- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

menggapaiasa.com, JAKARTA - Pasar elektronik rumah tangga di Indonesia diperkirakan masih melambat pada 2026. Kondisi ini membuat para produsen tidak berani menetapkan target pertumbuhan tinggi seiring pelemahan daya beli.
National Sales Senior General Manager Sharp Indonesia Andry Adi Utomo mengatakan, kondisi pasar elektronik nasional saat ini masih berada pada fase tekanan.
“Kalau lihat dari trennya, belum ada growth [pertumbuhan pada 2026],” ujarnya saat berbincang dengan Bisnis, beberapa waktu lalu.
Andri menyebut, tahun ini saja, kategori lemari es permintaannya turun hingga 34%, disusul LCD TV 23%, dan AC sekitar 15–18%. Sementara itu, satu-satunya kategori yang relatif stabil adalah mesin cuci.
Andry menjelaskan penurunan permintaan ini dipicu melemahnya daya beli masyarakat dan menurunnya trafik pembelian ritel. Tren tersebut diperparah cuaca yang tidak menentu sepanjang 2025.
Penjualan produk-produk elektronik di Indonesia, tidak dipungkiri juga tergantung pada musim.
“Kalau musim hujan ya mesin cucinya bagus. Musim panas [penjualan] AC-nya 'meledak'. Kalau musim bola, TV-nya bagus,” jelasnya.
Dengan kondisi ekonomi yang belum stabil ditambah kebijakan pemerintah yang masih dinamis, Andry memprediksi pertumbuhan pasar elektronik pada 2026 diperkirakan hanya bergerak pada rentang 1-2%. Sharp pun mematok pertumbuhan pada persentase tersebut.
Sharp katanya sejauh ini memegang pangsa pasar 25% atau dengan kata lain, target pendapatannya tahun ini dipatok sekitar Rp12 triliun.
“Sudah hampir Rp10 triliun lebih di November. Kita prediksi tahun depan nggak lebih bagus dari 2025. Indikatornya kemarin dari pemerintah belum ada perbaikan,” sebut Andry.
Untuk bertahan dari pertumbuhan yang lambat ini, Sharp diprediksi menggeser porsi kontribusi penjualan tahun depan. Perusahaan yang berinduk di Jepang itu akan fokus ke barang yang lebih kompetitif atau affordable, salah satunya televisi.
Market share TV akan ditingkatkan dari 12% menjadi sekitar 15%. Momentum Piala Dunia 2026 menjadi katalis utama untuk segmen ini.
Andry menilai tren permintaan TV layar besar mulai meningkat pada akhir 2025 dan akan berlanjut sepanjang tahun depan. “LCD itu agak bagus 2026 karena ada World Cup. Ini kayaknya akan rame,” katanya.
Sharp bahkan menargetkan kenaikan posisi pasar TV dari peringkat keempat ke posisi dua atau tiga pada 2026, didukung strategi produk lebih kompetitif di ukuran layar 65 hingga 98 inci.
AC diproyeksi tumbuh dari 20% hingga 30%, termasuk memperluas pasar ekspor. Sementara permintaan mesin cuci terbilang stagnan atau turun karena musim kemarau panjang.
“Prediksi kita kalau tepat, Februari sudah masuk kemarau dan akan menjadi kemarau panjang. Mesin cuci akan ter-refraksi, pindah ke AC,” tambah Andry.
Di sisi lain, dominasi produk impor dari China berharga murah masih menjadi tantangan industri lokal. Oleh karena itu, Sharp berharap ada penerapan regulasi lebih ketat yang memberi ruang bagi industri dengan fasilitas produksi dalam negeri.
“Dukungan itu berupa ada SNI diterapkan dengan benar, TKDN-nya benar, terus peraturan pemerintah yang mengenai kuota impor juga harus benar, harus lewat jalur yang legal. Jangan lewat jalur belakang, impor 100, yang datang 1000,” singgung Andry.
Dia berpendapat, bila regulasi dijalankan dengan ketat, industri elektronik di Indonesia masih bisa bertahan. Keberadaan pabrik atau jaringan service juga penting dan bisa berdampak pada terciptanya lapangan kerja baru.
“Jangan jadikan Indonesia cuma pasar untuk produk elektronika, tapi juga jadi producer,” tegas Andry.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar