Setahun Anwar Hafid: Populisme kekuasaan dan janji negara yang kembali hadir di Sulawesi Tengah - MENGGAPAI ASA

Setahun Anwar Hafid: Populisme kekuasaan dan janji negara yang kembali hadir di Sulawesi Tengah

Setahun Anwar Hafid: Populisme kekuasaan dan janji negara yang kembali hadir di Sulawesi Tengah

menggapaiasa.com Di Sulawesi Tengah, satu tahun pertama kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid dibaca bukan sekadar sebagai periode administratif, melainkan sebagai fase penegasan arah. Di tengah keterbatasan fiskal, tekanan birokrasi, dan bayang-bayang kontestasi politik berikutnya, Anwar memilih jalur yang jelas: mendekat ke rakyat, cepat terasa, dan mudah dipahami.

Pendekatan itu membuat kepemimpinannya kerap disebut populis—bukan dalam makna retoris semata, tetapi dalam bentuk kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dari pendidikan hingga kesehatan, negara ditampilkan kembali sebagai aktor utama, bukan penonton yang berjarak.

Pengamat Politik Universitas Tadulako, Nuralam, melihat pola tersebut sebagai konsistensi dari janji politik Anwar sejak awal menjabat. Ia menilai, sembilan program unggulan BERANI bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan yang sengaja dirancang agar cepat menghasilkan dampak sosial.

“Setelah hampir satu tahun, kepemimpinan Anwar Hafid terlihat semakin populis,” kata Nuralam. Menurutnya, fokus itu tak lepas dari upaya memenuhi komitmen politik di tengah kondisi keuangan daerah yang ketat serta atmosfer birokrasi yang menuntut penyesuaian cepat.

Namun populisme yang dimaksud Nuralam bukanlah politik pencitraan kosong. Ia menemukan dua program yang paling menonjol dan terasa nyata di masyarakat: BERANI Cerdas dan BERANI Sehat—dua sektor yang selama ini menjadi titik lemah sekaligus harapan warga Sulawesi Tengah.

Melalui BERANI Cerdas, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bergerak melampaui batas administratif daerah. Anwar Hafid membuka kolaborasi dengan seluruh perguruan tinggi di wilayahnya, bahkan menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan nasional seperti Institut Teknologi Bandung.

Langkah itu dipahami sebagai investasi jangka panjang: meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan. Dalam logika ini, pendidikan tidak lagi diposisikan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai strategi bertahan dan tumbuh di tengah persaingan antarwilayah.

Sementara di sektor kesehatan, BERANI Sehat menghadirkan simbol paling kuat dari negara yang hadir. Layanan kesehatan gratis cukup dengan KTP menjadi kebijakan yang mengubah relasi warga dengan pemerintah—dari pemohon menjadi pemilik hak.

Bagi banyak warga, kebijakan ini bukan sekadar soal penghematan biaya, tetapi tentang rasa aman. Negara, untuk pertama kalinya bagi sebagian masyarakat pedesaan dan kelompok rentan, benar-benar terasa berada di sisi mereka saat sakit datang tanpa peringatan.

“Dari sembilan program BERANI, yang paling mencuat ke permukaan adalah BERANI Cerdas dan BERANI Sehat,” ujar Nuralam. Dua program itu, menurutnya, menjadi wajah publik kepemimpinan Anwar Hafid dalam tahun pertamanya.

Di luar kebijakan sektoral, Anwar juga mulai menata ulang struktur pemerintahan. Penyusunan komposisi baru birokrasi dipandang sebagai sinyal penting: arah pemerintahan hendak dibuat lebih efektif, adaptif, dan sejalan dengan visi politiknya.

Langkah ini, meski belum sepenuhnya teruji hasilnya, menunjukkan kesadaran bahwa kebijakan populis membutuhkan mesin birokrasi yang mampu bergerak cepat. Tanpa itu, janji politik mudah terperangkap di meja rapat dan dokumen perencanaan.

Anwar Hafid juga aktif membangun jejaring strategis, baik di internal Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah maupun dengan lembaga nonstruktural. Relasi ini mencerminkan gaya kepemimpinan kolaboratif, yang memahami kekuasaan tidak bekerja dalam ruang hampa.

Dalam lanskap politik lokal yang kompleks, pendekatan berjejaring ini menjadi modal penting. Ia tidak hanya memperkuat legitimasi kebijakan, tetapi juga membuka ruang dukungan lintas aktor dalam menjaga keberlanjutan program-program prioritas.

Bagi Nuralam, satu tahun pertama ini memang masih berada pada fase proses berjalan yang sulit diukur secara final. Namun satu hal sudah terlihat jelas: Anwar Hafid sedang membangun narasi kepemimpinan yang menempatkan negara kembali di tengah rakyat—sebuah pilihan politik yang akan terus diuji oleh waktu, krisis, dan pertarungan kekuasaan berikutnya.***

Posting Komentar untuk "Setahun Anwar Hafid: Populisme kekuasaan dan janji negara yang kembali hadir di Sulawesi Tengah"