- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Bencana alam selalu datang tiba-tiba dan meninggalkan luka mendalam. Seperti banjir bandang di Sumatera baru-baru ini, banyak keluarga kehilangan orang tercinta, harta benda, hingga tempat tinggal. Dalam kondisi kacau seperti itu, anak-anak dan balita menjadi kelompok paling rentan.
Di tengah kepanikan, bantuan makanan memang sangat dibutuhkan. Namun, menurut dr. Tan Shot Yen, tidak semua donasi makanan benar-benar membantu. Bahkan, ada yang justru bisa menimbulkan masalah baru.
Donasi Makanan Tidak Selalu Aman
Banyak orang berpikir menyumbang susu formula atau makanan bayi instan adalah solusi. Padahal, di lokasi bencana air bersih sering sulit didapat. Bayangkan jika harus mencuci botol atau dot dengan air yang tidak steril, risiko penyakit bisa meningkat. Belum lagi jika bayi alergi atau intoleran laktosa, susu formula bisa jadi bencana tambahan.
Karena itu, yang lebih penting adalah menyediakan tenda ramah ibu dan anak di pengungsian. Di sana, ibu bisa menyusui dengan tenang, memberi asupan terbaik bagi bayinya. Selain itu, dapur umum sebaiknya dilengkapi dengan tenda PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), agar MPASI bisa dibuat dengan standar kebersihan tinggi.
Donasi yang Tepat
Daripada produk instan, donasi yang lebih bermanfaat adalah bahan pangan sederhana namun bergizi. Misalnya beras, kentang, umbi-umbian, jagung, kacang-kacangan, dan telur. Telur pun bisa beragam: ayam, bebek, atau puyuh. Semua mudah diolah, bergizi, dan tidak membutuhkan lemari es.
Dengan bahan-bahan ini, ibu bisa membuat MPASI sehat untuk anak-anak. Di dapur umum, anak-anak juga bisa belajar pola hidup bersih, seperti mencuci tangan, sementara ibu berlatih membuat makanan bergizi dari bahan lokal.
Teknologi Retort: Solusi Makanan Aman
Selain bahan segar, teknologi pangan juga bisa membantu. Salah satunya adalah retort, yaitu metode pengawetan makanan dengan panas tinggi dan tekanan dalam kemasan kedap udara.
Keunggulannya, makanan bisa bertahan 1--2 tahun tanpa bahan pengawet, tetap aman secara mikrobiologis, dan rasanya tidak berubah. Dengan teknologi ini, makanan tradisional seperti arem-arem, lemper, semar mendhem, atau nasi uduk bisa dikirim ke daerah bencana dengan aman dan praktis.
Bencana Bukan Ajang Promosi
Sayangnya, ada pihak yang menjadikan bencana sebagai kesempatan promosi produk. Hal ini berbahaya karena bisa mengganggu pemenuhan gizi anak. Ingat, anak-anak berhak mendapat perlindungan gizi sesuai amanat undang-undang.
Bencana bukan hanya soal kehilangan fisik, tapi juga tekanan psikis, risiko penyakit, dan kekurangan gizi. Karena itu, bantuan harus benar-benar berpihak pada anak.
Solidaritas yang Bermakna
Selain makanan, donasi bisa berupa hal-hal sederhana tapi berdampak besar: perpustakaan keliling, kegiatan bermain, membacakan dongeng, atau sekadar menemani anak-anak di pengungsian. Kehangatan dan kebersamaan bisa membantu mereka merasa aman di tengah ketakutan.
Solidaritas sejati bukan hanya memberi barang, tapi juga menghadirkan hati. Dengan cara ini, bencana bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjaga negeri dan masa depan anak cucu kita.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar