Di tengah kemajuan zaman, servis termos air masih diminati warga di Kabupaten Majalengka

PIKIRAN RAKYAT - Servis termos air masih diminati banyak orang di wilayah Kabupaten Majalengka. 

Pekerjaan servis termos pun masih bisa diandalkan sebagai pencaharian utama bagi Udin (53) asal Desa Rajagaluh, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka.

Udin megaku setiap hari berjalan sejauh kurang lebih 25 kilometer, menyusuri jalan dan gang di desa – desa di Kabupaten Majalengka dan Sumedang sambil memikul beberapa termos bekas beragam jenis menawarkan jasa service termos yang menjadi keahliannya. 

Saking seringnya mengunjungi pelanggan di tiap desa, dia cukup akrab dengan setiap orang karena sering dikunjunginya.

“Ada sepanjang 25 kilometer setiap hari  saya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kuat keneh leumpang sakitu mah, dan mun teu leumpang ke langganan kaliwat,” kata Udin.

Dari jasa servis termos tersebut, Udin bisa memberi belanja istrinya serta menyekolahkan anak – anaknya hingga tamat SMA. Anak bungsunya kini masih duduk di bangku kelas III SD. Dalam sehari dia memperoleh pendapatan kotor sebesar Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

“Pendapatan bersihnya sekitar Rp 100.000, saya biasa sambil jual beli termos bekas,” ungkapnya, Jumat 2 Januari 2026.

Termos bekas yang telah di servis dijual seharga Rp 30.000 untuk termos biasa, dan termos pompa seharga Rp 40.000. Dia harus mengganti kaca dalam atau mengganti luarnya serta upah mencuci karena termos dari warga biasanya sudah kusam.

Udin biasa membeli termos rusak dari warga seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000, kerusakannya pada umumnya terjadi pada kaca dalam atau casing luarnya yang pegangannya putus.

“Kaca dalam ada jualannya, saya disuplai dari orang lain, “ kata Udin. Dia juga memberi garansi manakala termos bekas yang dibeli darinya ternyata panas airnya hanya bertahan beberapa jam saja.

Keahlian servis termos diperoleh dari mertuanya sejak tahun 2000. Begitu mertuanya meninggal, dia langsung melanjutkan usahanya, berusaha berkeliling ke desa – desa menemui mereka yang telah menjadi pelanggannya.

Saat keliling udin hanya sesekali meneriakan “termos – termos” atau “bu bade servis termos”. Setelah itu dia duduk di tempat yang biasa dilakukannya, seperti depan warung atau di bawah pohon yang berada di Kawasan pemukiman warga.  

Jika ada yang butuh bantuannya, maka warga langsung datang melakukan konsultasi ketusakan dan negosiasi harga servis. Adu tawarpun terjadi hingga dicapai kesepakatan harga.

Tak jarang diapun mendapatkan termos kecil yang biasa digunakan bepergian dengan mudah, barang tersebut dia jual setelah diperbaiki.

“Nu kieu mah paling klepna, kamari mah aya 5 tos pajeng sapalih diical salawean,” ungkapnya.

Salah satu pelanggannya adalah Halimah pemilik warung di Kelurahan Majalengka Wetan, dia sering melakukan servis karena termos airnya pecah akibat terjatuh.

Karena telah menjadi pelangganya maka jasa servis pun diberikan lebih murah dibanding ke konsumen lainnya.

“Sering mamang ini mah ke sini, biasa mangkal disini, kalaua da barang yang lebih bagus bisa dipesen,” katanya sambil memesan termos air besar yang ditekan. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN HARI INI. AYUB 1:1-22. TETAP BERSYUKUR DI TENGAH UJIAN

KJ NO.29. Di Muka Tuhan Yesus

Cara Akurat Menghitung Dosis Obat: Rumus dan Contoh Praktisnya