- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Di penghujung tahun 2025 ini, rasanya semakin menyadari bahwa hidup sebenarnya tidak pernah menjanjikan jawaban yang instan atas segala tanya yang kita langitkan. Kita sering kali merasa terburu-buru, menuntut Tuhan agar segera mewujudkan apa yang kita anggap baik, tanpa menyadari bahwa ada proses pendewasaan yang hanya bisa didapatkan melalui penantian. Hidup ini ternyata bukan tentang seberapa cepat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan tentang seberapa banyak pelajaran yang mampu kita serap saat jawaban itu belum kunjung tiba. Tuhan sengaja membiarkan kita berada dalam ketidakpastian agar kita belajar untuk tidak menggantungkan harapan kepada selain diri-Nya. Jawaban yang tertunda bukanlah sebuah pengabaian, melainkan cara Allah untuk mendidik hati agar lebih lapang dan sabar dalam menerima skenario yang telah dituliskan jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia yang fana ini.
Tahun ini mengajarkan saya kembali bahwa rencana yang gagal bukanlah sebuah malapetaka, melainkan bentuk perlindungan Tuhan agar kita tidak terjerumus ke dalam jalan yang mungkin akan menyakiti kita di masa depan. Kita sering merasa paling tahu apa yang terbaik bagi diri sendiri, namun sering kali kita lupa bahwa pandangan kita sangat terbatas, sementara pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu yang akan terjadi. Berdamai dengan rencana yang tidak jadi nyata membutuhkan keberanian untuk melepaskan ego dan mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Ketika sebuah pintu tertutup, itu adalah tanda bahwa ruangan di baliknya memang bukan tempat kita bertumbuh. Dengan menerima kegagalan sebagai bagian dari kasih sayang-Nya, kita akan menemukan kedamaian yang sejati, di mana hati tidak lagi bergejolak saat kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, karena kita yakin bahwa apa yang luput dari kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Ada orang-orang yang pergi meninggalkan kehidupan kita di tahun ini, dan ada pula harapan-harapan yang terpaksa kita kubur dalam-dalam karena keadaan tidak lagi memungkinkan. Namun, melalui perpisahan tersebut, kita sebenarnya sedang diajarkan tentang kemandirian spiritual dan hakikat kepemilikan yang sesungguhnya bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi milik kita secara abadi. Setiap manusia yang hadir dalam hidup kita hanyalah titipan yang memiliki masa berlaku, dan ketika masa itu habis, mereka akan kembali ke jalur takdirnya masing-masing. Belajar berdamai dengan kehilangan berarti belajar untuk mencintai sesuatu secukupnya dan meyakini bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatu dari tangan kita kecuali Dia berencana untuk menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagi akhirat kita. Kehilangan adalah guru yang paling jujur, ia meruntuhkan keangkuhan kita dan memaksa kita untuk kembali bersujud, menyadari bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang tidak akan pernah pergi meninggalkan hamba-Nya.
Bagi saya pribadi, sungguh tahun 2025 ini adalah seorang guru yang hebat, bukan sebuah beban yang harus terus-menerus saya keluhkan di setiap kesempatan. Jika kita memandangnya sebagai beban, maka setiap langkah menuju tahun depan akan terasa sangat berat dan melelahkan karena pikiran kita dipenuhi oleh tumpukan penyesalan yang tidak perlu. Namun, jika kita memandangnya sebagai madrasah atau sekolah kehidupan, maka setiap luka dan kekecewaan akan berubah menjadi kurikulum yang mendewasakan cara berpikir dan bertindak kita. Berhenti menyalahkan diri sendiri atas keputusan di masa lalu yang mungkin salah, sebab pada saat itu, kita hanya bertindak berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Jadikanlah setiap kesalahan sebagai navigasi agar kita tidak lagi terperosok ke dalam lubang yang sama di tahun mendatang. Dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, kita bisa menutup buku tahun ini tanpa dendam, menyisakan ruang yang bersih untuk menuliskan catatan-catatan baru yang lebih bijaksana.
Sebuah prinsip hidup yang sangat mendasar dan religius adalah memahami bahwa hasil akhir dari setiap perjuangan kita sebenarnya sangat bergantung pada kemurnian niat yang kita tanam di awal langkah. Kita tidak perlu terlalu terobsesi untuk merencanakan setiap detail kehidupan kita dengan sangat kaku, karena sering kali hidup ini berjalan di luar kendali akal manusia yang terbatas. Cukuplah fokus utama kita adalah memastikan bahwa setiap tarikan napas dan langkah yang kita ambil senantiasa didasari oleh niat baik, niat baik, dan niat baik untuk mencari rida Tuhan dan menebar manfaat. Apabila hati ini telah dipenuhi dengan niat yang tulus, maka Allah secara otomatis akan mengatur segala urusan kita menjadi yang terbaik, meskipun hasil tersebut mungkin terlihat berbeda dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Keyakinan pada kekuatan niat ini akan membebaskan kita dari kecemasan yang berlebihan, karena kita percaya bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan amal dari hamba-Nya yang memiliki hati yang jernih.
Memasuki tahun 2026, kita perlu membangun sikap batin yang santai namun tetap waspada, tenang namun tetap bergerak, serta optimis namun tetap rendah hati di hadapan takdir. Santai di sini bukan berarti malas, melainkan sebuah sikap tawakkal yang paripurna di mana kita telah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin lalu menyerahkan seluruh hasilnya kepada ketetapan Tuhan tanpa rasa cemas. Ketenangan jiwa hanya bisa diraih ketika kita sudah berhenti berebut otoritas dengan Tuhan atas hasil akhir kehidupan kita. Ketika kita tenang, kita akan memiliki kemampuan untuk melihat peluang di tengah kesempitan dan mendengar suara nurani di tengah kebisingan dunia. Sikap optimis adalah bentuk prasangka baik kita kepada Allah, sebuah keyakinan bahwa masa depan selalu menyimpan rahmat yang luas bagi mereka yang tidak berputus asa. Dengan mengombinasikan ketiga sikap ini, kita akan menjadi pribadi yang lebih tangguh dan tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan yang sering kali tidak menentu.
Di tengah rencana-rencana besar dan resolusi megah yang kita susun untuk tahun 2026, janganlah kita buta terhadap realitas sosial yang ada di sekitar kita bahwa banyak manusia lain yang sedang berjuang lebih keras. Kita mungkin merasa tidak beruntung karena satu atau dua keinginan tidak tercapai, namun di luar sana, banyak saudara kita yang ditimpa musibah berat hingga harus memulai segala sesuatunya dari titik nol lagi. Mereka kehilangan harta, pekerjaan, bahkan anggota keluarga, namun mereka tetap mencoba berdiri tegak untuk menyambung hidup demi hari esok. Refleksi ini seharusnya melahirkan rasa syukur yang mendalam dan memadamkan api keluhan di dalam hati kita atas kekurangan yang sebenarnya bersifat remeh. Kesadaran bahwa banyak orang lain yang memiliki beban jauh lebih berat akan menumbuhkan semangat juang yang baru, mengingatkan kita bahwa selama kita masih memiliki napas dan kesehatan, kita sebenarnya masih memiliki modal yang sangat besar untuk kembali bangkit dan menata masa depan.
Akhirnya, marilah kita melangkah menuju tahun 2026 dengan kepala tegak dan hati yang penuh dengan harapan baru yang segar. Jika menurut ukuran manusia engkau merasa tidak beruntung atau belum mencapai banyak hal di tahun 2025, ketahuilah bahwa standar keberuntungan di sisi Tuhan bukanlah sekadar tumpukan materi atau pencapaian posisi. Keberuntungan yang sejati adalah ketika engkau masih memiliki iman yang kokoh dan hati yang rida atas segala ketetapan-Nya di tengah badai ujian yang menerpa. Tetaplah optimis dan jangan pernah merasa paling menderita, sebab banyak saudara-saudara kita yang saat ini juga sedang berjuang merangkak dari nol tanpa kehilangan harapan sedikit pun pada rahmat Allah. Hidup ini masih panjang dan peluang kebaikan masih terbuka sangat lebar bagi siapa saja yang mau mencoba lagi dengan semangat yang lebih membara. Percayalah, selama engkau masih menjaga prasangka baik kepada Tuhan dan terus berjuang, maka tahun 2026 akan menjadi panggung bagi kepulangan doa-doamu dalam bentuk yang paling indah.
. .
"Biarkan hari-hari itu berbuat sesuka hatinya. Tetap tegarkan dirimu ketika takdir sudah diputuskan. Jangan mengeluh atas pahitnya kenyataan. Karena selama engkau masih hidup di dunia, tidak ada yang namanya keabadian".
||Edelweys di sudut kota, 30122025||
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar