Dari sawah ke langit: Nostalgia di tengah sawah, layang-layang yang bikin rindu

Suara Flores - Wisata bermain layang-layang di sawah kini menjadi alternatif rekreasi murah meriah yang kembali digemari masyarakat. Tradisi lama ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang nostalgia, edukasi, hingga peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Sawah Jadi Lapangan Rekreasi Rakyat
Menjelang libur panjang awal tahun, sejumlah kawasan persawahan di Jawa Timur dan Jawa Tengah ramai dipadati warga yang memilih menghabiskan waktu dengan menerbangkan layang-layang. Di Pasuruan, misalnya, pematang sawah di Jalan Erlangga, Kecamatan Purworejo, menjadi arena spontan bagi puluhan anak dan orang tua. Mereka memanfaatkan hembusan angin dan hamparan sawah terbuka sebagai ruang bermain bersama keluarga.
Sugeng, seorang warga Kebonagung, mengaku sengaja membawa anaknya untuk bermain layang-layang ketimbang pergi ke tempat wisata berbayar. “Saya ingin mengedukasi anak supaya tidak terus bermain handphone,” ujarnya. Aktivitas ini berlangsung sejak siang hingga menjelang magrib, menghadirkan suasana yang akrab dan penuh canda.
Fenomena serupa juga terlihat di Desa Tigajuru, Jepara. Saat musim kemarau, sawah yang mengering menjadi lapangan ideal untuk menerbangkan layang-layang. Langit senja berhiaskan warna-warni layangan menghadirkan panorama yang memikat, sekaligus menghidupkan kembali tradisi lama yang hampir terlupakan.
Tradisi dan Komunitas
Di Malang, Sawah Kotak Sekarpuro dikenal sebagai “surga layang-layang”. Setiap sore, kawasan ini dipenuhi anak-anak dan pencinta layangan dari berbagai usia. Tradisi bermain layang-layang di sana sudah berlangsung lama, bahkan melahirkan komunitas yang rutin mengadakan lomba kecil.
Pedagang lokal pun ikut meramaikan suasana. Ira, salah satu penjual layangan, mengaku sudah berjualan sejak 2023. “Harga layangan bervariasi, mulai Rp5 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung ukuran dan motif,” katanya. Kehadiran pedagang ini menambah nuansa pasar rakyat, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Harga dan Aksesibilitas
Salah satu daya tarik wisata layang-layang di sawah adalah biaya yang sangat terjangkau. Tidak ada tiket masuk resmi, karena aktivitas berlangsung di ruang terbuka milik masyarakat. Pengunjung hanya perlu membeli layangan yang harganya relatif murah.
- Layang-layang kecil untuk anak-anak biasanya dijual Rp5 ribu–Rp10 ribu.
- Layang-layang sedang dengan motif sederhana berkisar Rp15 ribu.
- Layang-layang besar atau bermotif unik bisa mencapai Rp25 ribu–Rp50 ribu.
Selain itu, benang atau kenur dijual mulai Rp2 ribu per gulung. Dengan modal kurang dari Rp20 ribu, sebuah keluarga sudah bisa menikmati rekreasi seharian penuh.
Nilai Edukatif dan Sosial
Bermain layang-layang di sawah bukan sekadar hiburan. Aktivitas ini memiliki nilai edukatif bagi anak-anak, terutama dalam melatih motorik, kesabaran, dan kerja sama. Anak belajar mengendalikan arah angin, mengatur tarikan benang, serta menjaga keseimbangan layangan agar tetap terbang.
Dari sisi sosial, kegiatan ini mempererat hubungan antarwarga. Sawah yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang interaksi, tempat orang tua bercengkerama sambil mengawasi anak-anak. Tradisi ini juga menjadi sarana nostalgia bagi generasi yang tumbuh di era sebelum gawai mendominasi.
Tantangan dan Harapan
Meski menyenangkan, aktivitas bermain layang-layang di sawah juga menghadapi tantangan. Beberapa petani mengeluhkan benang layangan yang kadang merusak tanaman muda. Di Malang, Satpol PP bahkan sempat mengimbau agar pemain layangan lebih berhati-hati agar tidak merusak ladang.
Warga berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih, misalnya dengan menyediakan lapangan khusus atau menggelar festival layang-layang secara rutin. Dengan begitu, tradisi ini bisa tetap hidup tanpa mengganggu aktivitas pertanian.
Potensi Wisata Lokal
Fenomena ini menunjukkan bahwa wisata tidak selalu identik dengan destinasi besar atau tiket mahal. Wisata layang-layang di sawah adalah contoh rekreasi berbasis komunitas yang murah, inklusif, dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, kegiatan ini bisa menjadi daya tarik wisata lokal yang unik.
Bayangkan sebuah festival layang-layang di sawah, lengkap dengan lomba kreatif, bazar kuliner desa, hingga pertunjukan seni tradisional. Selain menghidupkan ekonomi warga, acara semacam itu juga memperkuat identitas budaya daerah.
Wisata bermain layang-layang di sawah adalah potret sederhana tentang bagaimana masyarakat menemukan kebahagiaan di ruang terbuka. Dengan biaya murah, nilai edukatif, dan nuansa kebersamaan, tradisi ini layak dipertahankan. Tantangan memang ada, tetapi dengan perhatian pemerintah dan kesadaran warga, aktivitas ini bisa berkembang menjadi ikon wisata lokal yang membumi.
Di tengah gempuran wisata modern, layang-layang di sawah mengingatkan kita bahwa kebahagiaan kadang sesederhana menatap langit biru, menarik benang, dan melihat layangan menari di udara.
Penulis : Malik Hasim
Posting Komentar untuk "Dari sawah ke langit: Nostalgia di tengah sawah, layang-layang yang bikin rindu"
Posting Komentar