- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

menggapaiasa.com, BATANG -Di balik angka miliaran rupiah hasil Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang tahun 2025, ada cerita tentang rumah-rumah reyot yang perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak bagi warga kecil.
Ketua PMI Batang, Achmad Taufiq, mengungkapkan bahwa total pengumpulan Bulan Dana tahun 2025 mencapai lebih dari Rp1,7 miliar.
Menariknya, dana tersebut hingga kini masih utuh dan belum digunakan.
“Ini murni pendapatan Bulan Dana tahun 2025. Masih utuh semuanya,” kata Achmad Taufiq kepada Tribunjateng, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan, bantuan kebencanaan yang sebelumnya disalurkan ke wilayah terdampak bencana seperti Sumatera, Cilacap, dan Banjarnegara bukan berasal dari dana Bulan Dana 2025, melainkan dari kas PMI yang telah tersedia sebelumnya.
Sesuai regulasi, PMI Batang wajib menyetorkan 10 persen dari hasil pengumpulan ke PMI Provinsi Jawa Tengah sebagai Sumbangan Wajib Bulan Dana (SWBD).
Sisanya, 90 persen, akan difokuskan untuk program kemanusiaan di Kabupaten Batang.
Dana tersebut nantinya akan dibagi ke berbagai program prioritas yang ditetapkan melalui musyawarah kerja (musker) PMI Batang.
Salah satu program unggulan yang paling dirasakan masyarakat adalah pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Sepanjang tahun 2025, PMI Batang menargetkan pembangunan 30 unit rumah, namun realisasinya justru melampaui target.
“Targetnya 30 titik, terealisasi 33 titik,” ujarnya.
Setiap rumah mendapatkan bantuan maksimal Rp15 juta. Namun dalam praktiknya, besaran bantuan disesuaikan dengan hasil asesmen di lapangan.
Tidak semua penerima memperoleh bantuan penuh.
“Ada yang cukup 10 juta, ada yang 7 juta. Itu tergantung kondisi rumahnya. Kalau belum layak dibantu satu paket, ya kami sesuaikan,” jelasnya.
Selain program RTLH, PMI Batang juga menyalurkan berbagai bantuan sosial lain bagi masyarakat kurang mampu, meski tidak semuanya masuk dalam kategori RTLH.
Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti partisipasi kecamatan dalam Bulan Dana PMI.
Ia mengapresiasi kecamatan yang berhasil melampaui target pengumpulan, di antaranya Kandeman, Warungasem, Bandar, dan Wonotunggal.
“Kecamatan-kecamatan itu sudah lebih dari 100 persen,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan pentingnya komitmen semua pihak, karena capaian pengumpulan dana kerap menjadi sorotan publik.
“Kalau tidak terpenuhi, nanti jadi pertanyaan macam-macam,” imbuhnya.
Ke depan, PMI Batang juga mulai mempertimbangkan sistem donasi digital, seperti penggunaan QRIS, agar masyarakat lebih mudah berdonasi.
“Untuk 2026 nanti akan kami pikirkan. Digitalisasi ini memang kami rasakan penting,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui sistem digital juga memiliki tantangan, terutama bagi masyarakat yang belum terbiasa menggunakan ponsel pintar.
Dari miliaran rupiah dana kemanusiaan yang terkumpul, harapan sederhana warga Batang terus dititipkan: rumah yang layak, bantuan saat bencana, dan uluran tangan di saat paling dibutuhkan.
PMI Batang kini bersiap memastikan dana tersebut benar-benar kembali ke masyarakat yang membutuhkan. (Ito)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar