Featured Post

Warga Kamboja demo desak gencatan senjata dengan Thailand

PULUHAN ribu warga Kamboja menggelar unjuk rasa damai pada Kamis di tengah konflik perbatasan yang sedang berlangsung dengan Thailand. Seperti dilaporkan Anadolu, para peserta mendesak pemerintah dan pihak Thailand menghormati perjanjian gencatan senjata.

Massa berkumpul di ibu kota, Phnom Penh, untuk menyerukan perdamaian menyusul konflik yang sedang berlangsung sejak 7 Desember dan berlanjut hingga hari ke-12. Bentrokan ini telah menewaskan sedikitnya 55 orang dari kedua belah pihak. Konflik juga memaksa hampir satu juta warga dari kedua negara mengungsi dari perbatasan.

Menurut otoritas Thailand, 21 tentara Thailand dan 16 warga sipil telah tewas dalam konflik tersebut, sementara Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengatakan 18 warga sipil Kamboja tewas dan 78 lainnya terluka.

Acara tersebut, yang diselenggarakan oleh Persatuan Federasi Pemuda Kamboja (UYFC), bertujuan tidak hanya untuk menunjukkan “komitmen Kamboja terhadap perdamaian tetapi juga untuk mendesak penghormatan terhadap gencatan senjata dan perjanjian perdamaian antara Kamboja dan Thailand,” menurut kantor berita milik negara, Agence Kampuchea Presse.

Memimpin pawai tersebut, kepala UYFC Hun Many mengatakan, “Kami semua menyaksikan konsekuensi perang. Ini adalah bentrokan perbatasan kedua dalam konflik tujuh bulan ini, dan rakyat Kamboja sepenuhnya menyadari bahaya perang.”

Secara terpisah, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk mengatakan ia prihatin dengan laporan bahwa “daerah di sekitar desa dan situs budaya dihantam oleh jet tempur, drone, dan artileri.”

“Berdasarkan hukum humaniter internasional, sangat jelas bahwa perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil adalah yang terpenting,” kata Turk, seraya mendesak kedua belah pihak untuk “segera menghentikan tembakan dan kembali berdialog.”

Thailand Bombardir Kamboja

Pada Kamis, Thailand melakukan serangan udara lebih lanjut di Kamboja, dan mengklaim bahwa jet tempurnya menghantam sebuah gudang tempat tentara Kamboja menyimpan roket yang telah digunakan secara mematikan dalam pertempuran yang dimulai pekan lalu.

Sejak pertempuran dimulai, bentrokan meletus di beberapa front. Thailand melakukan serangan udara di Kamboja menggunakan jet tempur F-16, sementara Kamboja memebalas dengan menembakkan ribuan roket BM-21 jarak menengah dari peluncur yang dipasang di truk yang dapat menembakkan hingga 40 roket sekaligus.

Kamboja melaporkan pada Kamis bahwa jet Thailand telah menjatuhkan bom di Poipet, sebuah kota di barat laut Kamboja yang pada masa damai merupakan pusat utama perdagangan daratnya dengan Thailand dan pusat kasino. Dikatakan bahwa jet F-16 Thailand telah menjatuhkan tiga bom di lingkungan perumahan sipil, merusak sebagian gudang dan menyebabkan luka ringan pada dua warga sipil.

Bentrokan terus berlanjut meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump pekan lalu mengatakan bahwa para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menghentikan pertempuran yang kembali terjadi.

Kedua negara menandatangani perjanjian perdamaian pada Oktober di Kuala Lumpur di hadapan Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, perjanjian itu kemudian ditangguhkan sebulan kemudian setelah tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat di provinsi perbatasan.

Thailand dan Kamboja memiliki sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama dan berulang kali memicu kekerasan, termasuk bentrokan pada Juli yang menewaskan sedikitnya 48 orang.

Komentar