Haji ramah lansia dan perempuan, Alissa Wahid ingatkan mitigasi kebutuhan jamaah

menggapaiasa.com - Pelayanan terhadap jamaah lansia dan perempuan menjadi sorotan dalam penyelenggaraan haji beberapa tahun belakangan.
Karena itu, tahun ini Kementerian Haji dan Umrah mencanangkan Haji Ramah Lansia dan Perempuan, untuk memaksimalkan layanan terhadap jamaah lansia dan perempuan.
Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan, ada tiga tantangan utama dalam pelayanan haji lansia.
Pertama adalah tantangan kondisi kehidupan normal mereka sebagai lansia. Kemudian tantangan keberadaan lansia di negara lain, dan tantangan adaptasi terhadap teknologi.
Tantangan itu masih ditambah dengan kondisi jamaah lansia secara umum. Mulai dari kapasitas fisik dan mental yang menurun, hingga konteks kehidupan lansia yang berubah.
"Jamaah lansia mudah tertekan, dan biasanya berujung pada emosi," terang Alissa saat Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Selasa (20/1).
Begitu pula tantangan melayani jamaah perempuan. Mulai dari jumlah pendamping perempuan yang belum banyak, fasilitas ramah perempuan yang masih terbatas, hingga penggunaan kacamata laki-laki dalam mengurus jamaah haji perempuan.
"Jumlah kamar mandi laki-laki dan perempuan masih sama. Padahal durasi perempuan di kamar mandi lebih lama" tutur putri sulung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu.
Karena itu, saat ia menjadi bagian Amirul Hajj pada 2023, Alissa dan tim petugas haji berimprovisasi. Di waktu-waktu tertentu, separuh toilet untuk jamaah laki-laki digunakan untuk perempuan.
Tantangan lainnya adalah perlengkapan perempuan yang lebih banyak dari jamaah laki-laki.
Menurut Alissa, ada beberapa hal baru yang akan dialami banyak jamaah lansia saat haji.
Mulai dari pertama kali naik pesawat, atau pertama kali ke luar negeri. "Ada dari mereka yang baru pertama kali keluar dari kecamatannya," lanjut Alissa.
Sebagian lansia juga akan mengalami pengalaman pertama bertemu orah berbahasa asing dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak ia kenal dekat.
Karena itu, Alissa beberapa kali menyampaikan masukan kepada pemerintah dalam menyelenggarakan haji yang lebih ramah lansia dan perempuan.
"Karena itu (haji) Ramah Lansia artinya semua mekanismenya dibuat untuk kebutuhan para lansia," jelasnya.
Segala kebutuhan lansia dan perempuan harus dimitigasi sejak awal dan disiapkan agar saat mereka berada di tanah suci tidak lagi kebingungan dalam mengakses layanan haji yang dibutuhkan.
Dalam pelayanan lansia dan perempuan, petugas haji menjadi ujung tombak. Menurut Alissa, hal utama yang paling dibutuhkan jamaah haji lansia adalah rasa aman. Rasa aman itu didapat ketika mereka melihat petugas haji.
"Seragam petugas adalah sumber rasa aman bagi jamaah. Ketika jamaah liat petugas haji, dia akan merasa aman. Tahu akan ada pertolongan," jelasnya.
Bila petugas haji sigap melayani, maka berbagai risiko yang mungkin meniimpa jamaah lansia bisa diminimalisir. Itulah mengapa para petugas dibekali seragam khusus yang menunjukkan bahwa mereka adalah petugas haji.
"Para petugas haji adalah sumber rasa aman, sumber rasa nyaman bagi para jamaah haji terutama jamaah haji lansia dan perempuan. Harus disiapkan," imbuh Alissa.
Posting Komentar untuk "Haji ramah lansia dan perempuan, Alissa Wahid ingatkan mitigasi kebutuhan jamaah"
Posting Komentar