Waspada hujan ekstrem hingga April 2026, Cirebon dan Kuningan sepakat cegah banjir terpadu dari hulu ke hilir

PR KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat, resmi menjalin kolaborasi strategis untuk menangani ancaman banjir secara terpadu setelah bencana besar melanda wilayah tersebut pada Desember 2025.
Bupati Cirebon, Imron, di Jagara, Kabupaten Kuningan, Jumat 2 Januari 2026, menyatakan bahwa penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan secara parsial mengingat posisi Kota Udang di hilir sangat bergantung pada kondisi lingkungan hulu Kota Kuda.
Rusaknya ekosistem di wilayah atas akan berdampak langsung pada lonjakan debit air yang mengalir deras ke pemukiman warga saat curah hujan meningkat tajam.
Kelestarian alam di wilayah hulu kini menjadi prioritas utama karena dianggap sebagai kunci paling krusial dalam mengendalikan volume air yang masuk ke Cirebon.
Masalah serius yang kini tengah dibidik kedua pemerintah daerah adalah maraknya bangunan liar di bantaran sungai dan kawasan resapan air yang kian mengkhawatirkan.
Keberadaan bangunan-bangunan ilegal ini terbukti menghambat laju air dan mempersempit ruang resapan, sehingga memicu luapan banjir yang lebih sering terjadi.
Sebagai aksi nyata di lapangan, kedua kabupaten ini telah bersepakat untuk segera melakukan penanaman pohon secara masif di wilayah perbatasan demi meningkatkan serapan tanah.
Upaya ini juga didukung oleh Pemkab Cirebon melalui penguatan program normalisasi sungai yang bekerja sama langsung dengan BBWS Cimanuk-Cisanggarung.
Ke depan, pemerintah tidak akan segan memberikan sanksi tegas bagi masyarakat yang masih memiliki kebiasaan buruk membuang sampah ke aliran sungai.
Di sisi lain, Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar mendorong pembangunan kolam retensi di wilayah hulu agar air hujan tidak langsung terjun bebas ke daerah hilir.
Langkah ini dibarengi dengan komitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perbatasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam demi keselamatan bersama.
Bupati Kuningan mengakui bahwa tantangan penanggulangan bencana saat ini semakin berat akibat kondisi cuaca ekstrem yang semakin sulit untuk diprediksi.
Oleh karena itu, penanganan banjir ini harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar membuahkan hasil jangka panjang.
Berdasarkan peringatan dini dari BMKG, kewaspadaan tinggi harus tetap dijaga karena potensi hujan lebat diperkirakan masih akan terus mengguyur hingga April 2026.***
Posting Komentar untuk "Waspada hujan ekstrem hingga April 2026, Cirebon dan Kuningan sepakat cegah banjir terpadu dari hulu ke hilir"
Posting Komentar