Penanganan pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar terus diintensifkan

menggapaiasa.comPenanganan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus diintensifkan oleh pemerintah bersama unsur terkait.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih terus dilakukan secara terbatas namun optimal di wilayah terdampak.
Di Provinsi Aceh, operasi SAR difokuskan pada enam kabupaten, sementara di Sumatera Utara dilakukan pada empat sektor, dan di Sumatera Barat pada lima sektor pencarian.
“Upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun, baik di kawasan permukiman maupun wilayah terdampak lainnya,” ujar Abdul Muhari di Banda Aceh.
Selain operasi SAR, tim gabungan Basarnas, TNI-Polri, dan relawan terus mengintensifkan proses identifikasi korban secara by name by address. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan pemenuhan hak ahli waris, mulai dari santunan hingga penyiapan hunian sementara dan hunian tetap.
Per 20 Desember 2025, jumlah pengungsi tercatat 510.528 jiwa, berkurang sekitar 16 ribu orang dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini seiring dengan mulai kembalinya sebagian warga ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan pascabanjir.
Meski demikian, kebutuhan dasar terutama permakanan masih dipenuhi melalui dapur umum. Di Aceh, tercatat lebih dari 500 dapur umum yang aktif, sebagian besar dikelola secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan logistik dari pemerintah daerah dan pusat.
Khusus di Aceh, hingga pukul 15.00 WIB, distribusi logistik telah terealisasi melalui 16 sorti udara dari total 25 sorti yang direncanakan, dengan muatan 22,6 ton, serta satu sorti darat seberat 3,3 ton. Total logistik yang disalurkan pada hari tersebut mencapai 25,8 ton.
Untuk pemulihan infrastruktur, perbaikan Jembatan Kutablang terus dikebut. Sementara itu, jalur alternatif Bireuen–Lhokseumawe melalui kawasan AW Getah telah kembali operasional, meski masih diberlakukan sistem satu jalur yang menyebabkan antrean kendaraan.
Selain itu, progres pembangunan Jembatan Cot Bada di ruas Kota Bireuen telah mencapai 86 persen. Pemasangan jembatan bailey juga dilakukan di sejumlah titik jalur Bireuen–Bener Meriah. Pemerintah menargetkan seluruh perbaikan jembatan prioritas rampung sebelum 30 Desember 2025.
Dalam mendukung kebutuhan energi masyarakat terdampak, BNPB bersama instansi terkait telah menyalurkan 37,5 drum BBM, 60 tabung LPG (masing-masing 30 tabung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah), serta satu truk tangki berisi 3.000 liter solar yang telah tiba di Aceh Tamiang untuk didistribusikan secara bertahap.
Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi pemulangan 157 jiwa warga asal Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, dan Aceh yang sebelumnya bekerja sebagai penderes getah pinus di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Seluruh proses pemulangan tersebut telah diselesaikan.
“Perbaikan akses jalan dan jembatan menjadi kunci utama kelancaran distribusi orang, barang, logistik, dan alat berat. Jika akses ini tuntas, percepatan pemulihan hingga tingkat desa akan jauh lebih optimal,” tutup Abdul Muhari. ***
Posting Komentar untuk "Penanganan pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar terus diintensifkan"
Posting Komentar