Featured Post

Krisis Politik, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba Mengundurkan Diri di Tengah Krisis Politik

Krisis Politik, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba Mengundurkan Diri di Tengah Krisis Politik

menggapaiasa.comTokyo — Shigeru Ishiba, Perdana Menteri Jepang yang baru memimpin kurang dari setahun, pada Minggu (7/9) mengumumkan pengunduran dirinya. Keputusan mengejutkan ini datang setelah kekalahan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) dalam pemilu Majelis Tinggi dan meningkatnya tekanan internal partai.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor perdana menteri, Ishiba menyatakan penyesalan mendalam karena gagal memenuhi harapan rakyat maupun partainya. Ia menekankan bahwa meski strategi ekonominya mulai menunjukkan hasil, tanggung jawab politik atas kekalahan pemilu harus ia pikul sendiri.

“Pemerintahan saya berfokus pada pertumbuhan upah dan kesejahteraan rakyat, namun saya tidak bisa menutup mata terhadap pesan keras yang disampaikan melalui kotak suara,” kata Ishiba dengan nada getir.

Pengunduran diri ini menandai babak baru dalam politik Jepang, yang dalam satu dekade terakhir kerap diguncang pergantian pemimpin singkat. Bagi banyak pengamat, langkah Ishiba mencerminkan rapuhnya stabilitas internal LDP, partai yang telah lama mendominasi politik negeri Sakura.

Sejumlah sumber mengatakan keputusan Ishiba dipercepat setelah pertemuan pada Sabtu malam dengan mantan Perdana Menteri Yoshihide Suga dan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi. Keduanya mendesak Ishiba untuk menghindari perpecahan besar di tubuh partai jika ia bersikeras bertahan.

Sebelumnya, Ishiba sempat menyulut kontroversi dengan ancaman membubarkan DPR dan menggelar pemilu cepat sebagai cara menolak rencana pemilihan presiden LDP. Namun sikap keras itu justru memperdalam keretakan di dalam partai, hingga banyak sekutunya sendiri mulai berbalik arah.

LDP kini tengah bersiap menggelar pemilihan presiden lebih cepat dari jadwal 2027. Pengumpulan tanda tangan anggota partai akan dimulai Senin besok, sebuah langkah yang menegaskan keinginan untuk segera mencari pengganti Ishiba.

Bagi Washington, transisi kepemimpinan Jepang akan menjadi ujian penting. Ishiba selama ini dikenal berkomitmen menjaga hubungan erat dengan Amerika Serikat, khususnya dalam negosiasi perdagangan tarif yang sempat menjadi fokus utama pemerintahannya. “Saya berharap penerus saya tetap memperkuat ikatan dengan sekutu utama kita,” ujarnya.

Kekalahan LDP di Majelis Tinggi pada Juli lalu memang telah mengikis kepercayaan publik. Banyak pemilih menilai agenda ekonomi Ishiba berjalan lambat dan gagal menjawab keresahan terhadap inflasi serta biaya hidup yang tinggi. Hal inilah yang memperbesar tekanan politik hingga akhirnya memaksa ia angkat tangan.

Dengan pengunduran diri Ishiba, Jepang kembali memasuki masa ketidakpastian. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah LDP masih mampu mempertahankan dominasinya di parlemen, atau justru memberi ruang bagi oposisi untuk bangkit setelah bertahun-tahun terpinggirkan.***

Komentar