Terhalang musim baratan, nelayan urung melaut lantaran Saiful beralih budidaya kerang hijau

menggapaiasa.com, SEMARANG - Nelayan Jawa Tengah memilih tidak melaut selama sepekan terakhir akibat gelombang laut mencapai ketinggian antara satu meter hingga tiga meter.
Akibatnya, mereka kehilangan penghasilan hingga berujung utang ke bank titil alias rentenir.
"Para nelayan di desa kami sudah mulai utang ke bank titil, nilai utang hanya Rp1 juta sampai Rp2 juta demi bisa menyambung hidup karena tak bisa melaut," ungkap nelayan Desa Bedono, Sayung, Kabupaten Demak, Saiful Rozi kepada Tribun, Sabtu (3/1/2026).
Saiful mengatakan, nelayan di daerahnya tak berani melaut karena gelombang ombak cukup tinggi mencapai 2 hingga 3 meter. Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal Desember 2025.
Namun, gelombang semakin tinggi selama sepekan terakhir.
"Kami memilih di rumah membetulkan jaring atau perahu daripada melaut takut tergulung ombak," bebernya.
Ia menyebut, jumlah nelayan di kampungnya ada sebanyak 103 nelayan dengan rincian 80 nelayan menggunakan perahu kecil satu mesin perahu kapasitas 5 PK, 18 perahu kapasitas 40 PK dan lima perahu kapasitas 16 PK.
"Perahu yang kapasitas 40 PK saja memilih libur, apalagi saya yang hanya punya perahu 5 PK," terangnya.
Situasi ini, lanjut Saiful, bakal berlangsung hingga Februari mendatang. Untuk itu, ia kini mencari pekerjaan alternatif, yakni beternak kerang hijau.
"Kalau saya masih bisa jual kerang hijau, kasihan nelayan Bedono lainnya yang hanya mengandalkan melaut di tengah kondisi seperti ini," ujarnya.
Kondisi serupa dialami oleh nelayan di Kota Semarang.
Mereka mengandalkan hidup dari mengambil uang simpanan. Namun, bagi yang tak memiliki simpanan tak ada pilihan lain selain berutang.
"Kalau cuaca buruk 2 hari masih aman, seperti sekarang yang sudah 1 Minggu ya kami akhirnya cari-cari utangan," ucap Nelayan Mangunharjo, Tugu, Kota Semarang Wawan.
Wawan sebenarnya, Sabtu (3/1/2026) pagi, sudah hendak melaut selepas libur beberapa hari. Namun, ia terpaksa pulang karena tiba-tiba angin kencang datang disertai hujan dan awan gelap.
"Kondisi ini namanya musim baratan, kami lebih baik urung melaut daripada risiko karena ombaknya di atas 1,5 meter," katanya.
Ia menjelaskan, cuaca buruk dirasakan nelayan pesisir Mangkang dari sejak pertengahan Desember tetapi memasuki Januari kondisi gelombang semakin tinggi.
Alhasil, dari 130 nelayan di Mangunharjo lebih memilih liburkan diri.
"Hal yang sama dilakukan oleh nelayan tetangga kelurahan seperti Mangkang Kulon dan Mangkang Wetan yang jumlah nelayannya mencapai 500an orang, pada milih libur," tuturnya.
Sementara, kondisi serupa dialami pula oleh nelayan Roban Timur, Subah, Kabupaten Batang.
Salah satu nelayan, Haryono menjelaskan, sebanyak kurang lebih 170 nelayan di desanya hampir 90 persen memilih libur melaut.
"Ada yang nekat berangkat pagi tadi, tapi sama mereka akhirnya pulang karena tiba-tiba datang angin kencang dan gelombang tinggi," ujarnya.
Nelayan yang nekat tersebut, lanjut Haryono, karena kondisi mereka sudah terdesak selepas sudah lebih dari satu pekan hanya di rumah membetulkan jaring saja tanpa menggunakannya. "Tidak ada penghasilan, mereka sudah utang ke bank titil untuk makan dan jajan anak," ungkapnya kepada Tribun.
Ia sendiri memilih libur melaut melihat situasi cuaca akhir-akhir ini. Ia sendiri mengandalkan uang tabungannya untuk bertahan hidup. "Saya memprediksi ini terjadi sampai 15 hari, semoga lekas surut cuacanya agar nanti jelang lebaran bisa melaut," harapannya.
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Sediyanto mengatakan, pesisir Pantura mulai dari Pekalongan Kendal sampai Pati dan Rembang akan terjadi gelombang tinggi 1 meter untuk dua hari ke depan.
Namun, ketinggian gelombang ini, kata dia, akan sangat fluktuatif dalam hitungan hari.
"Kondisi ini tergantung angin baratan ketika angin semakin berkembang signifikan akan meningkatkan ketinggian gelombang di laut," paparnya kepada Tribun.
Ia menyebut, kondisi ini tidak lepas dari kondisi iklim global yang mana angin baratan dari kawasan Asia dengan tekanan tinggi akan mengarah ke Australia yang memiliki tekanan rendah.
Proses peralihan ini terjadi belokan angin menuju ke arah timur sehingga disebut sebagai angin baratan menuju ke timuran.
Dampak dari perubahan arah angin menyebabkan pembentukan awan penyebab hujan di wilayah Laut Jawa termasuk pesisir Pantura.
"Munculnya banyak awan rendah ini menyebabkan awan hujan menuju ke timur dan akan menimbulkan hujan di wilayah Pantura," terangnya.
Kondisi ini, kata Sediyanto, telah diinformasikan ke kelompok nelayan Pantura secara berkala. Terutama soal perubahan gelombang dan kecepatan angin.
"Angin baratan kadang-kadang dalam 2 hari tenang nanti 2 hari yang datang akan tinggi kembali. Jadi, kami selalu mengupdate-nya," ucapnya. (Iwan Arifianto)
Posting Komentar untuk "Terhalang musim baratan, nelayan urung melaut lantaran Saiful beralih budidaya kerang hijau"
Posting Komentar