pada tanggal
BERITA DAN INFORMASI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

KABAR KUNINGAN - Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Korea Selatan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 di Gyeongju, bukan hanya diisi dengan pertemuan bilateral dan isu-isu ekonomi makro. Namun di sela-sela agenda kenegaraan yang padat, menyempatkan diri untuk bersua dengan para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kondisi itu menciptakan momen hangat yang jauh dari formalitas protokoler.
Pertemuan yang terjadi di sekitar area Gyeongju dekat lokasi pendaratan pesawat di Gimhae Airbase, Busan menunjukkan prioritas kemanusiaan Presiden di tengah tugas diplomasi tingkat tinggi. Interaksi personal tersebut menegaskan komitmen pemerintah bahwa negara hadir untuk warga negaranya, bahkan hingga ke negeri perantauan.
Para pekerja migran yang hadir mengaku sangat tersentuh dengan sikap ramah dan perhatian tulus yang diberikan oleh Presiden Prabowo. Salah satunya adalah Martinus Andi Irawan, pria asal Jawa Timur yang sudah enam tahun bekerja di industri manufaktur kapal di Korea.
Martinus menceritakan bahwa interaksi dengan Presiden terasa sangat personal, seolah sedang berbicara dengan anggota keluarga sendiri. "Bapak Presiden tadi sempat bertanya sudah berapa lama saya bekerja di Korea, keluarga tinggal di mana dan juga menanyakan apakah saya betah di sini," ungkap Martinus, haru.
Perhatian yang sangat mendasar tersebut menggambarkan empati seorang pemimpin. Martinus bahkan mengungkapkan, "Pak Presiden seperti sosok seorang bapak bagi kami. Kami memang merindukan ayah," ucapnya. Kalimat ini merangkum perasaan ribuan PMI yang berjuang jauh dari rumah dan mendambakan perhatian dari pemimpin negaranya.
Momen ini terjadi saat Presiden Prabowo baru saja mendarat di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Kamis malam, 30 Oktober 2025, sebelum bertolak ke Gyeongju untuk mengikuti rangkaian KTT APEC 2025 yang berlangsung dari tanggal 31 Oktober-1 November 2025.
Kehadiran Presiden di tengah PMI di Busan memberikan pesan simbolis yang kuat:
Di tengah pembicaraan penting mengenai fasilitasi perdagangan, transisi digital, dan ekonomi berkelanjutan di APEC, interaksi dengan PMI menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari diplomasi ekonomi adalah peningkatan taraf hidup dan perlindungan warga negara.
Martinus Andi Irawan tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih. Ia juga menyampaikan harapan besar dari komunitas PMI di Korea. Mereka berharap agar Indonesia kelak bisa menjadi negara industri yang kuat seperti Korea Selatan.
Harapan ini diyakini akan menjadi salah satu fokus kebijakan Presiden Prabowo, yaitu menggenjot industrialisasi dalam negeri secara masif. Dengan industri yang kuat, lapangan kerja yang layak akan terbuka lebar di Indonesia sehingga warga negara tidak perlu jauh-jauh merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. (Tim Media Kepresidenan/"Kabar Kuningan")***
Komentar
Posting Komentar