Palagan Ambarawa membuktikan, tentara sekutu bisa dikalahkan juga - MENGGAPAI ASA

Palagan Ambarawa membuktikan, tentara sekutu bisa dikalahkan juga

Dalam Palagan Ambarawa, pejuang Republik Indonesia dengan gagah berani mengalahkan tentara Sekutu yang membonceng Belanda.

Diolah dari artikel di Majalah BOBO berjudul "Sorak Kemanangan Palagan Ambarawa"

---

menggapaiasa.comhadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

--- 

menggapaiasa.comOnline.com -Monumen Palagan Ambarawa berdiri tegak di tengah kesejukan kota Ambarawa, Jawa Tengah. Monumen ini didirikan untuk memperingati pertempuran Ambarawa, Palagan Ambarawa. Pertempuran antara pejuang kemerdekaan Indonesia melawan pasukan Sekutu di akhir tahun 1945. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan orang-orang Republik.

Palagan Ambarawa. Kata palagan berasal dari kata pa-laga-an. Pa berarti perang. Jadi palagan berarti pertempuran. 

Pertempuran Ambarawa terjadi antara 20 November 1945 sampai dengan 15 Desember 1945. Pertempuran ini merupakan lanjutan usaha pejuang Republik untuk menghalau tentara pendudukan Sekutu yang bergeser dari pertempuran Magelang. Pertempuran Magelang dimulai pada dini hari 31 Oktober 1945. 

Mengapa terjadi pertempuran ini? Bukankah tentara Sekutu datang ke Indonesia untuk melucuti Jepang? Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang cinta damai? Jawabnya, ya, kita cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan.

Maksud Tersembunyi Sekutu

Kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia ternyata membonceng Belanda. Maksud Belanda adalah untuk menjajah kembali Indonesia. Usaha Belanda ternyata mendapat bantuan tentara Sekutu. Belanda adalah sahabat Sekutu dalam perang melawan Jepang. 

Rakyat Indonesia tentu tidak mau dijajah lagi. Keadaan bertambah genting dengan adanya hasutan Sekutu pada tentara Jepang. Menurut Sekutu, banyak orang Jepang yang dibunuh rakyat Magelang. Akibatnya, Jepang membalas dendam dan menembaki rakyat, tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak yang tak bersalah. Kemarahan rakyat memuncak. Kita bangkit dan mulailah pertempuran Magelang.

Pertempuran Pindah ke Ambarawa

pejuang Republik melawan dengan gagah berani. Sesudah terjadi pertempuran berhari-hari di Magelang, pasukan Sekutu mulai terdesak. 

Pada 21 November 1945 mereka mundur ke Ambarawa dan membuat pertahanan di sana. Pasukan Republik pantang menyerah. Mereka mengejar pasukan Sekutu hingga ke Ambarawa dan terjadilah pertempuran Ambarawa. 

Pesawat terbang Sekutu melayang-layang di udara Ambarawa sambil menyebarkan peluru maut. Dalam serangan udara ini, Let. Kol. Isdiman gugur terkena peluru musuh. Hal ini tidak melemahkan semangat perjuangan rakyat. Gatot Subroto segera menggantikan Let. Kol. Isdiman dan memimpin pasukan meneruskan perjuangan.

Sementara itu pejuang Republik dari kota lain terus memasuki Ambarawa untuk memberikan bantuan. Mereka datang dengan berjalan kaki. Jenderal Soedirman yang waktu itu berpangkat kolonel juga datang ke Ambarawa dan memimpin langsung pertempuran. 

Untuk menghadapi Sekutu, pejuang Republik menjalankan taktik perang Supit Urang. Musuh diserang dari kiri kanan dan dijepit ke satu tempat. Akibatnya, Sekutu mulai terdesak. Serangan kita dipergencar. Satu per satu kubu pertahanan Sekutu berhasil kita rebut. Sekutu tak bisa bertahan lagi dan 15 Desember 1945 menyerah kalah.

Pertempuran berakhir dengan kemenangan yang gilang gemilang untuk Republik. Karena itulah, tanggal 15 Desember ditetapkan sebagai Hari Infanteri Angkatan Darat. Infanteri artinya pasukan yang berjalan kaki. Pada hari Infanteri ke 29, tepatnya 15 Desember 1974 diresmikan Monumen Palagan Ambarawa.

Lambang Hari Proklamasi Kemerdekaan

Monumen Palagan Ambarawa berbentuk dua tugu yang tegak menjulang di atas sebuah altar. Kedua ini berjarak, seolah-olah sebuah pintu gerbang. Tinggi tugu 17 meter, melambangkan tanggal 17. Jarak antara dua tugu 8 desimeter, melambangkan bulan 8. Panjang monumen seluruhnya 45 meter, melambangkan (19)45, tahun proklamasi negara kita. Jadi seluruhnya melambangkan tanggal 17, bulan 8, tahun 1945, hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Di sebelah altar berdiri patung Jenderal Soedirman dan di sebelah kiri altar terdapat patung Jenderal Gatot Subroto. Di antara patung keduanya adalah sekelompok patung lain. Kelompok patung ini menggambarkan Let. Kol. Isdiman yang mengangkat bendera kemenangan di tangan kanan dan tangan kirinya memegang pedang. Di sampingnya ada dua patung prajurit yang siap dengan senjata masing-masing.

Semua patung ini mengandung lambang tertentu. Patung Pak Dirman melambangkan keteguhan dan ketabahan menghadapi tantangan dan kesulitan dalam mengabdikan diri sebagai prajurit. Patung Pak Gatot Subroto melambangkan kekerasan hati, keberanian yang dilandasi kebijaksanaan dalam melaksanakan tugas-tugas negara. Kelompok patung melambangkan kesiapsiagaan dalam mempertahankan negara.

Dalam kompleks Monumen Palagan Ambarawa, terdapat dua museum: Museum Isdiman dan Museum Terbuka. 

Dalam Museum Isdiman diperlihatkan berbagai senjata yang digunakan dalam pertempuran Ambarawa. Antara lain terdapat 3 bambu runcing dan dua dinamit kaleng. Dinamit kaleng adalah alat peledak yang sederhana. Penggunaannya adalah dengan ditumbukkan ke tank.

Di museum Terbuka diperlihatkan alat-alat yang digunakan pasukan kita maupun musuh yang tidak dapat dimasukkan ke dalam Museum Isdiman. Antara lain terdapat pesawat terbang jenis Moestang (cocor merah) yang digunakan Sekutu untuk menyerang pasukan kita dalam pertempuran Ambarawa. Juga terdapat lokomotif yang pernah digunakan untuk mengangkut pasukan kita dari Magelang ke Ambarawa. Berbagai meriam dan dua truk hasil rampasan dari Jepang turut menghias museum ini.

Posting Komentar untuk "Palagan Ambarawa membuktikan, tentara sekutu bisa dikalahkan juga"