atau seperti Jumat Berkah seperti hari ini,” ucapnya.

Irjaki memiliki semboyan yang selalu diteriakkan bersama yakni “Tulang Kuat Badan Sehat Huu Haa Sehat Semangat Bahagia”.

Budi merangkum filosofi kegiatan mereka dalam satu kalimat. “Olahraga dulu, olah vokal biar fresh jiwanya, dan olah spiritual,” sebutnya.

Irjaki juga rutin menggelar Jumat Berkah dengan membagikan makanan kepada masyarakat. Dana kegiatan berasal dari sedekah sukarela anggota.

“Jumat berkah itu sedekah untuk yang mau, silahkan. Alhamdulillah setiap Jumat ada yang sodaqoh bisa buat beli makan dan dibagi bagikan untuk masyarakat umum,” ujar Budi.

Ia menegaskan, tidak ada iuran wajib dalam paguyuban ini. Kebersamaan menjadi kekuatan utama paguyuban ini.

“Kami berprinsip ngga narik iuran, sistemnya sedekah seikhlasnya saja,” tegasnya.

Irjaki tak hanya berkegiatan di alun-alun saja. Setiap Lebaran mereka pun menggelar halalbihalal. Bahkan, baru-baru ini sekitar 200 anggota sempat berwisata ke pantai di luar kota.

“Nanti yang akan datang, kami berencana menginap di The Mobby Park bersama-sama anggota,” ungkap Budi.

Pada 2025, kepengurusan diperbarui sebagai bentuk penyegaran. Kini, dari yang semula hanya 10 orang, Irjaki menjelma menjadi komunitas dengan 300 anggota. 

“Senang guyub rukun saudara semakin erat. Kesehatan jadi utama," tandasnya. (Imah Masitoh)

Komentar