Hasil kajian Yayasan Tarsius Centre: Perairan Desa Lassar jadi habitat penting bagi dugong

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS – Implementator program Solutions for Integrated Land-and-Seascape Management in Indonesia (Solusi), Yayasan Tarsius Centre, menyerahkan dokumen kajian kepada tiga desa di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (21/1/2026).
Tiga desa yang dimaksud adalah Juru Seberang, Lassar, dan Perpat.
Program Solusi sendiri merupakan kemitraan antara Indonesia (Bappenas) dengan Jerman (BMUKN-IKI) yang diimplementasikan oleh konsorsium GIZ, ICRAF, Yayasan KEHATI dan SNV.
Ketua Yayasan Tarsius Centre, Budi Setiawan, mengatakan, penyerahan dokumen kajian tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan perencanaan pembangunan desa berbasis potensi lingkungan dan pariwisata berkelanjutan.
“Hari ini kami menyerahkan dokumen kajian ekowisata di tiga desa, termasuk dokumen intervensi khusus yang disesuaikan dengan karakter dan persoalan masing-masing desa,” ujar Budi kepada Pos Belitung, Rabu (21/1/2026).
Ia menyampaikan, kajian untuk Desa Lassar diarahkan pada penguatan potensi wisata bahari dan keanekaragaman hayati.
Meski selama ini tidak masuk dalam koridor utama pengembangan pariwisata, wilayah Desa Lassar memiliki sejumlah pulau yang kerap dikunjungi wisatawan.
“Ketika kami petakan, biodiversitasnya luar biasa. Di sana ada duyung atau dugong, yang secara nasional masuk dalam rencana aksi konservasi, tetapi Bangka Belitung belum pernah masuk karena belum punya perencanaan detail,” kata Budi.
Dia menambahkan, keberadaan padang lamun yang masih sehat di perairan Desa Lassar menjadi habitat penting bagi dugong yang merupakan hewan langka.
Selain itu, perairan Desa Lassar juga penting untuk menjadi tempat pemijahan ikan sehingga mendukung potensi ekonomi masyarakat yang selama ini belum dimaksimalkan.
Isu pengelolaan sampah
Sementara itu, Desa Juru Seberang menerima dokumen kajian yang difokuskan pada isu pengelolaan sampah dan ekowisata.
Hal ini karena desa tersebut memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) dan letaknya berdekatan dengan kawasan perkotaan Tanjungpandan serta pesisir Tanjung Pendam.
“Isu sampah, terutama sampah laut atau marine debris, itu isu global. Harapannya, Juru Seberang bisa menjadi percontohan pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat hingga pengelolaan TPA tanpa sistem open dumping,” tutur Budi.
Selain itu, Juru Seberang juga memiliki tiga pulau, yakni Kalimuak, Kalimambang, dan Lutbulu.
Budi menilai, masyarakat setempat perlu bersiap menghadapi perkembangan pariwisata agar tidak hanya menjadi penonton.
Potensi geowisata
Adapun untuk Desa Perpat, kajian menitikberatkan pada potensi geowisata.
Desa tersebut memiliki bentang alam berupa perbukitan dan air terjun, namun saat ini pengelolaannya dinilai masih belum optimal.
“Bukan tidak punya potensi, tetapi persoalannya ada pada tata kelola dan belum adanya business plan yang jelas,” kata Budi.
Melalui dokumen kajian tersebut, Yayasan Tarsius Centre mendorong desa-desa memiliki master plan sebagai fondasi pembangunan sehingga arah kebijakan tidak berubah-ubah dan memiliki panduan yang jelas.
“Sering kali kegagalan bukan karena desa tidak bekerja, tetapi karena tidak punya pedoman. Dokumen ini kami harapkan menjadi rujukan pembangunan desa ke depan,” ujar Budi. (dol)
Posting Komentar untuk "Hasil kajian Yayasan Tarsius Centre: Perairan Desa Lassar jadi habitat penting bagi dugong"
Posting Komentar