Dwi Sasta Kanaya, founder Aku Belajar Menyalakan Harapan Lewat Pendidikan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Dwi-Sasta-KanayaPENDIDIKAN.jpg)
menggapaiasa.com, PONTIANAK - Dwi Sasta Kanaya merupakan sosok pendidik, penyiar, dan penggerak pemberdayaan pemuda yang konsisten berkontribusi di bidang pendidikan, kewirausahaan, dan pengembangan komunitas, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Ia menempuh pendidikan Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura, kemudian memperluas wawasan global melalui Program Business Administration & Entrepreneurship di Houston Community College, Texas, Amerika Serikat.
Latar belakang pendidikan ini menjadi fondasi kuat dalam kiprahnya sebagai pengajar, mentor wirausaha, serta fasilitator berbagai program pendidikan dan sosial.
Minat besarnya terhadap literasi dengan membaca sebagai hobiserta kepeduliannya pada akses pendidikan yang setara, mendorong Dwi untuk terlibat langsung dalam pengembangan komunitas, khususnya di wilayah marginal, terpencil, dan perbatasan Kalimantan Barat.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanannya adalah keterlibatannya dalam merintis Non-Profit Organization (NPO) Aku Belajar bersama rekan-rekannya.
Organisasi ini berawal dari sebuah komunitas English Club di Kota Pontianak yang bernama EXCELLENCE English Club, beranggotakan alumni program Pertukaran Pemuda Antar Negara dan anak-anak muda Pontianak.
Seiring waktu, komunitas tersebut berkembang menjadi sebuah gerakan belajar gratis yang resmi berjalan sejak tahun 2013.
“NPO Aku Belajar lahir dari sebuah English club bernama EXCELLENCE English Club. Waktu itu klub kami beranggotakan alumni-alumni program Pertukaran Pemuda Antar Negara dan anak muda Kota Pontianak,” ungkapnya.
Komitmen Dwi dan rekan-rekannya terhadap pendidikan semakin menguat melalui sebuah peristiwa sederhana namun membekas di ruang kelas. Dalam salah satu kegiatan E-Teaching, para relawan mengajarkan materi tentang cita-cita dan meminta anak-anak menuliskan impian mereka di selembar kertas beserta alasannya.
“Ini sebenarnya dari kegiatan terakhir E-Teaching kami. Anak-anak diminta menuliskan cita-cita mereka dan mengapa menuliskan cita-cita itu,” tuturnya.
Salah satu murid bernama Hamidah menuliskan cita-citanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Namun menjelang kelas berakhir, Hamidah kembali menghampiri para pengajar dan meminta kertasnya untuk diubah.
“Hamidah meminta mengganti cita-citanya dari ibu rumah tangga menjadi pembantu rumah tangga. Kami terkejut,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik refleksi mendalam sekaligus penguat tekad. Dwi dan rekan-rekannya menyadari bahwa keterbatasan akses pendidikan turut membatasi cara anak-anak memandang masa depan mereka.
Dari sanalah komitmen untuk melanjutkan dan memperluas gerakan belajar gratis semakin menguat.
“Dari sinilah, kami 11 orang founder berkomitmen untuk melanjutkan gerakan ini ke daerah-daerah marjinal lainnya di Kota Pontianak,” ujarnya.
Sejak tahun 2013, program Aku Belajar telah hadir dan berjalan berkelanjutan di berbagai wilayah, antara lain Sungai Selamat (2 tahun), Batu Layang (3 tahun), Tambelan Sampit (2 tahun), TPI (2 tahun), Jeruju Besar (3 tahun), hingga saat ini terus berlangsung di Sungai Jawi Luar.
Selain itu, Dwi juga terlibat dalam pembangunan perpustakaan mini di daerah terpencil dan wilayah perbatasan Kalimantan Barat, serta pengembangan program pembelajaran dan pelatihan bahasa, baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia.
Dwi Sasta Kanaya telah menerima berbagai penghargaan dan pengakuan, di antaranya Penerima Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) DIKTI, Juara II Kompetisi Penyiaran LPP RRI Kalimantan Barat, Finalis Nasional Technopreneurship Pemuda Kemenristek, Pemuda Pelopor Kota Pontianak dan Kalimantan Barat, serta Penghargaan Perempuan Berjasa dan Berprestasi OASE Kabinet Indonesia Maju.
Ia juga terpilih sebagai Duta Pemuda Indonesia dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia–Malaysia serta penerima hibah Community College Initiative dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Melalui seluruh peran dan pengalamannya, Dwi Sasta Kanaya terus meneguhkan komitmen bahwa pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar, melainkan jalan untuk memperluas harapan, membangun mimpi, dan menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Di balik berbagai aktivitas dan peran yang dijalani, Dwi mengakui tantangan terberat sebagai perempuan justru datang dari ekspektasi, baik dari orang lain maupun dari dirinya sendiri.
“Kebanyakan perempuan aktif itu sering diharapkan untuk selalu bisa, tetap unggul, tetap rendah hati, tetap hadir untuk keluarga dan tetap kuat secara emosional, itu yang kadang melelahkan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan adanya rasa bersalah ketika memilih untuk beristirahat atau berkata tidak.
“Waktu aku merasa harus istirahat, menolak tanggung jawab, atau berkata ‘tidak’, sering muncul perasaan seolah aku egois, padahal itu bagian dari menjaga kesehatan mental aku,” katanya.
Dwi tidak menampik pernah berada di titik kelelahan hingga ingin menyerah. “Iya, aku pernah merasa ingin menyerah, tepatnya waktu akumulasi kelelahan fisik, mental, dan emosional,” ungkapnya.
Namun, ia memilih bertahan dengan mengingat alasan awal memulai. “Aku sadar bahwa setiap langkah yang aku jalani bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang harapan, tanggung jawab, dan dampak yang ingin aku berikan.
Aku ingin membuktikan bahwa perempuan bisa bertahan, tumbuh, dan tetap bermakna meski menghadapi tantangan,” tambahnya.
Dukungan orang-orang terdekat menjadi penguat ketika ia hampir menyerah.
“Mereka mengingatkanku bahwa beristirahat itu boleh, tapi berhenti bukan satu-satunya pilihan. Yang paling penting aku belajar bahwa menyerah bukan berarti gagal tapi bertahan adalah bentuk keberanian. Selama aku masih mau belajar dan melangkah, sekecil apa pun itu sudah cukup untuk terus maju,” jelas Dwi.
Dalam kesempatan tersebut,Dwi juga menyoroti hal-hal yang dibutuhkan perempuan Indonesia agar lebih berdaya, mulai dari pendidikan yang berkualitas, ruang untuk bersuara, kesetaraan kesempatan, hingga kepercayaan diri dan dukungan emosional. Ia menyampaikan pesan bagi perempuan muda yang sedang ragu pada dirinya sendiri.
“Keraguan itu bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu sedang bertumbuh. Kamu tidak harus sempurna untuk layak melangkah. Cukup berani mencoba satu langkah kecil hari ini, itu sudah sangat berarti,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar perempuan tidak membandingkan proses hidupnya dengan orang lain.
“Setiap perempuan punya waktunya sendiri. Pelan-pelan tidak apa-apa, jatuh juga tidak apa-apa, yang penting kamu tidak berhenti mempercayai nilai dirimu. Dunia tidak membutuhkan versi sempurnamu, dunia membutuhkan versi jujur dan beranimu,” pungkasnya.
biofile:
Nama: Dwi Sasta Kanaya
Hobi : Baca
Warna Kesukaan: Hitam
Riwayat Pendidikan:
• S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura
• Program Bussiness Administration & Enterprenurehip di Houston Community College, Texas, Amerika Serikat.
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
Posting Komentar untuk "Dwi Sasta Kanaya, founder Aku Belajar Menyalakan Harapan Lewat Pendidikan"
Posting Komentar