Tawa anak-anak spesial dari kabin kendaraan kecil, transportasi yang mengajarkan inklusi - MENGGAPAI ASA

Tawa anak-anak spesial dari kabin kendaraan kecil, transportasi yang mengajarkan inklusi

Tawa anak-anak spesial dari kabin kendaraan kecil, transportasi yang mengajarkan inklusi

menggapaiasa.com, SEMARANG - Tawa kecil itu pecah ketika pintu bajaj terbuka perlahan. Seorang anak berkebutuhan khusus sempat ragu, sebelum akhirnya tersenyum lebar saat duduk di dalam kabin mungil berwarna cerah.

Mesin menyala tanpa raungan keras. Tak ada getaran kasar. Hanya rasa aman yang pelan-pelan tumbuh.

“Aku nggak takut. Bajajnya halus,” ujar Rafa (10) sambil tersenyum, Kamis (22/1/2026).

Pagi itu, halaman Rumah Difabel Inklusi Semarang berubah suasana. Deretan bajaj terparkir rapi, bukan untuk penumpang dewasa yang terburu-buru, melainkan untuk anak-anak difabel yang diajak merasakan pengalaman berkendara yang ramah dan menyenangkan.

Di sinilah citra lama bajaj mulai runtuh. Bajaj yang dulu identik dengan bising dan sempit, hari itu justru menjadi ruang aman, ruang bermain, sekaligus ruang belajar bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Anak-anak diajak mengenal bajaj dari dekat, menyentuh bodinya, duduk di kursi penumpang, lalu menikmati perjalanan singkat. 

Sepanjang rute, suara tawa dan teriakan kecil saling bersahutan, menggantikan kebisingan kota.

Mesin bajaj yang digunakan telah dibekali teknologi modern, lebih halus dan minim getaran. 

Bagi anak-anak yang sensitif terhadap suara dan guncangan, kondisi ini menjadi kunci rasa nyaman. 

Desain kabin yang tertutup dan stabil pun memberi perlindungan ekstra, membuat anak-anak duduk tenang tanpa rasa cemas.

Bagi sebagian anak, pengalaman ini bukan sekadar naik kendaraan. Ini adalah momen keberanian dan kepercayaan diri, ketika mereka merasa diterima dan diberi ruang di ruang publik.

Bentuk bajaj yang unik justru menjadi daya tarik. Di tangan anak-anak, kendaraan ini tak lagi sekadar alat transportasi, melainkan media bermain dan belajar.

Kegiatan “Bajaj Ramah untuk Anak Disabilitas” juga menunjukkan peran bajaj sebagai kendaraan multifungsi, adaptif untuk kegiatan sosial, edukasi, hingga mendukung mobilitas komunitas inklusif.

“Bajaj yang sekarang jauh berbeda. Lebih ramah, lebih tenang, dan cocok untuk kegiatan sosial seperti ini,” ujar Siva Gesita, City Manager Semarang.

Ukurannya yang ringkas membuat bajaj mudah menjangkau kawasan permukiman padat, menjawab tantangan transportasi perkotaan.

Saat bajaj terakhir berhenti dan anak-anak turun dengan senyum lebar, satu pesan terasa kuat, inklusi tak selalu harus dimulai dari hal besar.

Kadang, ia hadir lewat kendaraan kecil yang mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan penggunanya dan membawa harapan akan kota yang lebih ramah bagi semua. (bud)

Posting Komentar untuk "Tawa anak-anak spesial dari kabin kendaraan kecil, transportasi yang mengajarkan inklusi"