Sholat: Jalan transendensi di tengah dunia yang kacau - MENGGAPAI ASA

Sholat: Jalan transendensi di tengah dunia yang kacau

menggapaiasa.com.CO.ID, JAKARTA -- Layar gawai kita setiap pagi menyajikan berita yang sama: perang berkecamuk di Gaza, konflik membara di Ukraina, ketegangan geopolitik yang tak kunjung reda. Di tingkat nasional, kita disuguhi hiruk-pikuk politik yang memecah, kriminalitas yang meresahkan, dan ketidakpastian ekonomi yang menggerus ketenangan batin. Seolah kekacauan telah menjadi menu harian yang harus kita telan mau tidak mau.

Di tengah gempuran informasi dan tekanan hidup yag nyaris tak ada jedanya ini, banyak orang merasa lelah. Bukan sekadar lelah fisik, tetapi lelah jiwa. Burnout menjadi istilah yang begitu akrab di telinga generasi kini. Kecemasan dan depresi melonjak drastis. Manusia modern, dengan segala kemajuan teknologinya, justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan.

Dan di sinilah peringatan Isra Mi'raj menemukan relevansinya yang mendalam.

Rahasia yang Terlambat Ditemukan Maslow

Hampir setiap mahasiswa psikologi mengenal Abraham Maslow dan piramida kebutuhannya yang terkenal. Dari bawah ke atas: kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan kebersamaan, penghargaan, lalu puncaknya self-actualization atau aktualisasi diri. Teori ini begitu populer hingga menjadi rujukan di berbagai bidang, dari manajemen hingga pendidikan.

Tetapi ada satu fakta yang jarang diketahui.

Di penghujung hidupnya, Maslow menyadar bahwa piramidanya belum lengkap. Dalam tulisan-tulisannya yang terbit setelah ia wafat, The Farther Reaches of Human Nature (1971), Maslow menambahkan satu tingkat lagi di atas aktualisasi diri: transendensi (transcendence).

Apa yang membuatnya merevisi teori yang sudah begitu mapan?

Maslow menemukan bahwa orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri, yang telah menjadi "versi terbaik dari diri mereka", ternyata belum tentu bahagia. Mereka sukses, berprestasi, diakui, tetapi ada kehampaan yang mengintai. Ada lubang yang tidak bisa diisi oleh pencapaian personal semata.

Setelah bertahun-tahun meneliti, Maslow sampai pada kesimpulan revolusioner: manusia memiliki kebutuhan inheren untuk melampaui dirinya sendiri. Kebutuhan untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari ego, lebih agung dari ambisi pribadi, lebih abadi dari eksistensi individual. Ia menyebutnya peak experiences, momen-momen puncak ketika seseorang merasa menyatu dengan sesuatu yang transenden.

"Transendensi," tulis Maslow, "mengacu pada tingkat kesadaran tertinggi dan paling inklusif, yang berhubungan dengan, bukan hanya sebagai sarana, dengan akhir dari segalanya, dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan spesies manusia, dengan alam, dan dengan kosmos."

Menariknya, Maslow, seorang psikolog sekuler dari tradisi humanistik, tanpa sadar telah "menumukan" apa yang telah diketahui dan dipraktikkan umat Islam sejak empat belas abad silam.

 

Isra Mi'raj: Blueprint Transendensi

Mari kita kembali ke peristiwa Isra Mi'raj. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), lalu naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha, batas tertinggi yang tak satu makhluk pun pernah melewatinya, untuk berjumpa langsung dengan Allah (Mi'raj).

Perjalanan ini adalah transendensi dalam bentuknya yang paling nyata: meninggalkan dimensi duniawi, naik melampaui batas-batas material, dan terhubung dengan Yang Maha Mutlak.

Dan dari perjalanan transenden itu, Rasulullah ﷺ membawa pulang satu oleh-oleh: perintah sholat lima waktu.

Di sinilah letak hikmah yang luar biasa. Allah tidak sekadar memberikan perintah sholat melalui wahyu biasa yang disampaikan Jibril. Tidak. Allah "mengundang" Rasulullah untuk naik, melampaui langit, melampaui batas makhluk, untuk menerima perintah ini secara langsung. Seolah Allah ingin menunjukkan: sholat bukan ibadah biasa. Sholat adalah jalan transendensi itu sendiri.

Sholat: Mi'raj Harian bagi Setiap Mukmin

Para ulama menyebut sholat sebagai mi'rajul mu'minin—mi'raj-nya orang beriman.

Jika Rasulullah ﷺ hanya sekali mengalami perjalanan agung menembus langit, maka umatnya diberi kesempatan untuk "naik" setiap hari—minimal lima kali—melalui sholat.

Tentu, mi'raj kita berbeda dengna mi'raj Rasulullah secara fisik. Tetapi secara spiritual, esensinya sama: meninggalkan sejenak urusan duniawi, naik menuju kedekatan dengan Allah, mengalami transendensi, lalu kembali ke bumi dengan jiwa yang lebih terang.

Inilah yang dicari Maslow. Inilah peak experience yang ia gambarkan. Dan Islam telah menyediakannya dalam paket yang sangat praktis: lima kali sehari, bisa dilakukan di mana saja, tanpa biaya, tanpa syarat keanggotaan eksklusif.

 

Ketika seorang hamba berdiri menghadap kiblat dan mengucapkan Allahu Akbar, ia sedang mendeklarasikan: "Allah Maha Besar—lebih besar dari segala yang membebaniku, lebih besar dari kecemasanku, lebih besar dari egoku." Di momen itu, ia mulai melampaui dirinya.

Ketika ia ruku, ia merendahkan diri—sesuatu yang sangat sulit bagi ego manusia modern yang terbiasa merasa sebagai pusat semesta. Dan ketika ia sujud—meletakkan bagian tubuh paling mulia, wajah dan dahi, di atas tanah—ia mengalami transendensi sejati. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim)

Sujud adalah puncak transendensi dalam sholat. Di posisi itu, ego luruh. Kesombongan mencair. Yang tersisa hanya kesadaran akan kehadiran Ilahi. Dan dalam momen itulah—menurut Rasulullah—seorang hamba berada di titik terdekatnya dengan Allah.

Bukankah ini persis yang digambarkan Maslow sebagai pengalaman puncak? Momen ketika batas-batas diri melebur, ketika seseorang merasa terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar?

Melampaui Aktualisasi Diri

Maslow mengkritik bahwa psikologi Barat terlalu fokus pada kebutuhan-kebutuhan yang berpusat pada diri (self-centered needs): bagaimana memenuhi kebutuhan saya, bagaimana mengembangkan potensi saya, bagaimana saya bisa sukses. Bahkan aktualisasi diri, yang dianggap sebagai puncak, masih berkutat pada self.

Tetapi manusia, kata Maslow di akhir hidupnya, tidak bisa sepenuhnya sehat secara psikologis jika hanya berorientasi pada diri sendiri. Ada kebutuhan untuk self-transcendence—melampaui diri.

 

Islam telah mengajarkan ini dengan sangat gamblang. Dalam sholat, seorang mukmin tidak sedang "mengaktualisasi diri." Ia sedang meniadakan diri di hadapan Allah. Ia sedang melatih bahwa dunia tidak berputar di sekitar egonya. Ia sedang mengalami bahwa ada Dzat yang jauh lebih besar, lebih berkuasa, lebih abadi dari dirinya—dan bahwa kebahagiaan sejati justru datang dari penyerahan kepada Dzat itu.

Al-Ghazali, dalam magnum opus-nya Ihya Ulumiddin, berbicara tentang fana—momen ketika kesadaran akan diri sendiri lebur dalam kesadaran akan Allah. Ini bukan penghapusan eksistensi, melainkan pembebasan tertinggi. Sebab yang membelenggu manusia sesungguhnya adalah egonya sendiri. Dan sholat adalah latihan harian untuk membebaskan diri dari belenggu itu.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Perhatikan: ketenangan hati tidak datang dari pemenuhan kebutuhan fisiologis, bukan dari rasa aman, bukan dari pengakuan sosial, bahkan bukan dari aktualisasi diri. Ketenangan sejati datang dari dzikrullah—mengingat Allah. Dari transendensi.

Tempat Curhat Paling Aman

Generasi muda hari ini hidup di era yang paradoks. Di satu sisi, mereka lebih terhubung dari generasi mana pun sebelumnya—media sosial, chat, video call, semua tersedia di ujung jari. Di sisi lain, mereka justru semakin kesepian. Survei demi survei menunjukkan lonjakan kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi di kalangan anak muda.

 

Salah satu kebutuhan paling mendasar yang sering tidak terpebuhi adalah kebutuhan untuk didengar. Mereka butuh tempat curhat. Tetapi curhat kepada siapa? Teman bisa membocorkan rahasia. Media sosial bisa menjadi bumerang. Bahkan profesional seperti psikolog tidak selalu terjangkau.

Di sinilah sholat menawarkan sesuatu yang luar biasa: ruang curhat paling aman di seluruh semesta.

Di posisi sujud, seorang mukmin bisa mencurahkan segalanya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Tidak ada judgment. Tidak ada risiko rahasia bocor. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan yang terpenting—Maha Pengasih. Dia tidak akan pernah men-screenshot curhatanmu dan menyebarkannya. Dia tidak akan menertawakan kelemahanmu. Dia tidak akan bosan mendengar keluhanmu yang sama berulang kali.

Dalam bahasa anak muda: sholat adalah safe space paling ultimate. Dan lebih dari itu, sholat adalah momen transendensi—ketika beban-beban yang terasa begitu berat di level "diri" menjadi ringan ketika kita naik ke level yang lebih tinggi, level keterhubungan dengan Sang Pencipta.

Analogi Tombol Reset

Untuk memahami fungsi sholat secara praktis, mari kita gunakan analogi yang akrab dengan kehidupan modern.

Setiap orang yang menggunakan smartphone atau laptop pasti pernah mengalami momen ketika perangkatnya mulai lambat, panas, atau hang. Apa yang kita lakukan? Kita menekan tombol restart. Dan setelah itu, perangkat kembali bekerja dengan lebih lancar—karena restart membersihkan memori yang penuh dan mengembalikan sistem ke kondisi optimal.

Sholat adalah tombol reset bagi jiwa manusia.

Sepanjang hari, pikiran kita dipenuhi berbagai hal: pekerjaan, masalah keluarga, berita buruk, tekanan sosial, dan ribuan stimulus yang masuk tanpa henti. Seperti komputer yang menjalankan terlalu banyak program sekaligus, jiwa kita menjadi lambat, panas, dan rentan crash.

Ketika kita berwudhu, kita sedang "mendinginkan" diri. Ketika kita bertakbir, kita sedang mematikan semua "program" duniawi. Ketika kita sujud, kita sedang membersihkan beban-beban yang menumpuk. Dan ketika kita salam, kita telah di-restart—siap kembali menghadapi kehidupan dengan jiwa yang lebih segar.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal ketika menghadapi kesulitan:

أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

"Tenangkanlah kami dengannya (sholat), wahai Bilal." (HR. Abu Dawud)

Bukan "berilah kami istirahat dari sholat," tetapi "berilah kami ketenangan dengan sholat."

Lima Waktu: Takaran Ilahi

Sejarah mencatat dialog mengharukan antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa عليه السلام di langit. Ketika Allah mewajibkan sholat lima puluh waktu, Musa menyarankan agar Rasulullah meminta keringanan. Berkali-kali Rasulullah kembali menghadap Allah, hingga akhirnya ditetapkan lima waktu—dengan pahala tetap lima puluh.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Lima waktu adalah takaran presisi dari Dzat yang menciptakan manusia. Subuh di awal hari, Dzuhur di tengah kesibukan, Ashar menjelang sore, Maghrib saat matahari terbenam, dan Isya sebelum tidur—semuanya tersebar merata, membentuk ritme transendensi yang menjaga keseimbangan jiwa sepanjang hari.

Manusia modern yang mengalami burnout biasanya adalah mereaka yang bekerja tanpa jeda, tanpa momen untuk "naik" dan melihat kehidupan dari perspektif yang lebih tinggi. Mereka tenggelam dalam kesibukan horizontal tanpa pernah mengalami vertikalitas spiritual. Lima waktu sholat memaksa kita untuk berhenti—lima kali sehari—dan mengalami transendensi.

Pencegah Kekacauan

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)

Sebagian besar kekacauan dunia bermula dari manusia yang terjebak dalam ego: keserakahan, ketamakan, amarah, dendam. Semua itu adalah penyakit jiwa yang gagal bertransendensi, yang terkurung dalam penjara self tanpa pernah naik ke level yang lebih tinggi.

Sholat, jika dilakukan dengan khusyuk, adalah terapi transendensi yang mencegah penyakit-penyakit itu. Lima kali sehari, seorang mukmin diingatkan bahwa ia bukan pusat semesta. Lima kali sehari, ia mengalami bahwa ada Yang lebih besar dari dirinya. Dan pengalaman itu, jika konsisten, akan membentuk karakter yang rendah hati, tenang, dan tidak mudah dikuasai nafsu.

Kembali ke Fitrah

Di tengah dunia yang semakin bising dan kacau, pesan Isra Mi'raj terasa semakin relevan.

Maslow membutuhkan waktu puluhan tahun riset untuk sampai pada kesimpulan bahwa manusia butuh transendensi. Islam telah mengajarkannya sejak malam Isra Mi'raj. Psikologi modern baru mulai berbicara tentang peak experiences sebagai kunci kesehatan jiwa. Islam telah menyediakan lima peak experiences setiap hari melalui sholat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)

Hayatan thayyibah—kehidupan yang baik—bukan kehidupan tanpa masalah. Ia adalah kehidupan yang memiliki akses pada transendensi, yang tidak tenggelam dalam kekacauan horizontal dunia karena selalu punya jalan untuk "naik."

Maka, ketika dunia terasa terlalu berat, ketika berita-berita buruk membanjiri layar, ketika kecemasan mulai menggerogoti—ingatlah bahwa kita punya mi'raj kita sendiri. Ia tersedia lima kali sehari, di mana pun kita berada. Ia adalah tombol reset, tempat curhat, dan—yang terpenting—jalan transendensi yang akan membawa kita melampaui semua beban duniawi.

Bentangkan sajadah. Hadapkan wajah ke kiblat. Ucapkan Allahu Akbar.

Biarkan jiwa ber-mi'raj, mengalami transendensi, menuju kedekatan dengan Dzat yang paling memahaminya.

Posting Komentar untuk "Sholat: Jalan transendensi di tengah dunia yang kacau"