- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Featured Post
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pasukan bersama dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengkonfirmasi bahwa 11 penambang emas yang menjadi korban pembunuhan oleh Kelompok Kriminal Separatis Teroris (KKTST) telah ditemukan di area tambang emas di Muara Kum serta daerah sekitarnya, dalam wilayah kabupaten Yahukimo.
"Dodolan empat belas orang warga sipil yang sedang melaksanakan kegiatan penambangan emas di kabupaten Yahukimo diyakini menjadi para korban dari tindakan brutal kelompok separatis bersenjata (KKB)," ungkap Kepala Operasi Pasukan Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Ramadhani, pada pernyataan tertulis yang diterima di Jayapura, Kamis (10/4/2025).
Evakuasi Dilakukan Bertahap
Pengambilan mayat dilaksanakan perlahan mulai hari Kamis sampai Jumat (11/4/2025). Tim gabungan kepolisian dan militer sukses mengamankan keseluruhan sembilan korban yang menjadi sasaran pembunuhan di tempat kejadian.
"Kemarin telah dievakui tiga jenasah, sedangkan hari ini enam lagi dievakui dari Kampung Bingki dan Muara Kum, sehingga jumlah totalnya menjadi sembilan jenasah," terang Brigjen Faizal.
Mayat yang telah dievakuasi kemudian diantarkan ke RSUD Dekai, pusat kabupaten Yahukimo, guna dilakukan proses pengenal diri sebelum diserahkan kepada keluarganya.
Faizal menyebutkan bahwa upaya mencari korban lainnya tetap berlanjut.
"Kami mencoba mengangkut seluruh mayat para korban menuju Dekai agar bisa dikenali identitasnya dan diserahkan kepada keluarganya," ujarnya.
Penggali Emas yang Tidak Sah di Papua Dilaporkan Memiliki Persenjatakan Api
Kelompok TPNPB OPM baru-baru ini menyatakan bahwa para penambang emas yang tidak sah di Kabupaten Yahukimo, Papua, dilengkapi dengan senjata api.
Dalam pesan audio yang diperoleh Tempo pada hari Jumat, tanggal 11 April 2025, juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom, mengungkapkan, "Saat dilakukan pencarian, mereka diketahui mempunyai senjata api. Kami telah menyita sebuah pistol."
Sebby mengatakan pula bahwa para penambang itu terlibat dalam tindakan kekerasan melawan penduduk lokal, yang mencakup pembunuhan tujuh individu, di antaranya dilakukan dengan cara pemenggalan kepala.
Sebby mengatakan bahwa aktivitas pertambangan illegal di wilayah itu dikabarkan menerima dukungan dari TNI dan Polri.
"Mendengar hal tersebut, diakhir tahun 2019 pasukan TPNPB OPM membunuh seluruh penambang emas ilegal tersebut karena merusak hutan," jelasnya.
Pada insiden terakhir ini, dari tanggal 6 hingga 9 April 2025, kelompok TPNPB OPM melakukan eksekusi mati terhadap 17 penambang emas liar dalam area itu. Sebby membenarkan hal tersebut dengan berkata, "Memang betul (17 penambang emas telah dieksekusi), dan sekitar 50 lainnya berhasil kabur sementara tiga orang cedera."
Sebby pun menegaskan kepada mereka yang baru tiba di area tersebut untuk segera meninggalkan tempat yang sudah dinyatakan sebagai zona konflik oleh TPNPB OPM.
"Bila mereka tak memperhatikan peringatan kita, maka kita akananggap mereka sebagai bagian dari TNI-Polri," tegasnya.
Keterangan Saksi Selamat
Seorang saksi yang bertahan berhasil melarikan diri menuju Kampung Mabuk, di Distrik Korowai, Kabupaten Asmat, lalu menghadirkan keterangan vital tentang insiden itu.
Faizal Ramadhani mengatakan bahwa mereka memperoleh laporan dari seorang saksi mata penyintas yang saat ini berlindung di Desa Mabuk.
Sampai saat ini, petugas terus menyisir desa Bingki dan Muara Kum guna menemukan korban tambahan serta memastikan keadaan di lokasi tetap aman.
Komentar
Posting Komentar