Pemkab Bangka Selatan fokus perbaiki pH tanah di lahan sawah Desa Rias - MENGGAPAI ASA

Pemkab Bangka Selatan fokus perbaiki pH tanah di lahan sawah Desa Rias

Pemkab Bangka Selatan fokus perbaiki pH tanah di lahan sawah Desa Rias

TOBOALI, BABEL NEWS - Kondisi tanah yang makin asam di sejumlah titik persawahan Desa Rias, Kecamatan Toboali, menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.

Hal ini menyusul adanya potensi penurunan produktivitas hingga risiko gagal panen yang dapat merugikan petani.

Tingginya tingkat keasaman tanah dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian, meski bukan satu-satunya penyebab terjadinya penurunan hasil panen.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, mengatakan, kemasaman tanah di persawahan Desa Rias dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan.

Salah satu faktor utama yang perlu ditelusuri lebih lanjut adalah kondisi air irigasi yang digunakan petani, termasuk tingkat keasaman atau pH air tersebut.

Selain faktor air, sumber kemasaman juga bisa berasal dari kondisi tanah.

“Pada prinsipnya kita harus melakukan pengukuran pH tanah. Dengan begitu, kita bisa mengetahui bahwa memang tanah itu asam atau tidak,” kata Risvandika kepada Bangka Pos, Jumat (2/1/2026).

Ia menambahkan, pengukuran pH tanah menjadi langkah awal yang penting untuk menentukan penanganan yang tepat.

Pengukuran dilakukan menggunakan pH meter agar diketahui secara pasti apakah tanah tergolong asam atau masih berada dalam kondisi normal.

Idealnya, tanah pertanian berada pada pH netral sekitar 7, karena pada kondisi tersebut nutrisi dan unsur hara dapat diserap tanaman dengan baik.

Risvandika mengungkapkan, di Desa Rias terdapat beberapa titik persawahan yang tingkat keasamannya perlu didalami lebih lanjut.

Pemerintah daerah akan menelusuri apakah sumber keasaman berasal dari aliran air atau dari karakter tanah.

Penanganan yang dilakukan nantinya akan disesuaikan dengan penyebab utama kemasaman tersebut.

Jika sumber keasaman berasal dari air, maka akan diatasi dari sisi pengaturan irigasi. 

“Namun, jika kemasaman murni dari tanah, maka kita lakukan pengapuran, penggunaan pupuk kandang, serta pengelolaan air agar keasaman bisa hanyut dan lahan bisa ditanami kembali,” ujar Risvandika.

Selama ini, lanjut dia, pendataan pH tanah telah dilakukan setiap musim pengolahan lahan sawah oleh penyuluh pertanian.

Namun, diakuinya, uji sampel yang dilakukan belum sepenuhnya mewakili seluruh lahan persawahan milik petani di Desa Rias.

Terdapat dua wilayah yang rutin dilakukan uji sampel, yakni area persawahan Sp A dan Sp B serta wilayah Sp C atau lahan usaha dua.

Hasil uji menunjukkan perbedaan tingkat keasaman yang cukup signifikan antarwilayah.

Untuk lahan usaha dua atau Sp C, tingkat keasaman tanah tergolong sangat ekstrem dengan pH di bawah 5.

Sementara itu, area Sp A dan Sp B yang lebih sering diolah menunjukkan kondisi pH yang relatif lebih baik, yakni di atas 6. 

Untuk wilayah Sp A dan Sp B tinggal diperlukan instrumen atau perlakuan sedikit lagi untuk memperbaiki pH tanah menjadi netral.

“Memang, untuk Sp A dan Sp B diperlukan instrumen untuk memperbaiki pH tanah menjadi normal atau netral,” ucap Risvandika.

Sebagai bentuk dukungan, kata Risvandika, pemerintah pusat melalui program optimalisasi lahan telah menyalurkan bantuan kapur dolomit untuk mengurangi keasaman tanah.

Saat ini, bantuan yang diberikan mencapai 250 kilogram dolomit untuk setiap hektare lahan sawah.

Mengenai potensi gagal panen, Risvandika menegaskan, kemasaman tanah bukan satu-satunya faktor penyebab.

Ada banyak variabel lain yang turut memengaruhi hasil produksi, mulai dari cuaca, serangan hama, hingga teknik budi daya. 

Hingga kini, pihaknya belum melakukan pendataan khusus terkait perbandingan hasil produksi antara lahan dengan pH tinggi dan pH normal.

Namun, setiap musim panen tetap dilakukan penilaian terhadap jumlah produksi sebagai indikator produktivitas.

Hasil penilaian produksi tersebut, lanjut Risvandika, pemerintah daerah dapat melihat gambaran umum produktivitas sawah di Desa Rias.

Selain itu akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun program lanjutan guna meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Desa Rias.

Saat ini, rata-rata hasil panen di wilayah desa tersebut masih berada pada kisaran 5 hingga 6 ton per hektare.

“Rata-rata hasil panen di Desa Rias bisa mencapai lima sampai enam ton. Jika hasilnya di bawah itu, akan kita kaji ulang apa penyebab produktivitas bisa turun,” tuturnya. 

Risvandika menyebutkan, tidak semua sawah di Desa Rias menghasilkan panen yang sempurna.

Oleh karena itu, faktor produksi akan terus dijadikan indikator utama dalam menyusun program lanjutan untuk pengembangan produktivitas petani di daerah tersebut.

“Faktor produksi ini yang akan kita lihat sebagai indikator untuk menyusun program pengembangan produktivitas petani ke depan,” kata Risvandika. (u1)

Posting Komentar untuk "Pemkab Bangka Selatan fokus perbaiki pH tanah di lahan sawah Desa Rias"