Update geopolitik, WEF Davos 2026 diwarnai ketegangan AS dan Eropa

menggapaiasa.com, JAKARTA — Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss, diwarnai meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa.
Para pemimpin dunia memperingatkan tergerusnya tatanan global berbasis aturan, menguatnya unilateralisme, serta ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan tenaga kerja global.
Dikutip melalui Euro News, memasuki puncak perhelatan pada Rabu (21/1/2026), perhatian peserta forum tertuju pada kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyampaikan pesan keras di tengah kekhawatiran global.
Selama beberapa hari pertama WEF, diskusi didominasi isu ancaman tarif AS terhadap negara-negara Eropa terkait tuntutan Washington atas Greenland, yang memicu peringatan akan retaknya aliansi transatlantik.
Kehadiran Trump telah membayangi forum sejak awal melalui unggahan media sosial dan bocoran pesan pribadi, termasuk surat kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre yang mengaitkan tuntutan Greenland dengan kegagalannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Trump dijadwalkan tiba di Davos dengan delegasi AS terbesar sepanjang sejarah WEF, meski sempat mengalami kendala penerbangan.
Dalam pidatonya, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan peringatan paling banyak dikutip terkait pergeseran dari multilateralisme. Ia menggambarkan dunia yang bergerak menuju kondisi tanpa aturan, di mana hukum internasional diabaikan dan hukum terkuat yang berlaku.
“Kami lebih memilih penghormatan daripada perundungan, dan supremasi hukum dibandingkan kebrutalan,” kata Macron.
Peringatan serupa disampaikan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang menyebut dunia tengah berada dalam “sebuah keretakan, bukan transisi.” Menurutnya, tatanan global lama tidak akan kembali, dan negara-negara kekuatan menengah harus bertindak bersama agar tidak terpinggirkan dalam rivalitas kekuatan besar.
Ketegangan juga tercermin dari pernyataan Gubernur California Gavin Newsom yang secara terbuka mengkritik sikap lunak para pemimpin Eropa terhadap tuntutan AS. Newsom mendesak Eropa untuk bersikap lebih tegas dalam menghadapi tekanan Washington.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyerukan agar AS dan Eropa menghindari eskalasi konflik dagang. Ia memperingatkan bahwa pertikaian transatlantik justru akan menguntungkan pihak-pihak yang ingin melemahkan Barat, termasuk Rusia.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengingatkan bahwa perhatian dunia yang teralihkan ke isu Greenland berisiko mengurangi fokus terhadap perang Rusia di Ukraina. Dia menegaskan Ukraina masih membutuhkan dukungan penuh dari negara-negara Eropa dan sekutu.
Di sisi ekonomi, Presiden WEF Børge Brende menyatakan kekhawatiran terbesar forum adalah potensi eskalasi konflik global yang dapat mematikan pertumbuhan ekonomi dunia. Pemerintahan AS melalui Perwakilan Dagang Jamieson Greer membela kebijakan tarif sebagai instrumen geopolitik yang sah, sembari memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak melakukan pembalasan.
Isu kecerdasan buatan juga menjadi sorotan utama. CEO BlackRock Larry Fink mengakui kritik bahwa WEF kerap dianggap tidak selaras dengan kondisi publik, serta memperingatkan bahwa AI berpotensi memperparah ketimpangan jika manfaatnya hanya dinikmati pemilik modal dan teknologi.
Senada, CEO Palantir Alex Karp memperkirakan AI akan menghilangkan banyak pekerjaan di bidang humaniora dan pekerjaan kantoran, meski membuka peluang besar bagi tenaga kerja dengan keterampilan vokasional. Ia juga menilai Eropa tertinggal dari Amerika Serikat dan China dalam adopsi teknologi AI.
WEF 2026 kembali menegaskan bahwa forum ekonomi global tersebut kini tak hanya menjadi arena diskusi pertumbuhan dan inovasi, tetapi juga panggung utama perdebatan geopolitik, keamanan, dan masa depan dunia kerja.
Posting Komentar untuk "Update geopolitik, WEF Davos 2026 diwarnai ketegangan AS dan Eropa"
Posting Komentar