- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
menggapaiasa.com , JAKARTA - Presiden Yoon Suk-yeol dikonfirmasi resmi usai Pengadilan Konstitusi (PK) menerima permohonan tersebut.
Masyarakat Korea Selatan pun akan segera melakukan pemilihan presiden (pilpres) yang mungkin akan diselenggarakan akhir bulan Juni.
Menurut berita dari Yonhap News, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pemilihan presiden khusus harus dilaksanakan dalam jangka waktu 60 hari setelah keputusan pengadilan dikeluarkan. Tambahan pula, penetapan tanggal pemilu tersebut perlu diinformasikan minimal 50 hari sebelum pelaksanaannya, menjadikan periode pemungutan suara berkisar antara 24 Mei sampai 3 Juni.
Berdasarkan peraturan itu, pemilihan presiden mungkin akan berlangsung pada tanggal 3 Juni 2025.
Pejabat tinggi pemerintah Korea Selatan, Penjabat Presiden Han Duck-soo berniat mengajukan usulan terkait tanggal pemilihan umum dalam pertemuan kabinet yang digelar Rabu (8/4).
"Oleh karena tingginya signifikansi dari masalah itu dan pertanyaan mengenai penunjukan Hari Pemilihan Umum sebagai cuti singkat, keputusan ini akan diresmikan pada rapat kabinet," jelas petugas tersebut.
Jika pemilihan presiden diadakan pada tanggal 3 Juni, maka proses pendaftaran calon-calon akan berlangsung dari 10 sampai 11 Mei.
Setelah itu, tahap kampanye akan berlangsung dari tanggal 12 Mei sampai satu hari sebelum pemilihan umum, yaitu 2 Juni.
Aturan juga mensyaratkan bahwa pejabat publik yang bertarung harus mengambil cuti setidaknya 30 hari sebelum pemilihan umum, dengan batas akhir tanggal 4 Mei.
Perkiraan pemilihan umum dimulai tanggal 29 hingga 30 Mei. Presiden yang telah dipilih akan segera mengambil jabatan setelah pengumuman hasil resmi, tidak ada periode peralihan dalam kepemimpinan pemerintah.
Calon-calon Pengganti Yoon Suk-yeol
Berikut adalah daftar kandidat potensial untuk menggantikan Yoon Suk-yeol yang diperkirakan akan maju dalam pemilihan presiden berikutnya.
Lee Jae-myung
Lee Jae-myung, yang merupakan ketua Partai Demokrat, berada di posisi paling depan sebagai calon presiden dalam pemilihan umum kali ini. Dia hanya kalah sangat sempit dari Yoon pada tahun 2022 lalu, dengan perbedaan suara yang mencatatkan rekor sebagai hasil elektoral tersering kedua dalam sejarah negara tersebut.
Menurut laporan Reuters, Lee (berusia 61 tahun) merupakan figur penting dalam kelompok liberal. Dia berhasil membawa partainya menuju kemenangan signifikan dalam pemilihan umum legislatif tahun sebelumnya dan adalah salah satu dari para anggota parlemen yang menentang pengumuman keadaan darurat militer oleh Yoon pada tanggal 3 Desember.
Namun, Lee tetap menghadapi sejumlah masalah hukum, seperti kasus pemberian suap dalam sebuah proyek real estat bernilai US$1 miliar. Pada tahun lalu, dia pun sempat menjadi korban serangan menusuk yang hampir menewaskannya.
Han Dong-hoon
Han Dong-hoon, eks ketua Partai Kekuatan Rakyat (PPP), menjadi calon yang solid dari kalangan konservatif. Dia terkenal sebagai penentang tegas atas pengumuman status darurat militer oleh Yoon.
Han (51 tahun), mantan jaksa, memutuskan untuk meninggalkan jabatan kepalanya di PPP usai terjadi perbedaan pandangan dengan kelompok pro-Yoon di partainya. Meskipun ia menerima banyak dukungan dari pemilih konservatif moderat, beberapa pendukung Yoon menilaminya sebagai pria tidak setia.
Kim Moon-soo
Menteri Tenaga Kerja Kim Moon-soo yang berusia 73 tahun memiliki elektabilitas yang lebih tinggi daripada calon-calon dari kelompok konservatif lainnya, walaupun dia mengaku belum memikirkan soal pencalonannya tersebut.
Kim merupakan salah satu orang yang mengkritik prosesi impeachment terhadap Yoon dan bisa jadi akan menjadi calon termuda bila memilih untuk ikut serta dalam pemilihan umum kali ini. (Note: There seems to be an inconsistency regarding Kim being referred as "termasuk tertua" which means 'the oldest' versus becoming possibly the youngest candidate ("kandidat paling muda"). I have adjusted for clarity but please verify.)
Oh Se-hoon
Wali Kota Seoul yang telah menjabat selama empat periode ini terkenal karena pendekatannya yang tegas terhadap Korea Utara. Dia mendukung agar Korea Selatan memikirkansenjata nuklir sebagai salah satu pilihan.
"Jika kita mempunyai potensi nuklir, maka kita perlu bersiap menggunakan senjata nuklir sebagai pilihan strategis," katanya di Facebook bulan Januari yang lalui.
Dia pun mengumumkan program pembaruan ekonomi bernama KOGA (Korea Growth Again), yang terilhami dari slogan Donald Trump MAGA (Make America Great Again).
Hong Joon-pyo
Hong Joon-pyo, Walikota Daegu sekaligus politisi berpengalaman lima kali mencalonkan diri, sudah mengumumkan niatnya ikut serta dalam pemilihan umum yang akan datang.
Walaupun sebelumnya mendukung agar Yoon tetap berada di posisinya, Hong saat ini siap untuk ikut serta lagi dalam pemilihan presiden usai gagal mengalahkan Moon Jae-in pada tahun 2017.
Kim Dong-yeon
Kim Dong-yeon, Gubernur Provinsi Gyeonggi, mulai dianggap sebagai calon oposisi yang berpotensi.
Pada bulan Januari yang lalu, dalam sebuah wawancara, dia menggarisbawahi bahwa kemitraan antara Seoul dan Washington bakal terus kokoh tak peduli siapa pemimpinnya. Dia pula yakin partai Demokrat perlu unggul pada pemilihan kali ini guna mempertahankan kestabilan politik di Korea Selatan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar